Sepasang Kakek Nenek dan Seorang Kakek


Pagi tadi sepasang kakek dan nenek diantar ke IGD Puskesmas tempat aku jaga malam. Jam 5 pagi mereka berboncengan motor hendak ke pasar, belanja untuk jualan. Saat hendak berbelok, motor mereka ditabrak oleh motor lain yang melaju lurus dengan kecepatan tinggi.

Sang kakek mengalami perdarahan dari hidung dan mulut, sedangkan sang nenek kuduga mengalami dislokasi sendi bahu kanan, tak pelak aku menyarankan rujuk ke RS. Baju batik yang dimasukkan ke dalam celana kain yang dikenakan sang kakek mengingatkanku pada kakekku sendiri; mereka sama-sama berusia di atas 70 tahun. Aku meringis.

Setelah berkomunikasi dengan keluarga, mereka ingin menyertakan pelaku kecelakaan dalam proses rujukan. Datanglah anak sepasang kakek-nenek tadi dengan seorang bapak tua yang kukira keluarga pasangan tersebut. Ternyata bapak tua itu yang menabrak motor pasangan kakek-nenek yang hendak kurujuk.

Aku menghela napas. Usia sang bapak tua sudah 58 tahun, beliau mengendarai motor sendirian dari Cibinong menuju Karawang. Beliau mengaku tidak mengantisipasi kecelakaan tersebut karena jalanan mulanya kosong.. Sebelum mereka berangkat ke RS, kudo’akan ketiganya supaya sehat dan tak ada trauma yang serius.

Perawat yang berjaga bersamaku bercerita, para lansia di sini sering bepergian sendirian. Pernah datang seorang kakek dengan kecelakaan motor saat hendak mengambil uang pensiun. Ya Allah..

Terbayang di usia lanjut; mata mulai rabun, tubuh tak sekuat saat muda, respon tak segesit dahulu; mereka harus menyusuri jalan raya di Jonggol yang menurutku ‘ganas’..

Seselesai jaga malam, aku menyetir mobilku dengan dada agak sesak.. Seorang kakek hendak menyeberang dengan motornya dua meter di depanku; tubuhnya tampak agak tidak seimbang menahan badan motor sambil memberi sign. Aku memelankan laju mobil dan mempersilakan beliau lewat.

Selain kanak-kanak yang ‘nekat’ membawa motor (pernah kuceritakan di tulisan sebelumnya), para lansia juga rentan menjadi bagian dari kecelakaan lalu lintas. Mudah-mudahan akses transportasi di daerah pelosok dapat diperbaiki sehingga mereka bisa lebih terlindungi.

Jalan Raya di Sini


Di tempatku sekarang, lazim melihat keluarga yang datang berobat dengan mobil bak terbuka. Bila anggota keluarga yang sakit kesulitan untuk duduk, ia dibaringkan di bagian belakang mobil yang diberi alas tikar seadanya.

Pemandangan semacam itu selalu membuatku menghela napas..

Bila tidak ada mobil, anggota keluarga yang sakit dibawa dengan motor, diapit 2 orang–sang pengendara dan satu orang di bagian paling belakang.

Dengan kondisi sedemikian, mereka harus menunggu beberapa waktu bila hujan tiba-tiba menderas.

Salah satu permasalahan yang nyata kamu temukan di daerah-daerah tertinggal adalah keterbatasan akses transportasi. Di daerahku kini ada sebuah angkot biru bertrayek panjang dan mobil bak terbuka berwarna hitam yang diberikan semacam tenda sebagai angkutan umum; namun keduanya hanya menjangkau jalan-jalan besar.

Beberapa kali, saat aku mengikuti ibu-ibu bidan desa untuk menghadiri posyandu atau kegiatan kesehatan masyarakat lainnya, kami harus menempuh jalan berbatu nan panjang yang tidak dilalui angkutan umum sama sekali. Maka bisa dibilang, pemilik mobil bak terbuka maupun motor tergolong cukup ‘beruntung’.

