Menjaga Niat


Aku sering mengingat nasihat guruku: “Menjaga niat itu ada di awal, tengah dan akhir.”

Di awal sebelum memulai sesuatu. Karena siapa, untuk apa, ingin apa.. Mengapa kamu melakukannya?

Di tengah tatkala melaksanakannya. Kalau jadi lelah, niatnya jangan berubah. Mengeluh dan kesal sama orang bisa bikin niat melenceng. Bisa-bisa kamu melakukan sesuatu dengan benar hanya supaya tidak dimarahi orang lain, atau hanya sebagai pembuktian bahwa apa yang dikatakan orang lain itu salah. Sayang kan?

Di akhir saat menyelesaikannya. Saat tugasmu selesai dengan baik, kamu nggak boleh jadi sombong. Merasa hebat, merasa yang terbaik, merasa jagoan. Kamu harus beryukur dan menyadari bahwa kamu bisa begitu dengan pertolongan Allah. Tinggi hati itu sandungan.

Pada kenyataannya, menjaga niat itu tidak semudah membalikkan telapak tangan (sebenarnya membalikkan telapak tangan susah sih kalau ada gangguan saraf atau otot tangan, oke, abaikan), ada banyak tantangannya. Tapi kalau berhasil, hadiahnya luar biasa.. di dunia ada, di akhirat ada, insya’ Allah.

Ya.. Mungkin nggak bisa langsung sempurna, seenggaknya kamu berusaha.

Amanah Kehidupan


Ananda hari ini hari yang sangat berarti bagimu. Diberi amanah kehidupan. Hidup harus bermakna & bermanfaat. Tuk beruntung di kehidupan kini dan nanti… Happy birthday …anakku sayang!

–Ummi, 3 Maret 2014

Hari itu ibuku mengingatkanku bahwa kehidupan adalah amanah. Yang namanya amanah, harus kamu jaga dengan baik dan kamu isi dengan hal yang disukai oleh Dia Yang Memberi amanah.

Ya Allah.. 20 tahun ini aku banyak lalainya, ya? Banyak lupanya. Banyak salah dan khilafnya. Semoga 20 tahun yang berlalu Engkau ampuni catatan merahnya, dan Kau terima catatan kebaikannya. Aku tak tahu kapan akan pulang ke sisi-Mu. Bila mengingat waktu yang terus berlari, aku takut saat tiba di ujungnya, aku sedang tak siap.

Allah.. sisa waktuku selanjutnya, bimbing selalu Ya Ilahi, berkahi selalu..

Allahumaj’al khoiro ‘umrii aakhiroh wa khoiro ‘amalii khowaatimah wa khoiro ayyaamii yawma alqooka fiih.

Allahummahdinaa wa saddidnaa Allahumma innaa nas-alukal hudaa was sadaad.

Allahumma habbib ilaynal iimaan wa zayyinhu fii quluubina qa karrih ilaynal kufro wal fusuuqo wal ‘ishyaan waj’alnaa minar roosyidiin.

Ayo Bermain ke Taman Bermimpi


Suatu hari, seorang teman istimewa-ku, sebut saja gadis yang melompat-lompat yang berhasil membuatku juga ketagihan melompat, mengirimkan sebuah link untuk kubuka.

Temanku itu mengajakku untuk bermain ke Taman Bermimpi. Iya benar, Taman Bermimpi. Hei, sudah berapa lama aku tidak mampir ke sana? Kadang, rutinitas dapat menjebak kita dalam kabut tanpa mimpi. Terbayang kan betapa membosankannya..

Setelah aku renungi beberapa saat, aku sedang berada di titik jenuh itu akhir-akhir ini. Yang terpikirkan adalah saat ini dan tugas yang harus diselesaikan dalam waktu dekat. Yang terasa adalah rasa lelah dan, sesekali, harapan untuk menikmati waktu beristirahat tanpa tugas apapun. Seperti bukan diri sendiri. Nona, usiamu ini tak boleh diisi dengan kesia-siaan dan tujuan jangka pendek. Seorang muslim(ah) harus visioner. Visi yang terpancang kukuh di jannah firdaus, dengan ridha-Nya sebagai cita-cita pertama dan utama..

