Tahu, Setuju, Berlaku.


Aku pernah berdiskusi dengan seorang teman tentang mengapa seseorang bisa tertular kebiasaan merokok dari lingkungan pergaulannya.

“Karena menurut mereka, merokok itu keren. Merokok menjadi sesuatu yang luar biasa.”

“Bukan Fah, menurutku, justru mereka ikutan karena merokok bagi mereka adalah hal yang biasa. Tidak merokok menjadi hal yang tidak biasa.”

Aku mengangguk saat itu. Sebagian diriku menyetujui perkataan temanku. Sebagian diriku yang lain berpendapat bahwa bisa saja ada alasan lain yang menjadi penyebabnya. Terlepas dari itu, alasan yang dikemukakan temanku dapat diterima.

Ada memang orang yang ikut melakukan sesuatu karena mayoritas orang-orang di sekitarnya melakukan hal tersebut. Supaya dia tidak dianggap aneh. Supaya dia bisa berbaur dengan nyaman. Lalu, dalam merokok misalnya, efek adiksi rokok membuat orang itu tergantung dengan keberadaan rokok meskipun ia sendiri tidak sedang berada di antara orang-orang yang merokok. Rokok menjadi bagian dari hidupnya. Maka sulitlah baginya melepaskan diri dari rokok, kecuali dengan tekad yang kuat.

Memulai melakukan sesuatu tanpa didasari ilmu yang benar memang bisa menjadi hal yang tidak baik bagi kita.

Bisa saja seseorang yang berada di lingkungan para perokok, karena tuntutan pekerjaan misalnya, tidak terpengaruh untuk juga ikut merokok karena dia tahu rokok mengandung berbagai zat berbahaya. Bahkan dia bisa membuat teman-temannya menghormati prinsip tersebut dengan cara yang baik. Bukan tak mungkin dia menjadi inspirasi bagi teman-temannya untuk berhenti merokok.

Ilmu memberikan kita pilihan untuk melakukan hal yang baik dan benar. Pilihan itu memang nyata. Toh ada juga orang yang tahu rokok itu berbahaya tapi tetap saja merokok, karena sikap yang ia pilih tidak bersesuaian dengan ilmu yang ia miliki. Dalam teori perilaku, ada tiga tahapan yang dapat seseorang lalui dalam melakukan sesuatu: tahu – setuju – berlaku.

Analogi ini berlaku untuk hal-hal lainnya dalam kehidupan. Misalnya, freesex yang mulai menjadi hal biasa dalam kehidupan para muda mudi. Bahkan anak SD. Bahkan anak TK. *nangis mojok*

Atau korupsi. *Contoh ekstrim*

Ah, masing-masing dari kita punya alasan masing-masing sebelum melakukan sesuatu. Aku, ingin melakukan sesuatu dengan ilmu.

Advertisements

Kabar Gembira


Periode terakhir ini (periode? haha), timeline FB dipenuhi dengan berbagai kabar gembira dari teman. Entah itu teman TK, SD, SMP, SMA, kuliah (kakak kelas dan adik kelas juga masuk golongan teman lah ya) atau teman bermain dan belajar lainnya.

Tebak apa, yap, salah satu tagline besarnya adalah pernikahan. Menurutku lumrah kok, karena kami memang sudah berkepala dua. Usia yang sudah tergolong dewasa. Bahkan, dalam Islam, sejak sudah berusia 15 tahun, kamu sudah masuk kategori dewasa. Mampu bertanggungjawab atas dirimu sendiri dan setiap tindak tanduk yang kamu perbuat. Saat mencapai usia dewasa ini, kebutuhan yang lain muncul, fitrah kok, yaitu memilih pasangan hidup untuk diikat dalam ikatan yang halal. Membentuk keluarga. Melanjutkan keturunan yang baik (hei, aku sudah punya keponakan banyak lho :D). Aku juga pernah membaca, pernikahan itu mampu mendorong produktivitas kaum laki-laki. Secara, mereka kan jadi punya tanggungan selain diri sendiri (dan ajaibnya, didasari cinta, Maha Besar Allah yang menciptakan perasaan yang kadang nggak bisa dipahami logika semata), ingin membahagiakan orang-orang yang berada di lingkaran keluarga kecilnya. Sedangkan perempuan, fitrah keibuan mereka akan teraktualisasikan yang kemudian juga memberikan dukungan emosi bagi pasangan dan anak-anak. Nggak salah kan kalau pernikahan dibilang proyek peradaban. Syarat dan ketentuan berlaku: didasari keimanan dan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya.

