Perjalanan


“Kamu ingin menemukan atau ditemukan?” ujarku saat itu

“Ditemukan.” Kamu berkata mantap. Hanya berjeda 2 detik antara pertanyaanku dan jawabanmu.

Aku merapikan anak rambut yang mengintip dari balik kerudung. Hei, kalian jangan nakal.

Kamu menyesap teh hangat yang kamu buat dengan takaran kesukaanmu: dua sendok teh gula, air panas yang didiamkan 5 menit setelah mendidih dan sekantung teh yang tak lebih dari 3 menit digenangi air.

“Kenapa?” Pertanyaanku lebih seperti ditujukan kepada diri sendiri. Tentu saja aku tahu jawabannya, kita sering membicarakan ini hampir setiap kali bertemu. Tapi kamu, sebagai sahabat terbaik sejagat raya, dengan murah hati menjawabnya untukku.

“Karena kita perempuan, my dear.” Senyum manismu tersulam di akhir kalimat.

Aku menyesap teh hangat yang kamu buatkan dengan takaran kesukaanmu.

“Bila aku belum ditemukan, aku ingin memilih perjalananku sendiri. Aku tidak ingin menoleh ke belakang. Aku akan menyapa setiap bebungaan dan ilalang yang menghuni taman-taman yang kulewati. Aku akan menari bersama angin dan aliran air. Aku ingin berarti. Boleh kan?”

Kamu tertawa kecil. Sejak kapan aku meminta izin atas apa yang akan kulakukan? Tapi kamu, sebagai sahabat terbaik sejagat raya, dengan murah hati menjawabnya untukku.

“Tentu saja boleh, my dear. Berjalanlah dengan hati yang damai dan pemberani. Pada hari yang terbaik, kamu akan dipertemukan dengan ia yang menemukan.”

Aku menganggukkan kepalaku. Hujan mulai reda di luar sana. Dengan antusiasme kanak-kanak, aku menggamit lenganmu.

“Keluar yuk, aku mau lihat pelangi.”

–10 Desember 2016, percakapan imajiner saat menyelesaikan jaga malam

Advertisements

Perjalanan: Fisik, Akal dan Hati


Saat saya menuliskan ini, saya sedang berada di sebuah travel menuju daerah rumah saya, Tangerang Selatan. Jalan tol sedang cukup padat dan, ya, agak merayap. Saya sedang tidak mengantuk atau berminat membaca buku elektronik yang berada di laptop saya. Jadi, saya memutuskan untuk.. bercerita.

Tidak terasa sudah beberapa kali saya menempuh perjalanan Jatinangor-Bandung-Tangerang Selatan dalam tiga tahun ini. Kadang bersama keluarga atau teman, tapi lebih banyak sendiri. Waktu sendiri ini memberikan diri saya kesempatan untuk merefleksikan apa yang sudah saya lalui. Ya, memang itu kan hebatnya sebuah perjalanan? Memberikan ruang perenungan bagi mereka yang sedang menempuhnya. Ada beberapa kalimat yang saya sukai dari sebuah buku yang dipinjamkan teman saya, Nadya, judulnya The Last Concubine.

Perjalanan sepertinya membuat batasan-batasan yang ada menjadi berkurang, walau hanya sementara. “Perjalanan adalah kehidupan manusia.”

Hal pertama yang terlintas saat membaca bagian tersebut adalah, “Oh ya, itulah mengapa, saat menempuh perjalanan jauh, seorang perempuan harus didampingi oleh mahromnya.” Hehe. Hal berikutnya, saya suka sekali dengan kalimat, “Perjalanan adalah kehidupan manusia.” Bagi saya kehidupan adalah sebuah perjalanan manusia, dan perjalanan adalah salah satu bagian penting dalam kehidupan itu.

Seperti itulah tiga tahun kehidupan saya di dunia perkuliahan: dipenuhi perjalanan. Perjalanan fisik, pikiran dan hati. Pada masa kuliah ini beberapa kali saya bepergian ke tempat baru bersama teman-teman, biasanya karena momen penelitian, seminar atau lomba :” Kadang saya tersenyum sendiri saat mengingat bahwa dulunya untuk pergi ke rumah teman di satu komplek pun saya tidak berani. Tidak kalah penting adalah perjalanan pikiran. Dunia pendidikan adalah tempat wawasan berkembang dengan rimbun. Iya, seperti pohon berakar tunggang dan berkambium yang menemukan setiap yang ia butuhkan untuk tumbuh. Saat saya membayangkan diri saya adalah pohon itu, saya memejamkan mata dan merasakan matahari pengetahuan menyentuh setiap bagian tubuh saya. Tetesan hujan kebijaksanaan yang diberikan oleh guru-guru saya menelusup hingga akar. Menyenangkan.