Lupa, ya? >_< Astaghfirullah.

Aku sering mengingatkan diriku, “Kamu tidak dilahirkan untuk kesia-siaan.”

Allah memberikan tugas besar untuk ditunaikan. Menjadi hamba Allah yang mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki untuk kebermanfaatan di jalan yang Ia ridhai.. :” Lantas dalam setiap prosesnya, mengutip sebuah hadits dari Rasulullah saw, seorang muslim(ah) menjalaninya dengan syukur dan sabar. Dua tunggangan yang Umar bin Khatab tak peduli mana yang sedang ia kendarai karena kebaikan pada keduanya.

Kamu juga harus mampu memvisualisasikan cara untuk mewujudkan visi itu..

Nah, untuk itulah kamu perlu rajin bermain ke Taman Bermimpi.. merancang strategi untuk menjadi seseorang yang tidak dilahirkan untuk kesia-siaan.

Bismillaah. Tiga hari lagi aku akan memulai perjalanan baru dalam fase profesi.. Tidak boleh sekadarnya.

Ingin bermanfaat, ingin optimal, ingin tidak berhenti pada tanggung jawab saat ini saja..

Sadarlah Nona, hidupmu kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Ilahi, maka lakukan yang terbaik :”

Ganbatte!

Terbaik


Semoga Allah selalu menjagamu,

menjagaku,

menjaga kita,

membimbing kita untuk selalu istiqamah di jalan yang Dia ridhai, sebagaimana pinta itu kita ulang-ulang dalam tujuh ayat istimewa pada surat pembuka Al Qur’an,

membimbing kita untuk menjadi hamba yang sabar, senantiasa bertaubat, mensucikan diri, berbuat baik, bertaqwa, sebagaimana Dia cinta pada hamba-hamba yang memiliki sifat demikian,

membimbing kita untuk menjauhi sifat ingkar, sombong, berlebih-lebihan, berputus asa, zhalim, sebagaimana Dia benci pada hamba-hamba yang bersifat demikian,

membimbing kita untuk selalu menelusuri jalan kebaikan dan ketaatan, sebagaimana cahaya-Nya menuntun kita menuju keselamatan di dalamnya..

Semoga Allah selalu menjaga dan membimbing kita,

karena hanya Dia sebaik-baik Penjaga dan Pembimbing.

Bukan aku. Bukan kamu. Bukan dia. Bukan siapapun yang lain.

Hanya Dia yang terbaik :’)

Catatan Skripsi (7) : Menjadi Peneliti


Saat skripsi berjilid kuning itu akhirnya selesai, saya bernapas lega. Alhamdulillah. Buncah rasanya melihat bahwa dirimu bisa menghasilkan sebuah karya. Bagi saya, setiap karya berbicara, menyampaikan pesan kepada dunia. Tinggal bagaimana cara karya itu menyampaikannya–bila ia adalah karya ilmiah, bisa melalui jurnal, poster, konferensi dan sebagainya–dan apakah dunia sekitar karya itu ingin mendengarkan pesannya. Persis seperti komunikasi.

Lekas saya mengumpulkan 2 jilid skripsi ke kampus di Jatinangor, lantas bergegas menuju Bandung untuk memberikan 1 jilid skripsi masing-masing bagi dua dosen pembimbing saya: dr. Ita dan dr. Miftah. Hari itu waktu sudah tergolong sore. Saya menitipkan skripsi kuning pada sekretaris departemen IKM dan IPD. Mengangguk hormat pada kedua sekretaris tersebut, berterima kasih karena karena telah banyak membantu saya dalam pengumpulan data, juga menitipkan salam kepada dua dosen pembimbing saya. Saat melewati koridor departemen IKM dan IPD, saya tahu, banyak hal yang saya peroleh setiap kali berada di sana.