Keterbatasan ini juga menjadi kunci permasalahan lainnya: tingginya angka kecelakaan lalu lintas. Banyak orang tua yang mengizinkan anak-anak di bawah umur (bahkan anak SD!) untuk mengendarai motor. Sudahlah tidak ada SIM, tubuh mereka masih terlalu ‘ringan’ untuk mengendalikan motor yang besar saat memerlukan manuver di jalan raya, emosi belum matang, jarang memerhatikan spion, tidak pakai helm pula.

Aku dan teman-temanku sering menjumpai korban-korban cedera kepala berat, patah tulang dan bentuk trauma lainnya pada para pengendara motor semacam ini. Astaghfirullah…

Maka sekali lagi, aku semakin mengerti.. Masalah kesehatan bukan hanya tanggung jawab dokter dan petugas kesehatan lainnya; tetapi tanggungjawab seluruh dimensi yang ada di negeri ini.

Pelan tapi pasti harus dibenahi.

Perjalanan


“Kamu ingin menemukan atau ditemukan?” ujarku saat itu

“Ditemukan.” Kamu berkata mantap. Hanya berjeda 2 detik antara pertanyaanku dan jawabanmu.

Aku merapikan anak rambut yang mengintip dari balik kerudung. Hei, kalian jangan nakal.

Kamu menyesap teh hangat yang kamu buat dengan takaran kesukaanmu: dua sendok teh gula, air panas yang didiamkan 5 menit setelah mendidih dan sekantung teh yang tak lebih dari 3 menit digenangi air.

“Kenapa?” Pertanyaanku lebih seperti ditujukan kepada diri sendiri. Tentu saja aku tahu jawabannya, kita sering membicarakan ini hampir setiap kali bertemu. Tapi kamu, sebagai sahabat terbaik sejagat raya, dengan murah hati menjawabnya untukku.

“Karena kita perempuan, my dear.” Senyum manismu tersulam di akhir kalimat.

Aku menyesap teh hangat yang kamu buatkan dengan takaran kesukaanmu.

“Bila aku belum ditemukan, aku ingin memilih perjalananku sendiri. Aku tidak ingin menoleh ke belakang. Aku akan menyapa setiap bebungaan dan ilalang yang menghuni taman-taman yang kulewati. Aku akan menari bersama angin dan aliran air. Aku ingin berarti. Boleh kan?”

Kamu tertawa kecil. Sejak kapan aku meminta izin atas apa yang akan kulakukan? Tapi kamu, sebagai sahabat terbaik sejagat raya, dengan murah hati menjawabnya untukku.

“Tentu saja boleh, my dear. Berjalanlah dengan hati yang damai dan pemberani. Pada hari yang terbaik, kamu akan dipertemukan dengan ia yang menemukan.”

Aku menganggukkan kepalaku. Hujan mulai reda di luar sana. Dengan antusiasme kanak-kanak, aku menggamit lenganmu.

“Keluar yuk, aku mau lihat pelangi.”

–10 Desember 2016, percakapan imajiner saat menyelesaikan jaga malam

Metafora Hati


Kadang ia seringan kapas; lembut dan putih

Kadang ia seberat kapal yang tenggelam ke dasar lautan; berat dan kelam

Kadang ia sesederhana bahagianya kanak-kanak saat menggigit es krim kesukaannya

Kadang ia serumit soal-soal fisika dalam seleksi olimpiade internasional

Kadang ia secerah matahari pada suatu pagi yang indah

Kadang ia sekelabu gumpalan awan yang bergelung mengantar badai

Kadang ia sehangat secangkir teh di tengah rinai hujan yang semarak

Kadang ia sedingin es balok yang berhimpitan pada gerobak kayu di sebuah sudut pasar

Kadang-kadang, ia tak dapat diumpamakan sebagai apapun.

 

Fifah, 5 Desember 2016, dalam permainan kata-kata

Buku-buku ‘Cahaya’


Kekhidmatan kami memandangi Kakbah tiba-tiba tercerabut oleh colekan tangan dari belakang. Rupanya seorang perempuan mencolek pundak saya seraya mengucap salam. Kami serentak menoleh ke belakang. Tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya. Perempuan berjubah putih dan demikian jelita itu berdandan bak peri. Dandanan model orang-orang Iran yang membaluti tubuh dengan kain putih tebal yang terjahit dari atas hingga ujung kaki. Dia memberikan senyum untuk saya. Lalu dia mengangsurkan sebuah pena hitam. “For me?” tanya saya terbata. Saya mengedarkan pandangan ke Tutie, Tatik, dan Rina. Mengapa pena ini tidak diberikan kepada salah satu dari mereka? Mengapa saya? Dia tidak menjawab. Mungkin tidak bisa berbahasa Inggris. Dia hanya mengangguk. Dan satu kata darinya yang tidak pernah saya lupakan selama hidup saya: “To write.”