Lantas, apa yang saya maksud dengan perjalanan hati? Perjalanan hati adalah perjalanan terpenting dari seluruhnya. Setiap pengalaman fisik dan akal yang saya lalui tidak akan berarti tanpa pemaknaan hati saya. Sungguh, pemaknaan terbaik itu adalah saat hati berada dekat dengan Pencipta-nya. Tidak ada artinya bila setelah saya melakukan perjalanan fisik yang melelahkan, saya hanya mengeluh dan terkapar kesal di kamar asrama selepas kegiatan tersebut selesai. Tidak ada artinya saat saya memperoleh input wawasan baru dengan wadah keangkuhan dan pikiran negatif. Saya tidak akan bisa memprosesnya menjadi sesuatu yang bermanfaat. Jadi ya.. jangan rela hatimu mati dalam setiap perjalanan ini. Kamu tidak mau jadi orang yang merugi, kan?

Oh ya, enam bulan lagi saya akan memasuki fase profesi. Insya’Allah tempat belajar saya akan berpindah dari Jatinangor ke Bandung. Do’akan saya, ya.

Semoga Allah selalu membimbing kita untuk melalui setiap perjalanan kita dengan fisik, akal dan hati yang terbaik :”

Regards, Afifah.

Harimau Kecil dan Negeri Dongeng


Negeri dongeng itu tidak ada..

Akhirnya harimau kecil menyadari.

Ke sana kemari ia berlari, mencari negeri dongeng yang dimaksud buku cerita yang ia punya. Ah ya, tentu saja, harimau juga memiliki buku cerita. Kalian saja yang tidak tahu.

Oke, kembali ke harimau kecil kita.

Dulunya, dulu sekali, ia percaya ada satu negeri, atau mungkin dalam kasus harimau, satu hutan rimba, yang penuh penduduk yang saling mempercayai. Mereka saling menghargai. Saling menghormati. Bahkan saling menyayangi. Tulus.

Maka, saat harimau kecil itu harus pergi dari gua untuk belajar. Kata ibunya, ia harus berjuang untuk menjadi harimau yang tangguh.

Harimau kecil itu memandang dunia dengan gambaran negeri dongeng itu.

Ia memulainya dari teman-teman seperjalanannya. Harimau kecil menganggap mereka sahabatnya. Tapi ternyata, tidak semua menganggap harimau kecil sebagai sahabat. Harimau kecil mulanya bingung, tapi ia tidak keberatan. Ia tetap berharap teman-teman seperjalanannya itu adalah salah satu tokoh negeri dongeng. Harimau kecil selalu ingin memiliki teman untuk menjadi tokoh negeri dongeng.

Tapi ia salah. Teman-temannya bukan tokoh negeri dongeng. Mereka menuntut banyak hal, sangat banyak sampai harimau kecil bingung. Padahal kan harimau kecil juga sedang belajar. Mereka mungkin lupa. Kadang, harimau kecil merasa sedih karena hal ini. Saat mereka mampir di kumpulan pepohonan rimbun, diam-diam harimau kecil menangis. Hei, kalian tidak percaya harimau bisa menangis? Harimau kecil bisa. Tapi hanya saat itu. Setelah itu, harimau kecil kembali datang dengan taring-taring kecilnya. Menyeringai nakal.

Ia mencoba memperluas imajinasinya. Mungkin selain teman-teman seperjalanannya, ada yang diam-diam juga merupakan tokoh negeri dongeng. Tapi, sekian lama ia berjalan, berlari, mengamati, ia tidak menemukan gambaran itu..

Mungkin memang benar.

Negeri dongeng itu tidak ada..

Apakah harimau kecil menjadi membenci negeri dongeng? Tidak. Ia mencintai dongeng, sepenuh hatinya. Ia ingin menjadi pendongeng nanti. Tapi, mungkin ada beberapa hal yang perlu dilengkapi dalam dongeng itu.

Para tokoh negeri dongeng yang ada di dunia pun sedang belajar.