Sebagai seorang yang tidak tahu apa-apa dan diberi tugas untuk membuat apa-apa (aduh, maafkan bahasa saya), seseorang yang datang untuk membimbing tentang segala sesuatu yang apa-apa seperti secercah cahaya. Proses pembuatan skripsi bagi saya bukanlah beban akademik semata, tapi juga suatu proses belajar yang saya nikmati. Baru kali ini saya memainkan peran penuh sebagai peneliti. Oh ya, menjadi peneliti adalah mimpi yang saya simpan di benak saya sejak saya bisa membaca.

Habisnya, Ummi membelikan banyak buku tentang peneliti untuk saya baca di rumah. Ada Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Marie Curie, Thomas Alva Edison, Alexander Graham Bell serta para cendekiawan lainnya. Saya kan jadi tergoda.

Saya ingin menjadi peneliti. Maka, di SD-SMP-SMA-kuliah, saya memasuki kelompok ilmiah sejenis KIR, berharap dapat belajar untuk menjadi seorang peneliti. Saya memang belajar, tapi masih berupa fragmen-fragmen. Hehe. Mau contoh?

Saat SD, saya menikmati masa bermain saya untuk menempeli guru-guru saya menunjukkan beberapa percobaan ilmiah–di samping kesukaan saya bermain karet, bekel, kejar-kejaran, memanjat dan kadang berkelahi bila teman-teman laki-laki saya sudah terlampau menyebalkan. Selain itu, Ummi juga sering mengajak saya mendatangi tempat yang membuat saya yang mudah penasaran lama-lama berubah menjadi Curious George (itu lho, monyet kecil yang tinggal dengan pria bertopi kuning, eh, tapi saya bukan monyet lho, ya).

Saat SMP, saya bergabung sebagai asisten laboratorium di bahwa komando Pak Ade–guru biologi saya yang super keren (lain kali saya akan menyempatkan diri untuk menulis khusus tentang beliau). Pak Ade memberikan banyak pengalaman ilmiah kepada saya dan beberapa teman lainnya. Menangkap dan mengawetkan kupu-kupu. Membuat kerangka katak dan ikan (dalam hal ini, saya tidak berhasil membuat yang bagus, hiks). Melakukan beberapa pengamatan ilmiah terhadap tanaman. Pak Ade juga mendorong saya untuk mengajukan proposal dan melaksanakan penelitian mengenai pembuatan pupuk dengan komposisi yang baru–yang, sayangnya, tidak saya selesaikan dengan baik. Maafkan saya ya, Pak >_<

Saat SMA, saya bergabung dengan pasukan KIR yang dikomandoi oleh Dina Faizah, teman saya yang punya kemampuan memimpin yang sangat baik. KIR di SMA tempat saya bersekolah, SMAN 34 Jakarta, memiliki ciri khas: aktivitas daur ulang. Saya belajar mengenai daur ulang kertas, daur ulang plastik, pembuatan biopori, perawatan tanaman hidroponik (sayangnya saya masih belum terlalu mengerti pembuatan dari nolnya), pembuatan pupuk dan, tentu saja, pembuatan karya ilmiah.

Saat kuliah, saya bergabung dengan SRC alias Science Research Center di FK Unpad. Fokus kami pada tahun-tahun awal lebih banyak pada penulisan karya ilmiah yang berkaitan dengan dunia medis. Namun, prestasi saya tidak sebaik teman-teman yang lain, saya baru berhasil membuat karya berjenis literature review atau kajian pustaka. Teman-teman yang lain sih sudah jauh lebih jago dari saya >_< Mereka sudah bisa membuat poster dan memberikan presentasi ilmiah dengan luwes di depan banyak orang. Maju terus SRC!