–Hanum Salsabiela Rais dalam Berjalan di Atas Cahaya

berjalan-di-atas-cahaya-hanum-rais

Kutipan tulisan di atas saya salin dari bagian Epilog–bagian favorit yang berhasil membuat saya menangis karena rindu menghadirkan jiwa dan raga saya di tanah suci–salah satu karya Mbak Hanum Rais, dkk yang berjudul “Berjalan di Atas Cahaya.”

Mbak Hanum Rais adalah salah satu penulis kesukaan saya. Membaca tulisan-tulisan beliau membuat saya merasa terkayakan secara intelektual, perasaan hingga jiwa melalui kisah-kisah yang sebagian besar bertemakan Islam dan muslim di tengah-tengah masyarakat barat dengan penuturan yang cerdas serta lugas.

Perjalanan saya mengikuti karya-karya Mbak Hanum Rais tidak terjadi secara berurutan. Karya pertama beliau yang membuat saya jatuh hati adalah buku “Bulan Terbelah di Langit Amerika” yang kemudian diikuti dengan film layar lebar dengan judul yang sama. Selanjutnya saya membeli buku “Faith and The City” yang terbit beberapa waktu setelah Bulan Terbelah di Langit Amerika selesai tayang.

Seperti bisa diduga, efek ‘adiksi buku’ membuat saya mengejar ketertinggalan saya dalam menyimak karya Mbak Hanum. Bulan lalu buku “Berjalan di Atas Cahaya” mampir di pangkuan saya, dan setelah ini tampaknya saya akan berjalan mundur untuk menyesapi “99 Cahaya di Langit Eropa”. (Semoga biaya bantuan hidup internsip bulan ini turun supaya saya bisa ‘menebus’ novel tersebut di toko buku).

Dalam waktu dekat, saya menantikan film “Bulan Terbelah di Langit Amerika 2” yang akan tayang di layar lebar. Insya’ Allah Mbak Hanum Rais juga sedang menantikan kelahiran buah hatinya tercinta di bulan ini. Mudah-mudahan Allah lancarkan prosesnya, Mbak 🙂

Jalan Mana


Kira-kira sepuluh kali aku mengetik-menghapus-mengetik dan seterusnya kalimat pembuka untuk tulisan kali ini. Alih-alih menemukan kalimat yang terdengar elegan, aku akan menuliskan pengakuan saja.

Oke. Delapan bulan blog ini ditinggalkan. Nasibnya mungkin serupa textbook tebal yang tidak kubawa pindah ke kamar mungilku di Cileungsi; berdebu. Aku masih sesekali menulis di blog pribadiku yang lain (sst rahasia), namun menulis di WP ini rasanya berbeda. Aku ingin menulis sesuatu yang.. mencerahkan? Setidaknya bagi diriku sendiri.

Nyatanya kamu memang tidak selalu berada dalam keadaan ‘terinspirasi’ untuk menulis sesuatu yang.. mencerahkan. Terlebih saat ritme sirkadian tidak terlalu teratur karena menghadapi jadwal jaga yang bervariasi.

Oh ya, aku lupa pernah bercerita atau tidak. Delapan bulan ini aku tengah menjalani program internsip di rumah sakit dan puskesmas yang terletak di bilangan Cileungsi. Ada banyak hal yang terjadi, tentu saja, namun tampaknya perlu waktu yang tak singkat untuk merangkainya menjadi cerita atau pemikiran yang matang. Entahlah, aku jadi sangat perfeksionis bila membicarakan tulisanku sendiri.

