Gadis yang Suka Mengobrol


Aku adalah gadis yang suka mengobrol.

Aku suka mengobrol dengan mereka yang bisa membuat sisi intelektualitasku tertantang. Berpikir. Memutar otak. Memproses input yang masuk. Menambahkan konteks realitas dalam teori. Membuat ‘teori’ sendiri berdasarkan obervasi atau bacaan masing-masing.

Aku juga suka mengobrol dengan mereka yang mengajak hatiku merasa. Peduli pada sekitar. Memperhatikan orang-orang yang tak terperhatikan. Mengesampingkan ego. Kadang, menangis.

Aku juga suka mengobrol dengan mereka yang artistik. Menangkap pesan tak tertulis dari alam. Menerjemahkan pesan dari peristiwa. Membuat sentuhan dalam tulisan, nada atau lakon.

Aku juga suka mengobrol dengan anak-anak dan logika kanak-kanak mereka yang ‘lovable’. Tertawa lepas. Mengernyitkan dahi saat berusaha menjawab pertanyaan mereka dengan bahasa yang mudah dicerna. Menyanyi. Menari. Melompat.

Aku juga suka mengobrol dengan diriku sendiri. Mengapresiasi setiap prestasi kecil yang kubuat–bangun pagi, tersenyum pada orang lain, menyelesaikan tugas dan lain-lain. Menegur setiap kesalahan yang kubuat dan berusaha memperbaikinya.

Aku juga suka mengobrol dengan Pencipta-ku. Dia Maha Baik. Dia utus manusia mulia bernama Muhammad untuk mengajarkan hamba-Nya tentang makna penghambaan yang sejati. Dia turunkan Al Qur’an untuk memandu agar tak tersesat. Dia dengarkan setiap bisik hati dalam sunyi maupun ramai. Dia sediakan sepertiga malam sebagai waktu pertemuan yang istimewa. Dia Maha Baik..

Perkenalkan, aku adalah gadis yang suka mengobrol.

Hana, Nisrina dan Sebuah Piala


Hari ini aku menemani kedua adik sepupu mungilku mengikuti lomba. Sang kakak bernama Hana, sang adik bernama Nisrina. Hana mengikuti lomba menari saman dan lomba mewarnai. Nisrina mengikuti lomba hafalan do’a. Dua kakak beradik itu memiliki karakter yang cukup berbeda. Hana adalah gadis kecil yang pemalu dan lebih sering menyembunyikan apa yang dia rasakan atau pikirkan sehingga orang dewasalah yang harus banyak bertanya. Nisrina adalah gadis kecil pemberani nan cerdas dan rajin bertanya. Bila aku menyebutkan kosa kata yang baru pertama kali dia dengar, Nisrina akan mencecarku dengan pertanyaan, “Itu apa Kak maksudnya?” sampai dia paham dengan penjelasanku. Sampai-sampai aku merasa harus lebih rajin membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia..

Alkisah, pada saat pengumuman, kami mengetahui bahwa Nisrina mendapatkan juara 3 dari lomba yang diikutinya. Orang-orang dewasa di sekitarnya bertepuk tangan riang, berkata selamat pada gadis kecil itu. Tapi saat aku menengok ke arahnya, Nisrina tampak berpikir keras. “Kak, kenapa aku bisa menang?” Aku ingin tertawa saat itu, tapi demi melihat wajah seriusnya, aku berusaha menjawab dengan tenang. “Hm, sepertinya karena tadi Nisrina lancar membaca do’a.” Nisrina mengangguk-angguk. “Oh begitu.” Kemudian barulah wajahnya tampak ceria.

Beberapa menit kemudian Nisrina menghampiri Hana. “Kak Hana, aku kan menang karena lancar baca do’anya. Kak Hana nggak menang karena mewarnainya keluar garis kali. Kak Hana kan harusnya mewarnainya nggak boleh keluar garis.” Aku menahan tawa sekali lagi. Di usia lima tahun, Nisrina memang memiliki nalar yang tajam. Aku melirik sekilas ke arah Hana, ada kilatan sedih di bola matanya.

