Menjaga Niat


Aku sering mengingat nasihat guruku: “Menjaga niat itu ada di awal, tengah dan akhir.”

Di awal sebelum memulai sesuatu. Karena siapa, untuk apa, ingin apa.. Mengapa kamu melakukannya?

Di tengah tatkala melaksanakannya. Kalau jadi lelah, niatnya jangan berubah. Mengeluh dan kesal sama orang bisa bikin niat melenceng. Bisa-bisa kamu melakukan sesuatu dengan benar hanya supaya tidak dimarahi orang lain, atau hanya sebagai pembuktian bahwa apa yang dikatakan orang lain itu salah. Sayang kan?

Di akhir saat menyelesaikannya. Saat tugasmu selesai dengan baik, kamu nggak boleh jadi sombong. Merasa hebat, merasa yang terbaik, merasa jagoan. Kamu harus beryukur dan menyadari bahwa kamu bisa begitu dengan pertolongan Allah. Tinggi hati itu sandungan.

Pada kenyataannya, menjaga niat itu tidak semudah membalikkan telapak tangan (sebenarnya membalikkan telapak tangan susah sih kalau ada gangguan saraf atau otot tangan, oke, abaikan), ada banyak tantangannya. Tapi kalau berhasil, hadiahnya luar biasa.. di dunia ada, di akhirat ada, insya’ Allah.

Ya.. Mungkin nggak bisa langsung sempurna, seenggaknya kamu berusaha.

Advertisements

Before They’re Ready


Great people do things before they’re ready. They do things before they know they can do them. Doing what you’re afraid of, getting out of your comfort zone, taking risks like that – that’s what life is.

Amy Poehler

Sumber: Counselling Blog

 

Katanya, kita nggak akan pernah merasa 100% siap. Bismillah. Mulai saja.

Hijaunya


Tanda keimanan seseorang, salah satunya, adalah ia lebih terpesona pada kehidupan akhirat. Bahagia-sedihnya bukan disandarkan pada takaran dunia, tapi pada takaran pertanggungjawaban yang kelak ia sampaikan di hadapan Allah. Baikkah, burukkah? Ridhakah, atau murka?

–MQ Pagi

 

Ya Allah, dunia itu masih hijau di mataku. Ampuni aku. Ingatkan aku.. Bimbing aku..

Ikhlas, Ikhlas


Keikhlasan itu, lembut sekali perihal ia.

Batasnya dengan riya’ dan sum’ah, batasnya dengan kekaguman pada diri sendiri, sangat tipis.

Sedemikian yang Rasulullah khawatirkan, syirik kecil perkaranya..

Ya Allah, kami berlindung pada-Mu dari ketertipuan diri atas amal kami, kami berlindung pada-Mu dari kesyirikan.. Ingatkan kami ya Allah..

 

Kata ‘kadzdzabta’ itu membuat merinding.

Ya Allah, kami berlindung pada-Mu dari kesyirikan amal kami..

 

Ikhlash, ikhlash..

 

Bukan hanya rela hati. Apalagi takjub diri. Apalagi merasa lebih baik dari orang lain, atau merasa cukup dengan kebaikan yang telah dilakukan. Bukan senang hati dan bangga diri.

Ikhlash.. memurnikan amalmu untuk Allah semata.

 

Qul huwallaahu ahad !

 

–catatan setelah ta’lim Asy Syifaa’

Gunakan Ia Sebagai Syukurmu


Setelah mengucap hamdalah dan memohon ampunan pada Allah, bentuk syukur kita adalah dengan menggunakan setiap hal tersebut sesuai fungsi dan tujuannya.

Misalnya, kalau kita bersyukur saat seseorang memberikan kita peci, kita harus menggunakannya di kepala. Kalau kita mengatakan bersyukur diberikan peci tersebut, tapi menggunakannya untuk mengelap sepatu, itu namanya kufur nikmat.

Harta, gunakan ia di jalan kebaikan. Ilmu, gunakan ia untuk memberikan manfaat kepada sesama.

Begitu juga yang lainnya.

