Mainan


Mending beli makanan, Dek, kenyang. Daripada beli mainan, bisa rusak, terus nggak kenyang pula.

 

seorang ibu kepada anaknya di lorong Puskesmas.

Bagi sebagian dari mereka, membeli mainan adalah suatu kemewahan.

Advertisements

Yuk Mampir


Setelah mengotak-atik blog dan aplikasi paint, sekarang suka banget sama tampilan blog BAKTI NUSA Bandung :”

Ada warna biru, hijau dan putih favorit saya. Hehe.

Yuk mampir.

Blog Bakti Nusa Bandung

Sungguh, saya tidak narsis.

“Berceritalah”, Ujar Mereka


Meski semua orang berkata, “Berceritalah..”, tidak semua dari mereka akan benar-benar mendengarkan.

Tidak setiap kali kamu bercerita, itu akan menjadi hal yang bermanfaat bagimu.

Apalagi bagi orang lain.

Kesibukan mereka memintamu untuk mengerti, untuk menunda cerita, atau menyelesaikan permasalahanmu sendiri.

Ini kehidupan dengan setiap macam ujian.

Ada masa ujian-ujian itu terasa berat. Kamu akan tahu siapa yang peduli, siapa yang rela menerima kamu bahkan dalam kondisi terburukmu. Mereka tidak hanya ada saat kamu cukup cemerlang. Mereka rela menemanimu di ruang yang gelap dan menjemputmu untuk keluar dari sana.

Mereka tidak menyebutmu, “Bodoh”, setahu apapun kamu bahwa saat ini siapapun pantas menyebutmu begitu.

Kamu harus keluar. Matahari itu cerah. Bunga-bunga sudah mekar. Burung-burung sudah bermain ceria.

Meskipun nanti badai akan menyambutmu lagi, kita akan menghadapinya bersama. Tidak ada salahnya merasa takut. Kamu akan menjadi dewasa dan kuat saat berani melewatinya.

Yang terpenting, kamu tidak boleh kehilangan Dia.

Setiap luka akan menjadi cahaya.

Cerita Skripsi (2) : Skripsi = Rizki


Skripsi itu, ibarat rizki.

Setiap orang harus menjemputnya, mengusahakan yang terbaik untuk menjalani proses meraihnya.

Belajar untuk tidak dibuat iri oleh progress skripsi orang lain.

Belajar untuk bersyukur atas setiap bagian skripsi yang diselesaikan, pun itu sebuah judul.

Skripsi tidak akan salah waktu atau orang, semua sudah tertulis di lauh mahfuzh.

Insya’Allah, jika kita sungguh-sungguh memberikan do’a-usaha-ikhlas-tawakkal terbaik, Allah mudahkan, bahkan dari jalan yang tidak kita duga-duga.

Karena prosesnya panjang dan mau tidak mau harus dijalani, yuk nikmati saja.

Allah kasih pembelajaran di dalam setiap penjemputan rizki atau penyelesaian rizki.

Mudah-mudahan jadi amal ibadah yang diridhoi Allah.

Ikan di AIR34


 

Nemu video ini di Facebook, di mana saya ditag oleh Kak Respati, yang katanya disuruh Kak Doli, haha, apapun deh. Yang jelas, menyaksikan video seperti ini bisa membangkitkan semangat. Saya mendapat lebih dari sahabat dalam Rohis SMAN 34 Jakarta (lengkap, ya?), saya mendapatkan saudara. Saudara yang setia mendo’akan, mengingatkan, menyapa dengan sederhana, tak peduli sejauh apa jarak di antara kami.

Sayangnya tidak setiap liburan saya bisa bertemu manusia-manusia luar biasa ini.

Kakak-kakak kelas yang selalu sabar menghadapi kami. Yang rela nemenin nangis (oke, saya memang punya stok kelenjar lakrimal yang agak berlebihan), yang gak pernah lelah nyemangatin, yang gak pernah bosan menginspirasi (please ya, serangan inspirasi kayak gini gak pernah lepas sampai sekarang), yang selalu ada untuk menjawab pertanyaan, bahkan diajak berdebat pun masih tersenyum santai.

Teman-teman seangkatan, seperjuangan ! Aku selalu iri pada kalian yang bisa balik ke sekolah, Da’wah Sekolah itu istimewa sekali, kan? Akhwat-akhwat jagoan yang saya sayangi sepenuh hati (pasti nggak ada yan nyadar deh >_<). Kawanan ikhwan yang ‘menyebalkan’. Mereka gak percaya saya bisa berbicara dengan santai di depan umum seperti bulan Romadhon kemarin. Baiklah, kalian memang partner perjuangan yang luar biasa. Saya salut pada kedewasaan kalian saat kita bekerja sama. Tidak semua orang bisa seperti itu, ternyata.

Adik-adik kelas yang sekarang sudah gak bisa dibedakan, “Mana kakak kelasnya, mana adik kelasnya.”

Kita semua ikan-ikan yang berenang di AIR34, ikatan alumni Rohis 34.

Maafkan ikan satu ini yang pindah kolam ke Jatinangor dengan jadwal yang anomali. Saling mendo’akan. Oke?

SemangKA ! Semangat Karena Allah !