Nah, kalau balik ke personal masing-masing, hukum menikah itu kan tergantung kondisi. Ada yang wajib, sunnah, makruh bahkan haram. Coba buka lagi buku fiqihnya. Aku sering mengajukan pertanyaan itu pada diri sendiri dan teman-teman, “Sekarang kamu yang mana?” Kalau sudah sampai tahap wajib, sudah mempersiapkan, sudah bisa dikategorikan siap menurut standar Rasulullah, segerakan saja. Sederhana tapi memang nggak bisa ngasal sih. Kan keputusan seumur hidup. Makanya, selalu libatkan Allah 🙂 Aku sendiri juga belum ngerti banyak sih, masih belum terarahkan untuk ke sana. Aku dan ibu sepakat bahwa minimal aku harus menyelesaikan koasistensi dulu. Pertimbangan utamanya, supaya aku bisa mendidik anak-anak dengan intens. Tipikal saran seorang pendidik banget ya, hehe. Bagi ibuku yang guru, orang tua punya tanggung jawab besar dalam mendidik anak-anaknya, jadi ya harus optimal prosesnya 🙂 Pada akhirnya, kembali pada pilihan setiap orang. Kembali pada kapasitas masing-masing. Mawas diri.

Ya, kembali lagi pada kabar gembira dari teman-teman. Biasanya aku beneran bahagia menyimak cerita atau melihat-lihat foto teman-teman dengan pasangannya. Barakallah. Semoga keberkahan Allah selalu menyertai kami semua 🙂 Apalagi kalau ada yang posting foto bayi-bayi mungil, maunya keponakan-keponakan baru itu bisa ketemu dengan ‘Ammah atau Tante-nya yang berjiwa guru TK ini :3 (keluargaku sepakat kalau aku harusnya jadi dokter anak saja, tapi yaa, let’s see then). Mungkin hal-hal semacam ini memang fenomena yang sering terjadi pada manusia berkepala dua (eh, maksudnya usia dua puluhan).

Lalu tiba-tiba aku mengerti kenapa akhir-akhir ini juga di grup angkatan (terutama Line), orang-orang mulai concern dengan yang namaya pernikahan. Haha. Mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang penuh kerentanan. Secara usia sudah cukup matang, ditambah sering mendengar kabar bahwa teman sepermainannya dulu banyak yang sudah berkeluarga, tapi di sisi lain, kami masih harus menjalani proses profesi yang lumayan panjang. Tapi kalau sudah siap ada kok yang menikah, seperti beberapa kakak kelas. Yang penting bisa bertanggung jawab dengan pilihan masing-masing 🙂 Kalau sudah siap, mangga disegerakan. Kalau belum siap, tahan diri dan cobalah untuk lebih dewasa menyikapi dorongan pribadi yang mulai muncul. Kalau mau galau, galau produktif bisa lah ya :” Bukan dengan obrolan yang bikin makin galau, tapi dengan melakukan sesuatu yang membuat makin siap. Sepakat?

Ya sudah lah. Toh kalau koas sudah dimulai, nggak banyak waktu yang tersisa untuk memikirkan hal yang random bin acak.

Dan tulisan ini pun, random. Sekian.

Be strong my friends!
*ceritanya nyemangatin teman-teman seangkatan*

Nasihat Tiga Menit


“Teh, sebelum aku pergi, nasihatin dong 3 menit.”

Saya memasang mata kelinci sambil memohon pada Teteh yang berada di depan saya. Kami tengah duduk berhadapan seusai sang Teteh mendengarkan saya membaca surat yang tadinya akan saya setorkan ke ustadz.

Oh ya, saya sudah pernah cerita, kan? Atau belum, ya? Ya sudah, saya cerita dulu ya..

Begini. Alkisah, saya mengikuti program tahfizh (baca: hafalan) Al Qur’an di Masjid Habiburrahman, bertempat di dekat Bandara Husein Sastranegara. Pertama-tama, sahabat saya tercinta yang memiliki nama panjang yang memang panjang, Hadiyatussalamah Pusfa Kencanasari, mendorong saya untuk mengikuti program tahfizh di sana. “Nur, daripada kamu sering nggak jelas gitu, mending ikutan ke Habib deh. Kerasa banget, nggak stabilnya kita selama ini kebanyakan karena kita jauh dari Al Qur’an.” Saya yang waktu itu baru usai menangis karena mencapai ‘titik jenuh’ (titik jenuh adalah julukan saya bagi akumulasi segala hal yang membuat diri sendiri tertekan, haha) dan memendam keinginan untuk menggaruk dinding dengan kuku—seperti kucing, ya kira-kira begitulah—akhirnya mengangguk. Datanglah saya ke sana. Dengan bantuan seorang Teteh, saya mendaftarkan diri di Lembaga Tahfizh Qur’an Habiburrahman dan mulai resmi mengikuti program tahfizh kembali (terakhir saat SMP >_<). Sistem tahfizh di Habib lumayan berbeda dengan sistem yang pernah saya jalani di TK, SD atau SMP (dengan riwayat sekolah TKIT-SDIT-SMPIT, hehe). Di sekolah saya sebelumnya, seorang guru hanya mendengarkan satu orang murid. Nah, di LTQ Habib ini, satu orang guru mendengarkan tiga sampai enam murid. Berhubung di akhawat maupun ikhwan masing-masing hanya ada satu guru, kami harus mengantri untuk mendapatkan giliran setoran ziyadah (baca: hafalan baru) maupun muraja’ah (baca: hafalan lama). Waktu sekolah dimulai dari ba’da Isya’ sampai pagi menuju siang di keesokan harinya.