–MQ Pagi

Kembali, Agar Tak Mati Hati


saat kamu kehilangan dirimu sendiri,

ke mana harus mencari?

masalahnya, dirimu ada dalam dirimu, tapi mengapa merasa kehilangan?

dulu seorang sahabat berkata,

“kalau kamu sedang merasa gelisah, periksa, jangan-jangan kamu sedang menjauhkan diri dari fitrah sebagai hamba Allah.”

ibarat ikan dengan airnya.

seorang ulama memberi nasihat,

“saat seseorang menderita sakit di jasadnya, ia segera pergi ke dokter, mencari pengobatan terbaik. tetapi saat hatinya sakit, ia diamkan begitu saja, sampai hati itu berjalan menuju kematiannya. padahal matinya hati lebih berbahaya dari matinya jasad. jika seorang mu’min meninggal dalam keadaan beriman, maka ia beruntung. tetapi bila ia hidup dengan hati yang mati, sungguh ia merugi, apalagi kalau nyawanya dicabut dalam keadaan seperti itu.”

Allah..

kembali pada Allah.

berlari !

Nak, TV Bukan Sahabatmu, Lho


Jadi, ini adalah kumpulan artikel (yang tidak saya edit karena esok hari masih ada ujian, hehe) mengenai anak-anak dan TV, khususnya anak berusia di bawah 3 tahun. Selamat membaca :’)

 

1. Sumber : http://health.kompas.com/read/2012/01/24/1613483/Di.Bawah.3.Tahun..Anak.Tak.Disarankan.Nonton.TV

KOMPAS.com – Banyak orangtua  mengganggap televisi bisa menjadi “teman” saat anak sendirian. Apalagi, anak-anak terlihat lebih tenang saat ditinggal menonton televisi. Akan tetapi, balita usia kurang dari tiga tahun sebenarnya tidak disarankan menonton televisi.

Mengacu pada penelitian-penelitian, ternyata tayangan televisi berdampak buruk pada kemampuan anak berkonsentrasi. “Ini kaitannya dengan kerja neurotransmiter yang berfungsi untuk meneruskan informasi ke sel-sel otak yang terganggu,” kata Dra.Mayke Tedjasaputra, M.Psi, playterapist dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Selain itu, lanjut Mayke, televisi memberikan stimulus yang sangat kuat, baik melalui gerakan, warna, dan suara. “Kalau anak terbiasa nonton televisi, nantinya jika tidak mendapatkan stimulus yang sama kuatnya bagaimana ia bisa memperhatikan. Ini akan terasa dampaknya saat anak di usia sekolah,” imbuhnya.

Anak balita yang dibiasakan menonton TV juga cenderung tidak bisa membedakan kapan waktu untuk menonton, bermain, atau tidur. Ditambahkan oleh Mayke, dampak negatif tersebut juga dirasakan pada anak yang dibiasakan bermain video games.

Selain pengaruh pada kemampuan kognitif anak, televisi juga bisa merusak kesehatan mata anak. “Otot-otot mata anak terutama yang berusia kurang dari 5 tahun masih lemah,” imbuhnya.

Mayke menyarankan agar orangtua memberikan kegiatan lain pada anak sebagai pengganti waktu menonton TV. “Lebih baik anak dibacakan cerita atau diajak bermain daripada nonton TV,” paparnya.

Untuk anak usia 3 tahun, Mayke menyarankan agar waktu menonton TV dibatasi hanya 30 menit setiap hari. “Bukannya acara tersebut jelek, tapi tetap sesuaikan dengan porsinya,” ujarnya.

Mengenai program televisi khusus anak, Mayke berpendapat bahwa sebaiknya orangtua tetap mendampingi anak saat menonton televisi. “Jelaskan apa-apa yang terlihat di televisi, sehingga anak juga diajak berkomunikasi. Dari sini ia akan belajar mendengarkan, memperhatikan dan menyimak. Ini penting sebagai tonggak saat anak belajar,” katanya.

 

2. Sumber : http://health.kompas.com/read/2011/10/20/11504055/Jauhkan.TV.dari.Anak.Usia.di.Bawah.2.Tahun

KOMPAS.com — Belakangan sejumlah penelitian menunjukkan ada hubungan antara menonton televisi terlalu lama dan penurunan prestasi belajar anak. Baru-baru ini, para ahli dari The American Academy of Pediatrics (AAP) mengimbau para orangtua yang mempunyai anak usia di bawah dua tahun agar menghindari televisi.

Peneliti berkesimpulan, paparan media televisi dapat memberikan efek negatif bagi proses perkembangan otak anak di awal-awal usia pertumbuhannya. Menghindari layar TV dinilai sebagai cara terbaik untuk membantu anak-anak belajar dan berinteraksi.

Berdasarkan hasil survei terungkap, sebanyak 90 persen orangtua mengaku bahwa anak-anak mereka yang berusia di bawah dua tahun telah menonton beberapa bentuk media elektronik. Padahal menurut AAP, kegiatan menonton layar televisi tidak terbukti memberikan manfaat bagi perkembangan otak anak. Bahkan, sejumlah riset menyebutkan bahwa TV justru menimbulkan gangguan tidur di kalangan anak-anak.