Nah, pembuatan skripsi sebagai tugas akhir kuliah S.Ked itulah yang memberikan saya kesempatan untuk memainkan peran penuh sebagai peneliti. Saya, dibimbing oleh dua dosen yang luar biasa, melakukan setiap tahapan penelitian, lengkap. Mulai dari pembuatan proposal penelitian, desain studi, desain instrumen penelitian, pelaksanaan penelitian, analisis data, interpretasi hasil, hingga pembuatan laporan penelitian. Yang mengharukan, fakultas saya mewajibkan kami melakukan publikasi artikel penelitian di jurnal ilmiah. Wah, pengalaman yang berharga sekali bagi saya. Saya bisa berguru langsung kepada dr. Ita dan dr. Miftah yang, diam-diam setelah saya browsing di internet, telah menghasilkan beberapa karya yang dipublikasikan di jurnal internasional. Mendebarkan. Haha. Iya sih, saya sering mendapatkan coretan-coretan di atas draft skripsi maupun artikel yang saya buat setiap kali bimbingan. Revisi, revisi, revisi. Tapi saya senang karena tahu, bagian mana yang harus saya perbaiki. Oh, ternyata harusnya begitu, ya. 

Selanjutnya, saya memiliki rencana, dengan izin-Nya, setelah sumpah dokter dan internship, saya ingin mengambil S2 di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat atau Public Health. Pada salah satu kesempatan, dr. Ita memberikan beberapa saran mengenai rencana saya ini. Coba saja ke Todai, Fah, atau cari beasiswa ke Eropa. Kamu persiapkan TOEFL dari sekarang. Rencanakan juga untuk magang di penelitian fakultas atau dosen saat kamu lebih luang, karena bisa jadi salah satu bahan rekomendasi bagi universitas yang kamu tuju.

Hingga saat ini, saya mendapatkan definisi yang lebih lengkap: saya ingin menjadi peneliti di tingkat komunitas. Semoga Allah membimbing dan memudahkan setiap langkah yang akan saya ambil.

Oh ya, tentu saja, saya juga harus belajar untuk mampu menyeimbangkan diri. Mengapa? Pada saat saya meniti target tersebut, mungkin saja Allah menitipkan amanah lain pada saya: keluarga. Saya ingin menjadi partner yang terbaik bagi seseorang yang Allah amanahkan saya padanya dan ibu yang terbaik bagi para pemimpin masa depan yang tumbuh di lingkaran kesayangan kami. Kiprah perempuan di tengah masyarakat tidak boleh mengabaikan fitrahnya, kan? 😉

Sehat dan Waktu Luang


Nikmat yang sering dilalaikan oleh manusia adalah: kesehatan dan waktu luang.

Tubuh ini amanah. Yang namanya amanah, harus dijaga dan dikembalikan sebagaimana mula-mula ia diberikan.. atau paling tidak, kamu tidak merusaknya. Kelak Allah juga akan meminta pertanggungjawaban atas amanah ini.

Yap. Motivasi banget kan untuk menjaga kesehatan >_<

Waktu luang itu bagian dari waktu. Banyak ulama yang bilang, “Waktu itu kehidupan, karena kehidupan terdiri dari berbagai satuan waktu. Maka, kalau kamu menyia-nyiakan waktu, kamu menyia-nyiakan kehidupan.”

Sayangnya, ya itu, waktu luang itu yang rentan sekali diisi dengan kesia-siaan. Waktu luang itu kan sebenarnya waktu istirahat dari aktivitas yang rutin kita lakukan. Tapi.. apa iya ada konsep beristirahat dari sesuatu yang bermanfaat? Maksud saya, setiap bagian kehidupan kita akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk waktu luang itu. Jadi, mindset mengenai istirahat yang pernah diingatkan oleh guru-guruku, “Istirahat itu saat kita menyiapkan diri untuk perjuangan selanjutnya.” Kalau ngantuk, bisa diisi dengan tidur. Kalau dalam keadaan fresh, bisa diisi dengan agenda menuntut ilmu. Jangan sampai istirahat itu membuat kita malah jadi nggak siap untuk melanjutkan perjuangan hidup..