Saat mereka sudah selesai belajar, dunia nyata akan jauh lebih indah dari negeri dongeng.

Harimau kecil tahu itu.

Bus Kota Kami


Getar badan bus kota adalah warna pagi

tatkala orang-orang berbondong-bondong menjemput hari

Wajah yang bersih tersapu air

Pakaian yang masih mewangi

Sesekali kepala-kepala bergoyang ke kanan atau ke kiri karena dirundung kantuk

 

Getar badan bus kota adalah puisi sehari-hari,

yang dibacakan sopir Damri kami dengan tulus hati

Ia berbagi kehidupan bagi para pekerja, pelajar hingga anak-anak yang bergelayutan di lengan ibunya

Pemandangan kiri kanan nan hijau, lika liku jalan, sapaan matahari di balik jendela, adalah bait yang kami syukuri

Terima kasih, bus kota kami.

 

–perjalanan Jatinangor-Bandung, dengan buku “Pokoknya Menulis” di pangkuan

Dari Ibu


Apabila cinta bertanya, “Darimana kau belajar aku?”
Kujawab, “Ibu.”

Apabila ketekunan bertanya, “Darimana kau mencontoh aku?”
Kujawab, “Ibu.”

Apabila keberanian bertanya, “Darimana kau memperoleh aku?”
Kujawab, “Ibu.”

Apabila maaf bertanya, “Darimana kau belajar memaafkan?”
Kujawab, “Ibu.”

Apabila kesungguhan bertanya, “Darimana kau berteman denganku?”
Kujawab, “Ibu.”

Apabila kelembutan hati betanya, “Darimana kau bercermin aku?”
Kujawab, “Ibu.”

Kemudian,
Apabila Allah bertanya, “Darimana kau mengenal Aku?”
dengan izin-Nya kujawab, “Ibu. Segala puji bagi-Mu yang telah mengirimkan ibu untuk aku dan adikku.”

–Jatinangor, 3 Mei 2013 (47 tahun yang lalu Ummi terlahir ke dunia)

Tidak Hanya Bicara


Menelusuri kembali jejak-jejak beberapa sastrawan yang saya kenal sejak kecil memberikan kesadaran tersendiri.

Sastra adalah salah satu bentuk perjuangan. Sastra tidak hanya berbicara cinta, seperti yang lazim dipahami oleh orang-orang saat ini. “Jika orang jatuh cinta, mereka akan menjadi puitis.” Ya, seolah mereka pujangga, tapi bukan artinya semua puisi berbicara cinta.

Sastra juga berbicara politik, sosial, moral, pembangunan, hingga pengetahuan.

Sastra berbicara dengan penuh tenaga. Bahasanya lantang dan lugas.

Pesannya tersampaikan dari generasi ke generasi.

Renungannya terwarisi hingga sang penulis tidak ada.

Itulah mengapa, saya jatuh cinta pada sastra. Berjuang dengan kata, karsa dan karya.

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia oleh Taufiq Ismail


Karya : Taufiq Ismail

I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga Ke Wisconsin aku dapat beasiswa Sembilan belas lima enam itulah tahunnya Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya, Whitefish Bay kampung asalnya Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy Dan mendapat Ph.D. dari Rice University Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army Dulu dadaku tegap bila aku berdiri Mengapa sering benar aku merunduk kini

II
Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak, Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata Dan kubenamkan topi baret di kepala Malu aku jadi orang Indonesia.

III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan, senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal, anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden, menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat¬sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar¬besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak putus dilarang-larang
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah, ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja, fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor pertandingan yang disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula pembantahan tarang-terangan yang merupakan dusta terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan, dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak, Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata Dan kubenamkan topi baret di kepala Malu aku jadi orang Indonesia.
1998

 

Sumber : http://taufiqismail.com/malu-aku-jadi-orang-indonesia/213-malu-aku-jadi-orang-indonesia

 

Saya senang sekali, menemukan website Pak Taufiq Ismail. Beliau adalah sastrawan yang saya kagumi hingga kini.