Evaluasi diri saya selama 2 tahun kuliah, sulit rasanya bila kita menghafalkan Al Qur’an murni secara mandiri. Saya pribadi menilai diri saya sangat memerlukan guru dan program yang pakem. Mengapa?

Pertama, saya tergolong orang yang harus ‘dipaksa’ keadaan. Targetan-targetan pribadi saya selama dua tahun awal kuliah—sebelum saya ikut LTQ, terbukti lebih banyak yang kena excuse. Masih lebih baik kondisi saya saat SMA, meskipun saya bersekolah di SMA Negeri, saya masih menyempatkan diri untuk menyetor hafalan ke Ummi atau Kak Ii sebagai mentor saya. Lha saat kuliah di fakultas kedokteran, yang notabenenya teman-teman juga super sibuk sedunia, saya jadi kehilangan sistem ‘pemaksa’ itu -_-

Kedua, seseorang yang ingin menghafal Al Qur’an memerlukan guru untuk memperoleh bimbingan, baik itu secara bacaan Al Qur’an maupun nasihat-nasihat yang diperlukan dalam menjaga keistiqamahan diri. Saya sendiri merasa menjaga niat dan konsistensi itu saaaaangat butuh perjuangan. Kalau lagi futur, kacaunya na’udzubillah. Tilawah mandeg. Hafalan apalagi.

Ketiga, mengikuti LTQ artinya mempertemukan diri saya dengan teman-teman seperjuangan lainnya. Di LTQ Habib, kami para muslimah mendapatkan satu ruangan yang cukup besar di sisi bangunan utama masjid untuk bermalam. Ibarat basecamp bagi kami. Tak masalah juga bila kami sedang berhalangan, kami masih bisa tetap bermalam karena tidak perlu tidur di masjid. Nah, teman-teman sekelas saya di Habib ini bervariasi usianya. Mulai dari siswi sekolah menengah, mahasiswi, Teteh-teteh yang sudah bekerja, ummahat hingga beberapa ibu yang sudah mulai lanjut usia. Saya sering tertampar kalau sudah lama bolos dan mengamati teman-teman saya di sana. Beberapa ummahat membawa serta anaknya yang masih balita. Sambil mengasuh anaknya yang sedang rajin berlari-lari keliling masjid (namanya juga anak-anak, haha) atau menidurkan anaknya saat mulai beranjak malam, mereka memegang Al Qur’an di tangan. Aaaa. Saya yang masih belum punya tanggungan apa-apa kok bisa-bisanya kalah semangat sama mereka >_< Ada juga beberapa ibu paruh baya yang, meskipun bacaannya terbata-bata dan bila menyetor mereka tidak bisa sebanyak kami, rajiiiin sekali datang. Saya malu lagi, deh. Hei Nona, mau cari alasan apa lagi, sih?

Saya juga ingat nasihat seorang guru tahfizh saya di SMP, “Saat kalian diberikan karunia berupa hafalan Al Qur’an, sebenarnya hafalan itu juga merupakan amanah Allah. Harus benar-benar dijaga.”

Harus benar-benar dijaga.

Jadilah saya membulatkan hati untuk menjadwalkan tahfizh setiap malam Ahad. Kalau orang-orang nanya, “Malming di mana?”, dengan nyengir saya akan menjawab, “Di masjid.” Hehe. Seru lah. Setiap kali pulang dari Habib, saya merasa otak saya yang sering ngaco jadi jauh lebih baik. Ibarat menekan tombol refresh.

Tapi yaaa, sebagai mahasiswa tingkat akhir di fakultas yang jadwal akademiknya luar biasa, saya akhirnya kembali bandel beberapa waktu. Rekor terparah saya: tidak hadir dua bulan, diselingi sekali hadir, lalu tidak hadir kembali selama satu bulan.

Astaghfirullaah..

Dua bulan tidak hadir-satu kali hadir-satu bulan tidak hadir itu persis baru terjadi tiga bulan yang lalu. Maka, saat malam Ahad kali ini saya, Alhamdulillah, berhasil menapakkan kaki kembali di Habib, saya meminta nasihat dari seorang Teteh yang menjadi asisten Ustadz di sana.

