Jalan Raya di Sini


Di tempatku sekarang, lazim melihat keluarga yang datang berobat dengan mobil bak terbuka. Bila anggota keluarga yang sakit kesulitan untuk duduk, ia dibaringkan di bagian belakang mobil yang diberi alas tikar seadanya.

Pemandangan semacam itu selalu membuatku menghela napas..

Bila tidak ada mobil, anggota keluarga yang sakit dibawa dengan motor, diapit 2 orang–sang pengendara dan satu orang di bagian paling belakang.

Dengan kondisi sedemikian, mereka harus menunggu beberapa waktu bila hujan tiba-tiba menderas.

Salah satu permasalahan yang nyata kamu temukan di daerah-daerah tertinggal adalah keterbatasan akses transportasi. Di daerahku kini ada sebuah angkot biru bertrayek panjang dan mobil bak terbuka berwarna hitam yang diberikan semacam tenda sebagai angkutan umum; namun keduanya hanya menjangkau jalan-jalan besar.

Beberapa kali, saat aku mengikuti ibu-ibu bidan desa untuk menghadiri posyandu atau kegiatan kesehatan masyarakat lainnya, kami harus menempuh jalan berbatu nan panjang yang tidak dilalui angkutan umum sama sekali. Maka bisa dibilang, pemilik mobil bak terbuka maupun motor tergolong cukup ‘beruntung’.

Keterbatasan ini juga menjadi kunci permasalahan lainnya: tingginya angka kecelakaan lalu lintas. Banyak orang tua yang mengizinkan anak-anak di bawah umur (bahkan anak SD!) untuk mengendarai motor. Sudahlah tidak ada SIM, tubuh mereka masih terlalu ‘ringan’ untuk mengendalikan motor yang besar saat memerlukan manuver di jalan raya, emosi belum matang, jarang memerhatikan spion, tidak pakai helm pula.

Aku dan teman-temanku sering menjumpai korban-korban cedera kepala berat, patah tulang dan bentuk trauma lainnya pada para pengendara motor semacam ini. Astaghfirullah…

Maka sekali lagi, aku semakin mengerti.. Masalah kesehatan bukan hanya tanggung jawab dokter dan petugas kesehatan lainnya; tetapi tanggungjawab seluruh dimensi yang ada di negeri ini.

Pelan tapi pasti harus dibenahi.

Advertisements