Untuk itulah, AAP dalam pernyataan resminya yang akan dipublikasi dalam jurnal  Pediatrics edisi November menyarankan para orangtua agar anak usia di bawah 2 tahun dijauhkan dari tontonan layar televisi.

“Bentuk belajar terbaik untuk anak-anak adalah lewat interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, bukan dengan layar. Waktu bermain yan tidak terstruktur telah terbukti bermanfaat bagi kemampuan berpikir kritis yang tentu akan dibutuhkan anak dalam hidupnya. Oleh sebab itu, inilah waktu terbaik yang harus dihabiskan anak-anak,” kata Dr Ari Brown, spesialis anak, sekaligus peneliti utama dalam riset tersebut.

Brown menambahkan, ketika anak-anak bermain dengan kondisi TV menyala, maka setiap 20 detik mata anak akan bergerak ke layar sehingga anak kehilangan konsentrasi dalam melakukan aktivitas mereka.

Bukan hanya itu saja, menurut Brown, dengan kondisi TV menyala, seorang anak cenderung pasif dan kurang interaksi, akibatnya kemampuan berbicara mereka akan terganggu.

“Bermain lebih baik untuk perkembangan otak anak ketimbang paparan media elektronik. Jika orangtua tidak dapat aktif bermain dengan anak mereka, maka anak yang seharusnya bermain sendiri dengan orang dewasa yang ada di dekatnya,” sarannya.

 

3. Sumber : http://health.kompas.com/read/2010/05/06/08453773/Sering.Nonton.TV..Anak.Bisa.Bodoh

MONTREAL, KOMPAS.com — Semakin lama durasi anak usia di bawah lima tahun (balita) menonton televisi, kondisi kesehatannya semakin terancam. Ada studi yang meneliti 1.300 anak di Inggris yang memiliki tingkat prestasi buruk di sekolah.

Hasilnya, anak itu ketika anak balita (2-4 tahun) terlalu banyak menonton TV, yakni lebih dari 2 jam per hari. Penelitian pertama dilakukan ketika anak-anak itu berusia 2 dan 4 tahun lalu penelitian kedua dilakukan kembali pada anak yang sama ketika mereka berusia 10 tahun.

Anak-anak yang menonton TV terlalu banyak terbukti jarang terlibat kegiatan di kelas dan tingkat pemahaman pada pelajaran Matematika rendah. Linda Pagani dari University of Montreal, yang melakukan penelitian yang diterbitkan di jurnal Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine, menekankan tahap awal masa kanak-kanak adalah masa-masa paling penting bagi perkembangan otak dan pembentukan perilaku.

“Orangtua harus memperbanyak waktu berbicara dan melakukan aktivitas bersama dengan anak pada waktu makan, mandi, atau bermain,” ujarnya. (BBC/LUK)

 

4. Sumber : http://health.kompas.com/read/2013/01/09/14100457/Banyak.Bayi.Rewel.Ditenangkan.TV

Kompas.com – Walau para pakar menyatakan bayi dan anak-anak sebaiknya jangan terlalu lama menonton televisi, tetapi cukup banyak ibu yang memilih tayangan TV untuk menenangkan bayinya yang sedang rewel.

Hasil penelitian menunjukkan, bayi-bayi yang aktif dan dianggap rewel oleh ibunya terpapar tayangan TV lebih banyak dibanding dengan bayi yang lebih anteng.

Banyak sedikitnya bayi menonton TV itu ternyata juga terkait dengan tingkat pendidikan ibunya. Para ibu yang berpendidikan rendah atau kegemukan cenderung membiarkan bayinya menonton TV lebih banyak.

Studi tersebut melibatkan 217 ibu berkulit hitam dan bayinya yang tinggal di wilayah North Carolina, AS. Tim peneliti mendatangi rumah para responden saat bayi berusia 3 bulan, kemudian riwayat kesehatan bayi diikuti sampai berusia 18 bulan.

Bayi berusia 3 bulan dalam penelitian itu rata-rata menonton TV 2,6 jam setiap hari. Di usia setahun, hampir 40 persen bayi menonton TV lebih dari 3 jam setiap hari. Bayi yang lebih rewel menonton lebih lama dibanding bayi yang anteng.