“Teh, sebelum aku pergi, nasihatin dong 3 menit.”

Saya duduk rapi, berlaku seperti murid yang baik. Ayolah Teh, nasihatilah saya yang sering nakal ini.. Saya menunggu-nunggu.

“Saat kita diberi nikmat oleh Allah berupa bacaan yang lancar, mudah mengingat hafalan baru, juga mudah meraih kembali hafalan yang lama, sadarilah bahwa nikmat itu harus benar-benar kita syukuri. Di sini, banyak teman-teman yang memerlukan waktu lebih lama untuk menghafal. Tidak semua orang diberikan nikmat itu.. Tapi, ingat juga, untuk menghafal  Al Qur’an, tidak cukup hanya pintar. Kita juga harus selalu menjaga niat yang ikhlas dan bersabar. Kalau hanya pintar, tapi tidak ikhlas dan tidak sabar, bisa jadi kita juga berguguran seperti orang-orang lain yang berguguran. Jadi, ayo istiqamahkan lagi.”

Saya ingin menangis. Ya Allah, saya belum seikhlas itu, belum sesabar itu, sampai belum sesungguh-sungguh itu untuk istiqamah.. Iya banget, istiqamah itu mahal..

Maka, tulisan ini saya buat untuk mengingatkan diri.. semoga Allah senantiasa membimbing saya untuk menjadi lebih baik.

Mau jadi shahibul Qur’an, kan?

Sehat dan Waktu Luang


Nikmat yang sering dilalaikan oleh manusia adalah: kesehatan dan waktu luang.

Tubuh ini amanah. Yang namanya amanah, harus dijaga dan dikembalikan sebagaimana mula-mula ia diberikan.. atau paling tidak, kamu tidak merusaknya. Kelak Allah juga akan meminta pertanggungjawaban atas amanah ini.

Yap. Motivasi banget kan untuk menjaga kesehatan >_<

Waktu luang itu bagian dari waktu. Banyak ulama yang bilang, “Waktu itu kehidupan, karena kehidupan terdiri dari berbagai satuan waktu. Maka, kalau kamu menyia-nyiakan waktu, kamu menyia-nyiakan kehidupan.”

Sayangnya, ya itu, waktu luang itu yang rentan sekali diisi dengan kesia-siaan. Waktu luang itu kan sebenarnya waktu istirahat dari aktivitas yang rutin kita lakukan. Tapi.. apa iya ada konsep beristirahat dari sesuatu yang bermanfaat? Maksud saya, setiap bagian kehidupan kita akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk waktu luang itu. Jadi, mindset mengenai istirahat yang pernah diingatkan oleh guru-guruku, “Istirahat itu saat kita menyiapkan diri untuk perjuangan selanjutnya.” Kalau ngantuk, bisa diisi dengan tidur. Kalau dalam keadaan fresh, bisa diisi dengan agenda menuntut ilmu. Jangan sampai istirahat itu membuat kita malah jadi nggak siap untuk melanjutkan perjuangan hidup..

Iya.. Nasihat untuk diri sendiri. Refleksi. Introspeksi. Waktu luangku masih diisi dengan kesia-siaan.. Maafkan aku, duhai Allah.. Ingatkan dan bimbing aku supaya seluruh bagian hidupku penuh dengan manfaat :’)

My philosophy for a happy life: Sam Berns at TEDxMidAtlantic 2013


We are deeply saddened to learn that TEDxMidAtlantic speaker Sam Berns passed away Friday night at age 17. Sam had progeria, a rare rapid aging disease that affects approximately one out of four to eight million children.

Sumber: http://blog.tedx.com/post/73216565949/we-are-deeply-saddened-to-learn-that

 

Oh ya, bahagia itu perkara hati, Tuan dan Nona :’) Kita yang menentukan sudut pandangnya.

Perencana


Di balik setiap perencanaan yang kita lakukan, selalu ada rencana Allah yang lebih indah.

Indah di sini tidak harus bahagia versi kita. Ada senangnya. Ada sedihnya. Ada leganya. Ada deg-degannya. Ada sabarnya. Ada syukurnya. Ada tawanya. Ada tangisnya.

Indah di sini artinya lebih baik dalam pandangan-Nya. Allah ingin kamu menjadi sosok muslim atau muslimah yang lebih kuat. Lebih dewasa. Lebih hati-hati. Lebih menyeluruh dalam memandang suatu persoalan dan lebih bijaksana dalam memberikan respon.

Kalau kata Raihan dalam nasyidnya yang berjudul “Kehidupan”,

Ujian adalah tarbiyah dari Allah, apakah kita kan sabar ataupun sebaliknya.