Wanita Senja Itu


Nenek Naik Haji

Sumber gambar : http://www.tempo.co/read/news/2011/11/08/137365408/Cita-cita-Nenek-110-Tahun-Naik-Haji-Terwujud

Wanita senja itu tertidur di sampingku

Mataku memandangnya sedikit dari sisi kertas-kertas di hadapanku

Ah ya, wajahnya tampak lelah

Suaranya mulai sengau karena terbiasa tertidur digigit cuaca yang dingin

Diam-diam aku selalu terenyuh menatapnya

Ia seusia nenekku apabila nenek belum meninggal

Dulu nenek adalah nenek yang bahagia

Saat libur, kadang kami bermain ke tempat nenek

Kadangkala, nenek yang datang ke tempat kami, menemani cucu-cucu kecilnya yang selalu kelebihan energi

Masakan nenek adalah favoritku

Sebenarnya, omelan nenek waktu aku memanjat pohon atau bermain jauh dari rumah juga favoritku saat ini, atau tawa gelinya saat aku mengunci pintu kamar untuk bersikeras membolos sekolah karena takut disuntik imunisasi cacar, tapi dulu aku tidak sadar

(oh ya, alhasil, aku harus menghabiskan liburanku dengan cacar karena kekonyolanku)

Nenek adalah sebagian dunia masa kecilku, semoga Allah memberikan kenikmatan terbaik baginya di alam barzakh

 

Wanita senja itu datang ke dalam kehidupanku saat aku memasuki kuliah

Ia adalah penjaga indekos yang aku tempati

Aku suka tawa renyahnya atau ledekan yang kental berbahasa Sunda saat kami mengisi waktu luang bersama

Bahkan aku berhipotesis bahwa sebagian kekonyolan kami menular padanya,

“Nenek yang berjiwa muda.”

Wanita senja pemilik semangat fajar

Tugasnya yang melimpah sejak Shubuh belum juga tiba hingga malam sudah larut tak pernah menyurutkan keceriaannya

Mungkin ia adalah contoh manusia sanguinis yang patut dicontoh, ceria sekaligus gigih

Sesekali, ya, sesekali memang ia sering bercerita mengenai dirinya yang masih harus bekerja di usia senja

Ia memiliki dua orang anak di tempat yang terpisah jauh dari sisinya

Salah seorang cucu perempuannya sering datang ke tempat kami,

gadis yang lebih muda dari adikku, selalu menatap kami malu-malu

Bila gadis itu sedang ‘pemberani’, aku memanfaatkan momen itu untuk menggodanya

Sepertinya seru, mungkin kami bisa berteman seperti aku dan neneknya

(wow, pertemanan masa kini memang tidak pernah memandang usia)

 

Pukul 23.00, aku membangunkan wanita senja itu

Ia harus mengunci pintu dan gerbang indekos kami yang terdiri dari tiga bagian

Matanya merah, aku tahu kantuk masih menggelayutinya

Tapi itu lebih baik daripada membiarkannya tidur tanpa selimut di sofa

Aku teringat nenekku yang bahagia

Lalu bertanya, “Apakah wanita senja itu adalah nenek yang tidak berbahagia?”

Suatu hari ia bercerita padaku, pernah, ia berharap tidak harus bekerja di usianya yang senja

Aku mengangguk, membayangkan nenekku yang rajin berkunjung dan bermain dengan kami

Ummi juga pernah berkomentar saat wanita senja itu sakit,

“Memang beliau harus bekerja ya, Kak?”

Aku teringat nenekku yang bahagia

Wanita senja itu punya harapan yang sama,

tetapi keadaan memilihkan realitas yang berbeda

Maka pertanyaan itu membuatku terdiam, “Apakah wanita senja itu adalah nenek yang tidak berbahagia?”

Kebahagiaan itu sifatnya sangat personal

Ada yang didampingi syukur, ada yang didampingi sabar

Meskipun wanita senja itu pernah mengharapkan yang berbeda,

pertama-tama ia bersabar,

ujarnya, “Tapi ya ibu ikhlas, Neng. Kalau Allah ingin ibu mengumpulkan pahala dengan jalan seperti ini, mudah-mudahan bisa jadi bekal masuk surga.”

kemudian ia bersyukur

Kebahagiaan itu bersahabat bersama keimanan, indah.

 

Wanita senja itu tidak sendirian,

Ada wanita-wanita senja lainnya di lingkungan indekos kami

Ada wanita-wanita senja lainnya yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang sederhana setiap hari

Diam-diam aku selalu terenyuh menatap mereka,

sekaligus malu dengan usahaku yang kalah dengan mereka dengan selisih usia yang jauh

Diam-diam aku menyisipkan do’a untuk mereka,

agar kebahagiaan itu mendampingi kehidupan mereka, bersama keimanan yang teguh

Karena di surga, tidak ada nenek-nenek

Setiap wanita akan menjadi perempuan jelita yang berbahagia

 

p.s. : mimpi terbesar mereka di dunia adalah berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji, semoga Allah mengabulkannya. Aamiin.