Penelitian sebelumnya menemukan bayi yang rewel beresiko tinggi obesitas di kemudian hari. “Ibu mereka memanfaatkan tayangan TV untuk menenangkan atau menghibur mereka,” tulis peneliti dalam jurnal Pediatrics.

Terlalu banyak menonton TV di usia dini dikhawatirkan akan membentuk kebiasaan sehingga anak lebih jarang bergerak dan beresiko kegemukan. Efek samping buruk lainnya, perkembangan yang lebih lambat di usia prasekolah.

Alih-alih menggunakan tayangan TV, para peneliti menyarankan agar orangtua mencari strategi alternatif untuk menghibur bayi mereka.

The American Academy of Pediatrics menyarankan agar anak berusia kurang dari dua tahun dibatasi waktu menonton TV-nya karena sebanarnya manfaat pendidikannya lebih sedikit dan lebih banyak efek buruknya.

Rugi dan Waktu


Manusia bisa rugi dengan waktu. Ada 4 komitmen yang akan membebaskan manusia dari kerugian itu :

Mengimani, mempelajari, mengamalkan dan menda’wahkan Islam.

 

Beriman.

Beramal sholih.

Menyampaikan Al Islam.

Siap menerima dan memberi nasihat.

 

Bagi seorang muslim, waktu harus dimanfaatkan untuk ketaatan kepada Allah SWT. Dimanfaatkan untuk memberikan maslahat.

 

–MQ Pagi, Hikmah Surat Al ‘Ashr

Sensitivitas (sebuah kutipan)


Tulisan di bawah ini, sebagian besar adalah kutipan dari seorang ‘kakak’ dari Malaysia. Beliau adalah kakak kelas saya di FK Unpad, saat ini sedang menyelesaikan program dokter mudanya di RSHS. Kami berkenalan saat akan menjalani kepanitiaan OPPEK pada tahun 2011. Kak Duha. Ya Allah, senantiasa ingatkan kami..

—–

Bismillah,

“Tidak semua perkara sunnah itu,

statusnya ‘sunnah biasa-biasa’ juga bagi seorang da’ie,

Ada kalanya seorang da’ie harus menjadikan sesuatu sunnah rasul itu

sebagai kemestian baginya”

“Walaupun solat malam itu hanya sunnah,

tapi harus SANGAT ditekankan bagi seorang da’ie”

Itu adalah sebahagian inti yang saya dapat

daripada program beberapa waktu yang lalu.

Seorang da’ie itu harus lebih menjaga,

Kerana mereka akan diperhati,

Mereka seharusnya dicontohi,

kerana merekalah yang membawa agama Allah..

Sensitivity..

Bergelak ketawa bersama-sama antara lelaki dan perempuan

Yang bukan mahram tampak biasa bagi sesetengah daripada kita

Dan Nampak pelik atau janggal bagi sesetengah yang lain pula..

Di sini, secara khususnya

Saya ingin tekankan tentang pergaulan

Terutamanya pada mereka yang bergelar dai’e

Atau mereka yang mengakui membawa agama Allah SWT..

Seperti yang telah ditulis di atas,

Sebagai daie sedarlah bahawa kita sebenarnya

Diperhatikan oleh kebanyakkan orang,

Walau tanpa kita ketahui..

Cara kita bergaul,

Berkata-kata,

Berjalan,

Bergelak ketawa

Dan sebagainya..

Maka tiada salahnya jika kita mengetatkan sedikit batasan pergaulan

Agar tidak ada pihak yang tersalah faham

Dengan tingkah laku kita..

Tanpa alasan munasabah,

Tak perlulah bergurau senda,

Tak perlulah berborak lama

Dan tak perlulah ‘bersentuhan’

Walaupun kononnya sentuhan itu ‘beralas’..

Dan apabila ada orang yang bukan mahram memegang anda,

Tugas kita di situ bukanlah untuk berdiam diri,

Membenarkan perbuatan itu,

Tapi menerangkan pegangan kita dan alasannya..

Ingatlah,

Islam itu mudah,

Tapi janganlah mengambil mudah

Dan malah mempermudah-mudahkannya..

Bergaullah sambil memberi contoh yang benar!

Satu lagi contoh yang ingin saya kongsikan,

Iaitu di dalam laman web social facebook..

Bergurau dan berhubungan tanpa batasan itu amat mudah sekali..

Dan ‘kononnya’ tampak halal di laman web tersebut..

Atau sengaja ‘dihalalkan’ oleh kebanyakkan daripada kita..

iyalah, bukannya komen atau borak berdua,

public kan, semua boleh lihat..

betul, itu tak dinafikan,

mungkin memang kita bukan berborak soal yang jiwang-jiwang,

main perasaan dan sebagainya,

namun ada keperluankah di situ?