Iya.. Nasihat untuk diri sendiri. Refleksi. Introspeksi. Waktu luangku masih diisi dengan kesia-siaan.. Maafkan aku, duhai Allah.. Ingatkan dan bimbing aku supaya seluruh bagian hidupku penuh dengan manfaat :’)

Ucapkan Selamat Pagi


16122013282 16122013286 16122013285 16122013284 16122013287 16122013289

Farewell Mentor Keluarga Muslim Asy-Syifaa’ FK Unpad angkatan 2010.

Ucapkan selamat pagi, karena setiap waktu adalah kesempatan bagi kita untuk mempersembahkan amal terbaik bagi Sang Pencipta Yang Maha Cinta. Pagi yang sejuk dan penuh keindahan.

Jazakunnallah adik-adik yang manis :’) Senang Allah beri kesempatan untuk saling berbagi ilmu, menasihati dalam kebaikan-kesabaran-kasih sayang, juga menyulam kisah-kisah penuh warna dalam tiga setengah tahun ini.

Acha, Pitri, Lastri, Ressa, Riny, Sarah, Yoland dan Manda :’) Teteh ter-hidup mahasiswa yang setahun ini memegang kalian jauh lebih keren dari aku, kan? Hehe. Tapi kenangan bersama kalian rajin membuat aku tersenyum. Peluk erat!

Hadi, Maryam, Kiki, Shofu, Stavi dan Siti. Maaf aku pergi lebih dulu satu bulan yang lalu. Dalam do’a, tersemat rindu. Ngomong-ngomong, apa maksudnya ter-Mamih? Mudah-mudahan bukan majas ironi ya, haha. Kapanpun kalian mau mengajak diskusi, bila aku bisa, in-syaa’Allah aku bersedia :’)

Ainun, Ifah, Nisa, Dewi, Evi, Janan dan Ulfa. Jiwa-jiwa penuh semangat yang membuat aku ter-charge tiap kali berbagi dengan kalian :’) Fii amaanillaah.

Maafkan kesalahanku di sepanjang pertemuan kita. Lifelong learning, lifelong struggle. Ayo berlomba-lomba dalam kebaikan 😀

Dan entah apa yang membuat kalian semua kompak berdo’a, “Semoga Teteh cepat nikah” sebelum kita berfoto bersama tadi sore -_- Aku hanya bisa nyengir dan mengaminkan dalam hati. Mudah-mudahan itu do’a yang baik, ya? Minimal aku akan memberikan undangan ulang tahun pada kalian. Haha.

Saling mendo’akan ya.. aku yang akan memasuki koasistensi, juga kalian yang masih diberi kesempatan untuk menikmati dunia S.Ked :”

Allaahummarzuqnal istiqoomah.

Spesial (bukan martabak)


X: Bagaimana ya rasanya menjadi seseorang yang spesial di mata seorang laki-laki?
A: Hah? Nggak ada bagus-bagusnya, kalau itu bukan laki-laki yang halal. Hahaha.
X: (menggeplak A)
A: Ya iyalah, kalau kamu spesial di mata seorang laki-laki yang halal, ada nilai ibadahnya.. Tapi kalau kamu spesial di mata seseorang yang nggak halal (plis, gw berasa ngomongin makanan), terus kalian berdua setuju untuk saling membenarkan perasaan itu, lalu jadi saling deket.. lalu Allah menjadi nomor 2, nomor 3, bahkan nomor-nomor yang lebih jauh.. apa bagusnya, X? Gini nih, buat gw, bahagia bukan gw dapetin apa yang gw inginkan, tapi saat gw bisa berusaha melakukan apa yang Allah inginkan. Buat gw itu jauh dari cukup.
X: Tapi berat, ya?
A: Worthed kok, Neng.. Gw sih rela berjuang seumur hidup untuk dapetin cinta dari Sang Maha Sempurna.. Oooh, beruntung banget kalau beneran bisa.. meski gw masih jadi orang yang kayak gini T_T
X: Ya ampun, orang gw yang lagi curhat, kok lo malah ikut-ikutan sentimen gitu. Iya, gw juga mau dong belajar.. Temenin gw, ya?
A: Aaaaa, X.. Ingetin gw ya kalau gw yang mulai ngaco..
(lalu saling berpelukan)