Dunia Bagi Para Pendiam


Kami bukannya sebegitu pendiam,

bukannya tidak punya sesuatu untuk dikatakan.

Kami hanya tidak tahu bagaimana mengatakannya,

atau bagaimana menyertakan ekspresi di dalamnya.

Jika dunia tidak terlalu mengharapkan intonasi,

kami akan dengan bebas mengungkapkannya.

Jika dunia tidak terlalu berkeberatan dengan ‘tanpa’ ekspresi,

kami akan lebih bebas menuturkan semuanya.

Terlalu sedikit ruang untuk orang-orang ‘pendiam’,

lagipula kami tidak keberatan.

Kami suka mengamati dan merenungkan beberapa hal dari pengamatan itu.

Kami suka mendengarkan dan membuat orang lain menyadari bahwa mereka didengarkan.

Kami suka duduk dengan tenang untuk menyeimbangkan dunia yang terlalu ramai.

Bukan sedemikian takutnya kami, kami hanya lebih lama bersabar.

Kami menunggu mengatakan hal yang tepat di saat yang tepat,

atau,

menuliskannya.

Seperti itulah.


“Hei Non, jadi sebenarnya kamu ingin menjadi apa?”

Dia lagi. Kali ini pertanyaannya sangat mengganggu.

“Kenapa malah menatap balik seperti itu? Jawab !”

Mataku jelas-jelas makin melotot. Tidak bisakah dia mengatakannya dengan lebih sopan?

“Aku ingin menjadi dokter.. dan bermain dengan anak-anak.”

“Hah, sudah kuduga. Kamu memang masih saja bodoh. Memang ada hal seperti itu di kamus dunia ini?”

Aku tidak tahan lagi. Tubuhku tegak kali ini, menatap tepat ke dalam matanya.

“Enak saja aku bodoh. Aku sudah menyimpan dua hal itu dalam waktu yang lama, dan kamu tahu, berapa banyak tenaga yang dibutuhkan untuk tidak menghapus mereka dari pikiranku? Aku punya dua hal itu. Aku tidak tahu dunia mendefinisikannya sebagai apa saat ini. Mungkin kalau perlu, aku yang akan melakukannya pertama kali untuk dunia.”

Dia meringis. Gadis di depannya ini memang keras kepala, mungkin begitu pikirnya.

“Apa?” Kali ini aku yang memulai berteriak.

“Ya sudahlah, saya tidak bisa mengerti jalan pikiran gadis bodoh sepertimu sekarang. Lakukan apa yang menurutmu benar. Semoga dunia membuatmu mengerti.”

Serangkaian kalimat terlintas di pikiranku, tapi kali ini tidak kulontarkan hingga ia pergi. Dengan sikapnya yang menyebalkan.

Aku yang akan membuat dunia mengerti. Kamu dengar itu?


Kalau kau tak sanggup menjadi beringin yang tegak di puncak bukit, jadilah saja belukan, tapi belukan terbaik yang tumbuh di tepi danau. Kalau kau tak sanggup menjadi belukan, jadilah saja rumput, tapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Tidak semua jadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya. Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu. Jadilah saja dirimu, sebaik-baiknya dirimu sendiri.

–Soe Hok Gie


“semua sudah selesai. kamu boleh pergi dari sini. jangan kembali lagi, kumohon.”

bisikku ditelan badai.

kau bergeming.

“saya akan pergi, tapi tak pernah berjanji untuk kembali atau tak kembali.”

lalu langkah itu menjauh.

semua sudah selesai, ulangku. tidak ada lagi kamu dan segala kengerian yang melingkupi keberadaanmu.

kamu akan pergi, aku tahu.

5 cm, Randomly


“Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. Apa pun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apapun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri.. Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa..Keep our dreams alive, and we will survive..”

–Donny Dhirgantoro, 5 cm

Terlepas dari bermacam-macam review novel maupun filmnya, saya menyukai apa yang disampaikan Donny dalam 5 cm.

Saat saya pertama kali membaca novelnya bertahun-tahun yang lalu, maupun saat saya menyaksikan film layar lebarnya beberapa waktu yang lalu.

Karya sastra lahir dari perspektif seseorang, yang kelak akan ditafsirkan kembali oleh bermacam-macam perspektif para penikmatnya. Titik tolak yang tidak pernah saya hilangkan adalah, jangan sampai kita terlupa untuk mengambil hikmah dari karya-karya tersebut.

Jika kisah persahabatan yang membuat saya jatuh hati dengan novel 5 cm, versi filmnya membuat saya jatuh hati dengan pengambilan latar di Gunung Semeru. Jujur, meskipun gunung telah menjadi bagian penting dalam memori saya, saya belum pernah melakukan pendakian seperti itu.

Ada satu pernyataan yang pernah saya temukan di sebuah buku, oh, maafkan, saya lupa siapa.. “Saat seseorang mendaki gunung, sesungguhnya ia tidak sedang menaklukkan alam, alam hanya takluk pada Penciptanya. Apa yang terjadi adalah ia sedang menaklukkan dirinya sendiri.”

Satu lagi kerandoman yang muncul dalam pikiran saya, siapa tahu, seseorang yang spesial nanti akan menemani saya mewujudkan pendakian itu. Pendakian mimpi bersama.