Aku sendiri adalah orang yang suka merencanakan. Dalam otakku, tersusun berbagai analisis dan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi. Orang-orang akan menyebutku, ‘rumit’, ‘kompleks’ atau ‘tidak sederhana’, bahkan salah seorang teman KKN menambahkan bahwa aku cenderung ‘misterus’. Haha. Aku nggak separah itu kok, sobat. Aku tetap aku yang sederhana dengan segala ketidaksederhanaan itu. *lalu pada jadi bingung*

Di balik setiap rencana yang aku lakukan, kehati-hatian yang aku jalankan, tidak jarang ada hal-hal yang terjadi di luar rencana. Dulu, aku sering menangis karena merasa tidak cukup baik untuk menjalankan rencana, kenapa tidak sesuai target, kenapa kenapa kenapa.. tapi, ya, itulah.. saat kita membuat rencana, kita juga berhadapan dengan dinamika manusia dan kehidupan di sekitar kita. Dan yang terpenting, ada Sang Maha Bijaksana yang kemudian menentukan apakah rencana versi kita memang sebaik itu untuk terlaksana. Pada titik itu, aku mengembalikan semua pada Allah. Di-ACC atau tidak, aku telah melaksanakan tugasku untuk mempersiapkan. Hasil? Hanya Allah yang berhak menentukan. Kalimat klise itu, “Tugas manusia hanya berusaha,” tidak pernah menjadi klise lagi.

Tugas kita memang hanya berusaha. Meluruskan niat, memperdalam ilmu, menguatkan pemahaman, merancang dengan optimal, merencanakan dengan matang, melaksanakan dengan kemampuan sebaik yang kita bisa. Tidak bisa kita tampik bahwa akan terjadi beberapa kelalaian atau kesalahan di dalamnya, yang meski kita antisipasi, memang masih memiliki probabilitas untuk terjadi.

Manusia tidak sempurna. Hanya Allah Yang Maha Sempurna secara mutlak.

Ujian adalah tarbiyah dari Allah. Bagiku, salah satu bentuk ujian itu adalah tatkala aku menghadapi hal-hal mengejutkan yang luput dari bayangan.. Bagaimanapun detail yang aku buat, sehati-hati apa aku melaksanakan, aku adalah manusia.

Rencana Allah selalu jauh lebih indah.

From Single Aiman To Married Aiman: A Letter (sebuah kutipan)


Pertama kali saya membaca naskah surat ini–yang ternyata juga ada videonya di Youtube–melalui seorang teman saya di tumblr. Oh, Fifah juga punya tumblr ya? Iya, tapi rahasia, haha.

Ada satu cerita yang cukup berkaitan. Kemarin, saya menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk bersama dua sahabat saya dan mencatat beberapa hal.

Pertama, betapa saya takut dengan laki-laki yang kasar dan tidak segan memukul orang lain, terlebih itu ibu, istri atau anaknya sendiri. Salah satu adegan di fim tersebut menunjukkan Aziz yang tengah mabuk dan memukul Hayati, dan tanpa bisa saya tahan, saya meringis sambil menangis. Betapa saya takut dengan laki-laki semacam itu, apalagi menemukannya ada di tempat yang sama sebagai pemimpin saya. Na’udzubillah min dzaalik.

Kedua, betapa posisi suami atau ayah memiliki peran yang besar dalam keluarga dan individu-individu di dalamnya. Maka, kalian, yang berkromosom XY, sadarilah tugas dan tanggung jawab kalian yang besar ini. Belajarlah dari sekarang. Mendewasalah.

Ketiga, kalau kalian bertanya, “Siapa role model yang bisa dijadikan referensi belajar tentang ini?” Rasulullah saw., tentu saja. Beliau adalah orang yang paling lembut dan mencintai keluarganya, sekaligus pemimpin yang mampu membawa mereka pada ridha Allah dan surga-Nya yang indah.

Setiap kita harus belajar. Harus. Laki-laki atau perempuan. Amal yang terbaik haruslah didasarkan pada niat yang murni dan ilmu yang mencahayai. Iya, kan?

Oh ya, untuk teks suratnya, saya tulis di bawah sini yaa :’) Selamat mendewasa, sobat-sobat.

 

Sumber: http://www.aimanazlan.com/2013/12/a-letter-from-single-aiman-to-married.html

On Friday, December 13th, 2013 at around 12:30pm (a few hours before my wedding), I wrote this letter to myself as a form of reminder. I want to remember these things for the years to come Insha Allah. 

These are some reminders to myself about being a husband, a father, and a person in general

Dear Married Aiman,

As a husband, I hope that you think of your wife as your partner. She is neither your boss nor your employee. She is your partner. She has opinions, thoughts, and feelings – so listen to them. Listen more, talk less. Who knows, you might learn a thing or two from her.