Februari. Maret. April. Mei. Juni. Juli. Agustus. September. Oktober. November. Masih ada Desember, Januari dan Februari sampai aku menyelesaikan program ini. Dalam waktu hampir setahun ini tampaknya aku setia pada pendirianku untuk tidak mengambil pendidikan spesialisasi. Sejauh ini aku cenderung lebih menyukai dunia akademik dan penelitian dibandingkan dunia klinisi (saja).

Insya’ Allah setelah menyelesaikan internsip aku akan kembali ke fakultasku. Rencana saat ini berkisar antara magang di Pusat Studi TB-HIV sembari mempersiapkan mengambil master di bidang Epidemiologi atau Public Health.

Salah seorang mentor di sebuah workshop penelitian yang kuikuti pernah berkata, “Kamu masih muda, kalau memang kamu sudah tahu apa yang ingin kamu lakukan, ikuti jalannya. Kalaupun ternyata ada yang belum sesuai harapanmu, kamu masih bisa memilih jalan lainnya. Kamu punya waktu, tekuni saja apa yang ada di hadapanmu, pasti ada manfaatnya.”

Mungkin saja saat ini aku sedang memilih salah satu jalan besar. Kemudian ada pertigaan atau perempatan, aku akan kembali memilih. Hidup memang terdiri dari entitas pilihan yang kita pilih beserta konsekuensinya kan?

Mudah-mudahan pilihanku senantiasa berada di jalan cahaya🙂 Bismillah.

140216


Intinya,

Secara historis, hari Valentine tidak perlu aku rayakan karena aku tidak terhubung dengan histori tersebut. Sebagai muslim(ah), teladanku adalah Nabi Muhammad. Maka hari yang aku istimewakan hendaknya sesuai dengan hari yang beliau istimewakan.

Secara nilai, hari Valentine tidak sesuai dengan panduan hidup yang aku yakini. Maka aku tidak ikut-ikutan melakukan sesuatu yang dasar nilainya saja sudah berbeda.

Secara konteks, perayaan hari Valentine di dunia banyak digunakan untuk melegalkan hal negatif, tingkat ekstrimnya: seks bebas. Seks bebas ini adalah salah satu perusak generasi. Candu seperti obat-obatan adiktif. Sarana penularan berbagai infeksi menular. Berpotensi merusak masa depan sang perempuan (terutama). And so on.

Maka aku berkata tidak pada perayaan tersebut.

Tahu, Setuju, Berlaku.


Aku pernah berdiskusi dengan seorang teman tentang mengapa seseorang bisa tertular kebiasaan merokok dari lingkungan pergaulannya.

“Karena menurut mereka, merokok itu keren. Merokok menjadi sesuatu yang luar biasa.”

“Bukan Fah, menurutku, justru mereka ikutan karena merokok bagi mereka adalah hal yang biasa. Tidak merokok menjadi hal yang tidak biasa.”

Aku mengangguk saat itu. Sebagian diriku menyetujui perkataan temanku. Sebagian diriku yang lain berpendapat bahwa bisa saja ada alasan lain yang menjadi penyebabnya. Terlepas dari itu, alasan yang dikemukakan temanku dapat diterima.

Ada memang orang yang ikut melakukan sesuatu karena mayoritas orang-orang di sekitarnya melakukan hal tersebut. Supaya dia tidak dianggap aneh. Supaya dia bisa berbaur dengan nyaman. Lalu, dalam merokok misalnya, efek adiksi rokok membuat orang itu tergantung dengan keberadaan rokok meskipun ia sendiri tidak sedang berada di antara orang-orang yang merokok. Rokok menjadi bagian dari hidupnya. Maka sulitlah baginya melepaskan diri dari rokok, kecuali dengan tekad yang kuat.

Memulai melakukan sesuatu tanpa didasari ilmu yang benar memang bisa menjadi hal yang tidak baik bagi kita.

Bisa saja seseorang yang berada di lingkungan para perokok, karena tuntutan pekerjaan misalnya, tidak terpengaruh untuk juga ikut merokok karena dia tahu rokok mengandung berbagai zat berbahaya. Bahkan dia bisa membuat teman-temannya menghormati prinsip tersebut dengan cara yang baik. Bukan tak mungkin dia menjadi inspirasi bagi teman-temannya untuk berhenti merokok.