Menarik, What?


“Menurut lo, laki-laki yang menarik itu seperti apa?”

Pertanyaan iseng itu terlontar suatu ketika.

Ya ampun, dikira magnet kali ya, menarik. Haha.

Aku hanya tertawa kecil, malas menjawab.

Tapi teman bicaraku tidak menyerah. Dia perempuan kok, tenang saja. Jadi bukan seorang berkromosom XY yang sedang menggali sudut pandangku yang sering agak tak biasa. Aman.

“Hm?”

Ham hem ham hem. Aku terkikik geli sendiri. Wajahnya tidak lepas dari raut membujuk. Baiklah, Nona manis.

“Aku nggak mau ah ngira-ngira si A menarik, atau si B menarik. Main hati lagi, Neng. Capek juga kali, kan mau ngejaga hati sampai boleh merasa nyaman atas perasaan yang muncul.”

Teman bicaraku mencibir.

“Ribet deh ngomong sama lo.”

Aku nyengir. Tanganku bergerak menjawil pipinya.

“Ih ngambek. Bukan gitu Nona manis, aku kan juga manusia, pasti pernah juga lah ada rasa suka yang muncul. Tapi kalau aku membenarkan itu, aku meneruskan itu, nanti susah banget buat ngejaga hati. Bukannya nggak boleh suka sama orang, tapi konsekuensi kalau kita berlarut dengan itu kan besar, nanti jadi banyak mikirin, jadi pengen merhatiin, jadi mau ngertiin tralalala. Padahal Allah belum ngizinin kita kayak gitu sebelum ada ikatan yang halal. Nah, menilai orang menarik atau nggak jadinya nanti main rasa, main hati, capek. Maksud aku, kalau ngasosiasiin sama orangnya, nantinya jadi ada harapan, padahal angan-angan panjang nantinya jadi salah satu langkah syaithan ngalahin kita.”

“Aaaaa, kan gue juga nggak nanya lo suka sama siapa. Gue juga nggak nyuruh lo pacaran, gue juga nggak suka kok. Oke, gue ganti pertanyaannya. Orang kayak apa yang lo pengen dia jadi suami lo?”

Gubrak.

“Rahasiaaaaa.”

“Woy, pelit banget sih. Kasih tahu dikit kenapa. Gue kan lagi nyari referensi. Pengen nge-setting, nanti gue juga maunya sama yang kayak gimana.”

Kali ini aku tertawa lepas.

“Jiah, keren juga temenku yang satu ini. Aku kasih tahu yang general aja ya.. Kalau kecocokan nantinya mah, menurutku, personal sifatnya. Kayak baju kan, nggak semua yang bagus kelihatannya cocok buat kita. Bisa aja pas dipake kesempitan. Nggak enak. Semacam lock and key lah kalau enzim.”

Teman bicaraku mengangguk bersemangat. Akhirnya dia berhasil.

“Oke. Gitu dong, temen gue memang baik.”

“Yaa, hm.. Secara general, saat seseorang datang memintamu, iyakan seorang laki-laki yang dekat dengan Islam. Bukan hanya secara konsep, tapi juga sampai implementasi. Lihat akhlaqnya. Gimana akhlaqnya pada orang-orang terdekat. Ayah, Ibu, Kakak, Adik, Om, Tante, Sepupu, Sahabat, Teman, Guru. Gimana dia menurut tetangga. Gimana dia ke anak-anak. Kamu nggak akan pernah bisa membayangkan menikah dengan seorang laki-laki yang kasar pada anak-anak, kasar ke perempuan, kasar ke ibunya sendiri. Meskipun kamu mengatasnamakan cinta, cinta itu akan jadi cinta yang menyakiti. Cinta itu take and give, bukan berkorban satu pihak atau menzholimi yang lain. Jadi ya, itu, dekat dengan Islam. Dari hati, sampai tingkah laku. Seseorang yang nggak kehilangan semangat untuk meneladani Rasulullah.”

“Hmm.. so sweeet.”

“Gula kali.”

“Eh, permen juga manis lho. Buah juga.”