Have honest conversations with her. Discuss things. You’re going to disagree, so handle disagreements well. Don’t expect her to be like you. She’s not like you and she never will be like you. She is a unique individual, with her own personalities. Don’t forget that she’s a woman, and you and I both know that there’s a lot that we need to learn about women. Don’t expect uniformity. Uniformity doesn’t lead to unity. Diversity leads to unity and Islam celebrates diversity, but with limits.

Be a leader, not a dictator.

Know that both of you are on the same team, so don’t think about winning or losing. Use the Quran and the Sunnah as a guide, not as a weapon to bring the other down. If you need to correct her, do so in the best way possible. Don’t be a jerk about it. In fact, don’t be a jerk in general. Be kind and compassionate, especially towards your family. The best people are the best to their families. Like I said, you’re on the same team. You are both in this for the long run, all the way to Jannah. Insha Allah.

You will argue with your wife. There will be times when she will drive you crazy. There will be times when you will drive her crazy. As much as you would like to avoid those moments, they are almost inevitable. I have never heard of a marriage without conflicts. Even the Prophet had conflicts with his wives.

In those times, remember the Prophet. Remember that he kept his cool no matter what. If you’re angry, don’t talk while you’re angry. Don’t discuss things while you’re angry. You and I both know that while you’re angry, you’re not thinking straight. You might say or do things that you don’t mean. So keep your mouth shut while you’re angry and don’t do anything stupid. Make wudu, pray two rakaat, cool yourself down, and if you feel like you need to address something then do so in the best way possible. Not while you’re angry.

Love your wife, with all your heart. Remember that a woman was made from a rib. The rib is on your side so she is neither above you nor below you, and the rib is close to your heart so that you may cherish her and love her. Also, don’t forget that ribs protect the internal organs; so as much as you are protecting her, she is also protecting you.

Always say that you love her even though she knows it. Say it anyway. Show your gratitude to what she has done for you.

As a father, I hope that you think of your children as both a blessing and a trust (an Amanah) from Allah. Know that they are not oblivious to the things you say and do, especially to the things that you do. They learn mostly from your actions, not from your words. So pay closer attention to what you do than what you say. They will always look to you for examples, so be the best example that you can be.

Be a friend to your children. Be a place where they feel safe. Be someone whom they can share their most personal side and secrets. Be someone whom they look forward to meet; when you come home, they run towards you. Not away from you.

Never ever argue in front of the kids. Nothing is more traumatizing to a child than seeing his/her parents fighting. Don’t do that to your kids. Don’t bring kids into your marital arguments. In front of your kids, always smile and be cheerful. Be a source of positive energy for them. That’s how you want them to remember you by.

There is no vacation for being a parent. It is literally a full time job, 24/7, for the rest of your life. Even when your kids get married and have their own kids, that doesn’t mean that you stop being a parent. You will always be a parent. You will always be an example for your kids.

Teach your kids about Islam, about Allah, and about the Prophet. Be their first and their best teacher. Don’t outsource your parenting responsibilities to anyone. Teach them about accountability and about responsibility early on in life so that they learn how to be good and honest people. Teach them how to choose good friends and how to be good friends. Teach them to give back to the community. Teach them to serve people and be a good resource for people, not a burden. Teach them good manners through good examples.

Talk to your kids. Face them and have good conversations. Don’t face the TV. That’s not good quality family time. That’s just a bunch of people sitting in front of the TV. Ask them about their day. Stimulate their minds. Encourage them to think. Ask for their opinions. Encourage them to read good books. Read with them and read to them.

Don’t stunt their growth, but encourage their growth. Or better yet, grow with your kids. When they learn, you learn with them. Don’t be too busy with other things that you miss watching your kids grow. You only have one opportunity to watch your kids grow, so don’t miss it.

Pray with your family. Create a Masjid inside your own home.

In general, know that you will make mistakes. You are not perfect. But when you do make mistakes, please own up to them. Don’t let your pride and ego get in the way. If you know that you are wrong, admit it first and foremost to yourself. Don’t lie to yourself. Don’t try to justify yourself with lame excuses. If you’re wrong, admit it. Learn from mistakes, grow, and move on.

The two big enemies of men are their pride and their ego. These two bad boys are not your friends, they are Shaytan’s friends. So don’t allow them to come into your home. Leave them at the door. In fact, leave them altogether. They are no good to you. Be humble. Stay humble. Insha Allah, Allah will raise you.

Build a home, not a house. A house is just made of four walls and rooms. If a house is not filled with love and obedience to Allah, then it is not a home. Build a home, a safe haven for your family. Build a place of tranquility. Build a place where your wife feels safe, where your kids feel safe, and where they feel love and a sense of belonging.

Be open to change. You’re not perfect. You don’t know everything. There’s always something new to learn. Something new to improve.