Apabila Selesai


Fa idzaaa faroghta fanshob, setelah engkau menyelesaikan suatu pekerjaan, selesaikanlah pekerjaan yang lain.

Pekerjaan yang bisa mengembalikan kita pada amal ketaatan. Belajar, berbakti pada kedua orang tua, menjemput nafkah yang halal, berdiskusi ilmiah, berorganisasi yang berkaitan dengan kebermanfaat orang banyak, dan tentu saja.. selalu kembalikan mereka pada niat yang lurus dan jernih, agar Allah suka dengan bagaimana kita melalui kehidupan ini. Sertakan ibadah mahdhoh (sholat, shoum, membaca dan mengkaji Al Qur’an, dzikir) sebagai nutrisi jiwa.

Wa ilaa robbika farghob, dan kepada Robb-mu engkau kembali.

Pesan Ibuku


Ibuku selalu berpesan, jadilah engkau shalih/shalihah secara pribadi dan sosial.

Tidak cukup kebaikanmu untuk diri sendiri.

Tidak cukup kepandaianmu dalam teori dan kecerdasan beretorika belaka.

Tidak cukup kebanggaanmu dalam kuantitas ibadah semata.

Tujuan utama da’wah Rasulullah adalah kemuliaan akhlaq (innamaa bu’itstu li utammima makaarimal akhlaaq).

Kalau diibaratkan, di Ilmu Kesehatan Masyarakat, ada tahapan pembentukan perilaku seseorang: pengetahuan (tahu/tidak tahu) -> sikap (setuju/tidak setuju) -> perilaku (mempraktikkan/tidak mempraktikkan).

Tahu belum tentu setuju. Setuju belum tentu mengaplikasikan. Maka tataran terdalamlah yang hendak dicapai Islam, tatkala pengetahuan tentang tuntunan-tuntunan Islam mampu melahirkan kerelaan dalam hati untuk diikuti.. kemudian kerelaan itu melahirkan aplikasi yang manfaatnya berpendar luas kepada masyarakat.

Sistem sosial diatur dengan sedemikian sempurna. Mulai dari hal terkecil seperti menghormati tetangga, menghormati tamu dan menjaga lisan. Tak berhenti dalam harmonisasi tataran keluarga dan komunitas, Islam juga mengatur aspek-aspek kehidupan lainnya.

Pada tataran individu, keshalihan pribadi menjadi pijakan mula-mula, yang kemudian merentas keshalihan masyarakat.. Ibarat pohon, akarnya menghujam kokoh ke tanah, batangnya menjulang tinggi, dedaunannya dihiasi buah-buahan manis yang dapat dinikmati makhluk-makhluk di sekitarnya.

Aku masih (dan selalu) ingin belajar menjadi muslimah yang kaffah (komprehensif). Akan lebih indah bila kau juga ikut bersamaku :’) Percayalah sobat muslim dan muslimah, kau berada dalam cahaya yang sedemikian hangat dan indah :’)

Ayo masuk, jangan ragu. Pintu terbuka lebar. Tinggal kakimu memilih untuk melangkah ke dalam, atau melewatkan kesempatan untuk memeluk cahaya itu erat-erat.