Ilmu memberikan kita pilihan untuk melakukan hal yang baik dan benar. Pilihan itu memang nyata. Toh ada juga orang yang tahu rokok itu berbahaya tapi tetap saja merokok, karena sikap yang ia pilih tidak bersesuaian dengan ilmu yang ia miliki. Dalam teori perilaku, ada tiga tahapan yang dapat seseorang lalui dalam melakukan sesuatu: tahu – setuju – berlaku.

Analogi ini berlaku untuk hal-hal lainnya dalam kehidupan. Misalnya, freesex yang mulai menjadi hal biasa dalam kehidupan para muda mudi. Bahkan anak SD. Bahkan anak TK. *nangis mojok*

Atau korupsi. *Contoh ekstrim*

Ah, masing-masing dari kita punya alasan masing-masing sebelum melakukan sesuatu. Aku, ingin melakukan sesuatu dengan ilmu.

Hana, Nisrina dan Sebuah Piala


Hari ini aku menemani kedua adik sepupu mungilku mengikuti lomba. Sang kakak bernama Hana, sang adik bernama Nisrina. Hana mengikuti lomba menari saman dan lomba mewarnai. Nisrina mengikuti lomba hafalan do’a. Dua kakak beradik itu memiliki karakter yang cukup berbeda. Hana adalah gadis kecil yang pemalu dan lebih sering menyembunyikan apa yang dia rasakan atau pikirkan sehingga orang dewasalah yang harus banyak bertanya. Nisrina adalah gadis kecil pemberani nan cerdas dan rajin bertanya. Bila aku menyebutkan kosa kata yang baru pertama kali dia dengar, Nisrina akan mencecarku dengan pertanyaan, “Itu apa Kak maksudnya?” sampai dia paham dengan penjelasanku. Sampai-sampai aku merasa harus lebih rajin membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia..

Alkisah, pada saat pengumuman, kami mengetahui bahwa Nisrina mendapatkan juara 3 dari lomba yang diikutinya. Orang-orang dewasa di sekitarnya bertepuk tangan riang, berkata selamat pada gadis kecil itu. Tapi saat aku menengok ke arahnya, Nisrina tampak berpikir keras. “Kak, kenapa aku bisa menang?” Aku ingin tertawa saat itu, tapi demi melihat wajah seriusnya, aku berusaha menjawab dengan tenang. “Hm, sepertinya karena tadi Nisrina lancar membaca do’a.” Nisrina mengangguk-angguk. “Oh begitu.” Kemudian barulah wajahnya tampak ceria.

Beberapa menit kemudian Nisrina menghampiri Hana. “Kak Hana, aku kan menang karena lancar baca do’anya. Kak Hana nggak menang karena mewarnainya keluar garis kali. Kak Hana kan harusnya mewarnainya nggak boleh keluar garis.” Aku menahan tawa sekali lagi. Di usia lima tahun, Nisrina memang memiliki nalar yang tajam. Aku melirik sekilas ke arah Hana, ada kilatan sedih di bola matanya.

Saat kami menunggu Nisrina yang maju untuk mengambil hadiah, aku merendahkan tubuhku dan berbisik pada Hana, “Piala itu hanya hadiah yang kecil. Hadiah yang besar itu keberanian yang ada di sini: di dalam hati kita. Hana sudah keren kok. Ayo tos. Aku punya coklat di rumah, nanti kita makan bareng ya sama Nisrina.”

Sekembali Nisrina, Hana tampak lebih ceria. Mereka berdua bisa kembali bertengkar (itu artinya dia kembali normal kan? Hahaha) untuk memegang piala Nisrina. Nisrina yang kegirangan bersikeras memeluk pialanya sepanjang waktu. Tapi pada satu titik, saat tangannya terasa pegal, Nisrina menitipkan pialanya padaku. Pada saat itu kubiarkan Hana memegang piala adiknya. Hana tampak tersenyum di sebelah kiriku. Sementara Nisrina masih sibuk mengoceh di sebelah kananku tentang tas yang baru saja ia dapatkan sebagai hadiah.

Ah, bahkan kanak-kanak tak pernah sadar bahwa diri mereka sendiri adalah hadiah.

Bukan Untuk Sia-sia


image

Reminder 🙂