Find the good in people. Everyone has flaws; your wife has flaws and your kids have flaws. You have flaws. But choose to focus on the good and always mention the good, and seek to improve the not-so-good.

Don’t judge other people, judge only yourself. You don’t know the condition of people’s hearts. What you see with your eyes is not the whole story, so leave the judging part to Allah. Hate the wrong actions that people do. Don’t hate the people that are doing it.

Be the solution, not the problem. Know that the most valuable things in life are not things.

Married Aiman, I hope you can lead your wife, your kids, your family all the way to Jannah where you will live happily ever after. Remember that happily ever after doesn’t exist here in this world, it exists in the next world – in Jannah.

This is Single Aiman, signing off.

Married Aiman, all the best!

From,
Single Aiman

Karena Aku Manusia


Robot

Aku tidak suka menjadi robot. Aku manusia.

Aku tidak suka disebut robot. Aku manusia.

Aku tidak suka dianggap robot. Aku manusia.

Maka aku menuntut ilmu, mengasah pemahaman, bertanya pada ahlinya, berdiskusi untuk menambah wawasan pemikiran, memohon pada-Nya agar diberikan akal yang tajam untuk memahami kejernihan ilmu, konteks beserta amalnya.

Lengkap. Ilmu tidak boleh hanya menjadi teori, yang gagap saat dilaksanakan di tengah realita. Ilmu hendaknya diaplikasikan dengan keluwesan yang tidak melanggar tuntunan Sang Kekasih.

Robot tentu tidak memerlukan ilmu untuk membentuk pemahamannya sebelum beraktivitas. Ia sudah diprogram begitu, dan akan selalu begitu, kecuali sistem komputernya terkena virus.

Sedangkan aku adalah manusia dengan kehausan kognitif yang tinggi, sampai-sampai ibuku dengan tegas mengingatkanku untuk selalu memperdalam ilmu. Tidak boleh berhenti.

Ilmu yang tidak gagap. Ilmu yang luwes dan bermanfaat.

Aku tidak suka menjadi robot. Aku manusia.

Aku tidak suka disebut robot. Aku manusia.

Aku tidak suka dianggap robot. Aku manusia.

Maka aku senantiasa berkonsultasi pada hati—yang kuperjuangkan untuk dijaga kebersihannya. Ah, menjaga hati itu sulitnya luar biasa.. sampai ingin menangis rasanya. Siklus kehidupan manusiaku berulang: berbuat kesalahan – beristighfar – berusaha untuk tidak mengulangi – berusaha mengiringi keburukan dengan kebaikan. Innal hasanaati yudzhibnas sayyi-aat.

Robot, kecuali Astro Boy (tokoh animasi berupa robot yang diprogram memiliki hati) tidak memiliki segumpal daging yang menjadi guide aktivitasnya. Ia sudah diprogram begitu. Sementara manusia paling baik akhlaknya, Rasulullah saw berpesan, “Istafti qolbak.”

Tanyakan pada hatimu. Mintalah fatwa pada hatimu.

Hati yang mana? Hati yang selalu terhubung dengan Sang Kekasih. Sekali terputus, sekali hati itu terkontaminasi dengan hal-hal yang menjauhkan diri dari-Nya, fatwa yang diberikan bisa jadi lebih banyak dicampuri bisikan syaithan.

Ah ya, hati itu ibarat benteng. Kalau penjagaannya lemah, masuklah musuh-musuh abadi manusia, syaithan, untuk menggelincirkan manusia ke dalam jurang. Yang benar tampak salah, yang salah tampak benar. Yang benar terasa menyesakkan, yang salah terasa menawan dan demikian menggoda untuk diikuti. Kita berprasangka diri melakukan kebaikan, padahal yang terjadi sebaliknya. Na’udzubillaah..

Aku tidak suka menjadi robot. Aku manusia.

Aku tidak suka disebut robot. Aku manusia.

Aku tidak suka dianggap robot. Aku manusia.

Maka aku menyemangati diriku untuk mendekatkan diri dengan dua warisan manusia mulia: Al Qur’an dan Hadits. Tidak akan tersesat manusia yang berpegang kepada keduanya, begitu ujar sang Rasul.

Iya, aku sangat takut tersesat.. aku ini penakut. Aku takut hidupku yang singkat dipenuhi oleh kesia-siaan.. atau diisi oleh sesuatu yang kusangka baik, padahal di mata-Nya jauh dari baik. Aku takut tersesat. Benar-benar takut.

Aku tidak suka menjadi robot. Aku manusia.

Aku tidak suka disebut robot. Aku manusia.

Aku tidak suka dianggap robot. Aku manusia.