Saat kami menunggu Nisrina yang maju untuk mengambil hadiah, aku merendahkan tubuhku dan berbisik pada Hana, “Piala itu hanya hadiah yang kecil. Hadiah yang besar itu keberanian yang ada di sini: di dalam hati kita. Hana sudah keren kok. Ayo tos. Aku punya coklat di rumah, nanti kita makan bareng ya sama Nisrina.”

Sekembali Nisrina, Hana tampak lebih ceria. Mereka berdua bisa kembali bertengkar (itu artinya dia kembali normal kan? Hahaha) untuk memegang piala Nisrina. Nisrina yang kegirangan bersikeras memeluk pialanya sepanjang waktu. Tapi pada satu titik, saat tangannya terasa pegal, Nisrina menitipkan pialanya padaku. Pada saat itu kubiarkan Hana memegang piala adiknya. Hana tampak tersenyum di sebelah kiriku. Sementara Nisrina masih sibuk mengoceh di sebelah kananku tentang tas yang baru saja ia dapatkan sebagai hadiah.

Ah, bahkan kanak-kanak tak pernah sadar bahwa diri mereka sendiri adalah hadiah.

Bukan Untuk Sia-sia


image

Reminder 🙂

Tersenyumlah, Bersyukurlah :)


image

Percaya


image

Lampu Merah


image

Tulisan H-1 ujian famed. Alhamdulillah ujiannya sudah terlalui. Semoga Allah mudahkan perjalanan selanjutnya.

Hidup Adalah Tentang..


image

Tentang hidup, amanah dari Yang Maha Hidup 🙂
Another NtMS.

Tanggung Jawab


image

–dikutip dari tulisan lamaku

Kembali dan Beres-beres


Saya memutuskan untuk kembali menulis di WP, setelah kemarin lebih banyak ‘bermain’ di Tumblr dengan sastra dan cerita-cerita ringan. Setelah lama berdebu, selanjutnya saya akan ‘bersih-bersih rumah’ dan mengisi kembali WP ini agar dapat berbagi lebih. To be honest, saya merasa heran dengan pemblokiran beberapa situs Islam, padahal sejak saya mengenal internet, acapkali saya berkunjung dan menggali ilmu dari sana. Tak ada radikalisme, tak ada gaung terorisme. Saya jujur. Beberapa teman membandingkan dengan youtube yang dengan bebas diakses dan justru tak jarang dijejali materi pornografi, kekerasan dan semacamnya. Sedih? Tentu saja. Maka di sini saya akan kembali berkisah mengenai kebaikan dengan bahasa saya yang sederhana 🙂 Semoga Allah memudahkan.

Imperfection


Ada yang bilang, sebagai manusia, imperfection is a perfection. Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan manusia, karena begitulah sifat makhluq (ciptaan). Tidak sempurna. Bila pun ada yang namanya sifat perfeksionis, kita hanya sedang berupaya supaya Dia berkenan menyempurnakan hasil atas upaya tersebut. Begitulah.

Aku sendiri menjumpai berbagai ketidaksempurnaan itu dalam hidupku. Maksudku, bukannya ingin mengeluh, justru ketidaksempurnaan itu yang membuatku menjadi manusia. Bisa menangis tersedu-sedu saat kehilangan. Bisa merasa lega saat ada masalah yang terselesaikan. Bisa menyadari kekurangan diri dan menerima kehadiran orang lain (baca: teman, sahabat). Dan tentunya, menginsafi keberadaan diri sebagai hamba. Bahwa sebagai hamba, kita nggak boleh merasa angkuh dan menolak untuk taat pada Yang Menciptakan kita.

Ungkapan ketidaksempurnaan ini membuatku memaafkan diriku dan kekurangan yang terjadi di masa lalu. Bahkan saat kita mengalami sesuatu yang menyakitkan, sesuatu yang menurut kita ‘tidak sempurna’ untuk menjadi bagian dari kisah hidup, Dia Yang Maha Sempurna tengah menyisipkan pelajaran agar kita bisa berproses menjadi diri yang lebih baik. Bila kita mau mengambil pelajaran 🙂