“Kan mereka memang ada gulanya. Ada sukrosa, ada glukosa, itu kan gula..”

“Fruktosa deh seinget gue..”

“Bla bla bla. Bla bla bla.”

Kemudian obrolan mengalir entah ke mana lagi.

Memang nggak pernah habis kalau berhadapan dengan teman bicara yang punya bakat iseng sejak lahir.

Taare Zameen Par (sebuah film)



Taare Zameen Par 3

My Story

Ishaan Awasthi is an eight year old whose world is filled with wonders that no one else seems to appreciate; colours, fish, dogs and kites are just not important in the world of adults, who are much more interested in things like homework, marks and neatness. And Ishaan just cannot seem to get anything right in class.

And so, he gets into far more trouble than his parents can handle, he is packed off to a boarding school to ‘be disciplined’. Things are no different at his new school, and Ishaan has to contend with the added trauma of separation from his family.

One day a new art teacher bursts onto the scene, Ram Shankar Nikumbh, who infects the students with joy and optimism. He  breaks all the rules of ‘how things are done’ by asking them to think, dream and imagine, and all the children respond with enthusiasm, all except Ishaan. Nikumbh soon realizes that Ishaan is not happy being at school, and set out to discove why. With time, patience and care, he ultimately helps Ishaan find himself.

Ishaan Nandkishore Awasthi

My name is Ishaan and I am 8 years old. I love colours, fish, shiny things, dogs, golas, spaceships and kites. I love to draw and paint and be bindaas. I don’t want to go to boarding school. I promise I will try to study harder.

Nandkishore Awasthi

My father goes to office and works very hard. Sometimes he brings me presents. He gets very angry when my teachers from school complain. Papa says that only Boarding school will teach me DISCIPLINE.

Maya Awasthi

Mama loves me very much. I also love mama. She makes me good food and looks after me when I get hurt. I do my homework with her. She is very sad that I have to go to boarding school but she thinks it will be for the BEST.

Yohaan Awasthi

I love my Dada. Dada is a very good student. He wins lots of prizes. Dada also plays tennis and cricket. Dada works very hard and studies everyday. I am very proud of him. He also looks after me . I love Dada.

My Teachers

My teachers think I misbehave. They like to put red marks all over my books.

Ram Shankar Nikumbh

Nikumbh sir is very nice. He doesn’t scold me like the other teachers. He has a very nice smile and he likes colours and fish and dogs and painting too! Nikumbh sir taught me many new things which are also fun. When I grow up I want to be like Nikumbh sir.

Rajan Damodaran

Rajan is my best friend. He is very smart and intelligent and a good student and always knows the answers to all the questions. He always tries to be helpful to me.

Sumber : http://www.taarezameenpar.com/ -> Harus banget buka situsnya, unik :’)

—–

Jadi, apa yang ingin saya ceritakan?

Sebuah film yang sudah tiga kali saya tonton ulang. Jalan ceritanya adalah seperti yang saya kutipkan dari situs Taare Zameen Par.

Secara pribadi, saya menyukai jalan cerita dan pemeran-pemerannya yang menyentuh. Ishaan dan Rajan yang natural, sahabat bagi satu sama lain.. Yohan yang perhatian sama Ishaan, kakak banget. Mama yang matanya selalu penuh cinta. Papa yang keras, sempat mengalami beberapa masa sulit untuk mengakui kesalahannya sendiri, tapi akhirnya sadar dan ingin berubah. Nikumbh yang penyayang dan berdedikasi tinggi.

Seperti Anna Sulivan untuk Helen Keller, ada Nikumbh untuk Ishaan.

Film ini membuka mata, membuka hati. Nalar main, perasaan campur aduk. Terlebih bagi mereka yang menyukai dunia anak-anak, Taare Zameen Par benar-benar menarik.

Sarat nilai pendidikan dan perjuangan, yang, bagi saya, istimewa.

Bagaimana memandang sisi positif seorang anak dan menemukan cahayanya.

Bagaimana cara Nikumbh memahami dan mendekati Ishaan yang sudah banyak terluka. Menyaksikan interaksi Ishaan dan Nikumbh, ada banyak sisi diri yang ‘meleleh’. Setiap anak adalah bintang.

Taare Zameen Par.

Setiap anak adalah bintang. Saya jatuh cinta dengan bintang-bintang itu.

p.s. : Sepenuh hati saya merekomendasikan film ini.