Tapi, bila aku telah berikhtiar dan meminta pada-Nya untuk selalu dibimbing, sedangkan orang lain masih menganggap aku robot.. Aku tidak ingin memprotes apapun.

Bukan masalah anggapan orang lain.. Tapi bagaimana Allah memandang amal yang kulakukan. Allah Yang Maha Menilai.

Ah, aku takut kalau sudah bicara begini. Ya Allah, maaf ya, catatanku jauh dari sempurna >_<

Engkau yang menghukumi siapa yang benar dan siapa yang salah. Aku hanya hamba-Mu yang senantiasa belajar untuk memahami tuntunan-Mu dan beramal. Bukan kataku, bukan kata mereka. bukan kata manusia benar atau salah itu.

Wa qulil haqqu min robbikum. Kebenaran itu hanya milik-Mu. Bagi seorang hamba yang beriman, kebenaran itu tidak relatif. Kebenaran itu adalah segala hal yang disandarkan pada-Mu.

Aku berlindung dari kesia-siaan. Aku berlindung dari tersesatnya jalan.. Aku berlindung pada-Mu, Ya Allah, agar tidak bersandar pada selain-Mu..

 

Sumber gambar: http://posterkini.blogspot.com/2013/03/pos-terkini-wow-ada-robot-pelayan-untuk.html

Ada Banyak Alasan untuk Memilih Tidak Pacaran (sebuah komik)


Sumber: akhwataluswah.tumblr.com/post/68035009727/ada-banyak-sekali-alasan-untuk-memilih-tidak

ada banyak sekali alasan untuk memilih tidak pacaran,

yang manakah alasanmu?

Kenapa Nggak Pacaran-1 Kenapa Nggak Pacaran-2 Kenapa Nggak Pacaran-3 Kenapa Nggak Pacaran-4 Kenapa Nggak Pacaran-5 Kenapa Nggak Pacaran-6 Kenapa Nggak Pacaran-7 Kenapa Nggak Pacaran-8 Kenapa Nggak Pacaran-9 Kenapa Nggak Pacaran-10

Hingga Harumnya Semerbak


Penyebab masalah-masalah yang timbul di dunia adalah hilangnya Islam dari kehidupan.

Bukan tidak ada muslim, ada. Bahkan di Indonesia ada banyak sekali. Iya, kan?

Sayangnya, Islam itu tidak diaplikasikan dengan baik dalam kehidupan setiap pemeluknya. Mereka lebih tertarik untuk mengikuti perkataan hawa nafsu atau hasil pikiran manusia-manusia yang tidak percaya pada Allah, dibandingkan mengikuti apa yang dikatakan Allah dan rasul-Nya.

Padahal Islam adalah panduan hidup yang komprehensif dan tiada cela. Pemenuhan kebutuhan jasad tidak menyelisihi kebutuhan akal dan ruh. Semua selaras dan harmonis.

Maka, tatkala kita mulai satu langkah demi satu langkah meninggalkan Islam, yang kita temui adalah kemunduran peradaban. Perkembangan sains dan teknologi tidak diimbangi dengan perbaikan akhlak dan ketataan pada Sang Pencipta. Muncullah tragedi-tragedi kemanusiaan. Pembantaian dan pembunuhan yang tidak dapat dijangkau hukum tatkala hukum itu sendiri dilahirkan untuk melindungi sang pembunuh. Muncullah tragedi-tragedi moral. Krisis kejujuran yang kerap kita jumpai di setiap lapisan masyarakat, mulai dari pelajar hingga pemegang amanah di tampuk pemerintahan.

Aku ingin hidup dan matiku diselimuti cahaya Islam.. Berpisah darinya seperti ikan kecil yang melompat keluar kolam dan menggelepar kekeringan.

Islam itu samudera cinta. Samudera ilmu. Samudera peradaban. Samudera di mana Ia mencelupkan kasih sayang-Nya tanpa batas.

Kamu. Ya, kamu. Ayo temani aku menjemput lagi cahaya itu. Bersemangat mempelajari Islam. Berusaha meneladani Rasulullah dalam kehidupan. Bersungguh-sungguh menaati titah Allah Yang Maha Cinta.

Perlahan-lahan. Ya, perlahan-lahan.

Hingga nanti, anak-anak kita akan mendekap Islam erat-erat karena melihat perjuangan ayah dan ibunya. Bukan hal yang mudah memang, tapi bukan mustahil untuk berubah menjadi sosok yang lebih baik :”

Hingga nanti, Islam itu mewarna diri kita dengan cahaya.. kemudian masyarakat kita.. kemudian negeri yang kita cintai.. kemudian semerbak harumnya menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Begitu kan, Islam? Rahmatan lil ‘aalamiin.

terinspirasi dari taushiah seorang ustadz yang mengangkat buku, “Kerugian Dunia Karena Kemunduran Umat Islam