Bukankah islam mengatakan,

Hanya di 3 tempat lelaki dan perempuan

Dibolehkan untuk berkomunikasi?

Kalau gurauan atau perbualan kita itu,

Soal muamalat yakni berjual beli,

Atau kesihatan dan perubatan

Ataupun soal ilmu,

Maka tidak mengapa..

Teruskanlah..

Namun kalau sekadar mengkomen

Atau dengan alasan ingin ‘mengeratkan’ silaturrahim

dengan bertegur sapa,

Maka jauhkanlah..

Kerana Allah mengarahkan kita,

Untuk menghindari..

Moga Allah melindungi hati kita semua

Dari perkara-perkara yang tidak diingini

Daripada berlaku kemudiannya..

wallahualam~

-Kak Duha

—–

Mengenai interaksi antara laki-laki dan perempuan ini, adalah hal yang sensitif. Terutama saat seseorang mulai dewasa dan memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis. Tentu, ini adalah hal yang normal. Bagian dari fitrah seseorang. Tapi tidak sampai di sana, ini adalah fitrah yang harus kita jaga. Ketertarikan dan rasa kasih sayang itu Allah anugerahkan untuk sosok yang telah halal untuk menerimanya. Orang tua, adik kandung, kakak kandung, paman atau bibi kandung dari orang tua (bukan ipar atau tiri), nenek, kakek, saudara sesusuan, serta suami atau istri. Selebihnya, bentuk interaksi berada dalam zona yang perlu dijaga dengan sungguh-sungguh.

Tentu, bukan artinya kita tidak boleh bekerja sama dalam hal kebaikan dengan lawan jenis, itu adalah hal yang baik. Tapi, seperti obrolan dua orang kakak kelas saya di twitter (kalau kalian baca ini, saya ambil kesimpulannya yaa), “Tidak cukup baik, tapi juga harus benar.”

Bagaimana cara mengetahuinya? Pertama, baca referensi utama: Al Qur’an dan Hadits. Kedua, cek hati kita. Itu pun dipengaruhi sensitivitasnya. Kalau apa yang dikatakan Al Qur’an dan Hadits berbeda dengan apa yang dikatakan hati kita, maka pilihlah referensi utama. Karena, bisa jadi hati kita sedang kehilangan koneksinya dengan Sang Maha Bijaksana. Cahaya-Nya hanya menghampiri hati yang bersih dan senantiasa mentaati-Nya

Wallahu a’lam bish shawab.

Jangan Lupa Isi Bensin !


Logikanya, sebuah mobil yang bergerak dengan kecepatan tinggi, jarak yang jauh dan durasi yang panjang memerlukan asupan bensin yang selalu memadai.

Harus selalu diisi.

Sementara saya sendiri sering masih lalai memenuhi hak itu untuk diri. Recharge ruhiyah.

Jangan sampai menjadi alhaakumuttakaatsur, kehidupan dunia telah melalaikan kamu, Na’udzubillah sampai hataa zurtumul maqoobir, baru tersadar saat ruh sudah terpisah dari jasad, lantas jasad sudah berada di dalam kubur.

Hati sering berteriak, “Di mana bagian akhiratku?”
Malu diri menyadari keseimbangan itu belum terjaga dengan optimal.

Proporsionalitas itu belum terbangun dengan cerdas.

Yang harus selalu diingat adalah : bagaimana menjaga agar setiap aktivitas mampu bernilai ibadah di sisi Allah. Niatnya, tata cara melaksanakannya, apakah ada interaksi sesama manusia yang tidak Allah sukai di sana, apakah ada nilai-nilai yang saya abaikan. Apakah ibadah mahdhoh tidak terlalaikan dalam perjalanannya. Ketepatan waktu sholat, sholat berjama’ah, tilawah Al Qur’an, qiyaamul lail, shaum.

Bagaimanapun, ibadah mahdhoh adalah sarana yang Allah sediakan sebagai supporting-system, penjaga nilai keseharian. Seperti vertebrae yang menyangga tubuh. Seperti bensin bagi mobil. Di sana ada do’a, dzikir dan nasihat-nasihat ketaatan melalui bacaan-bacaan yang kita lisankan.

Yuk koreksi diri lagi. Tekadkan lagi.

Duhai Allah, bantu kami.

Allahummaj’alid dun-yaa fii aydiinaa wa laa taj’alhaa fii quluubinaa. Ya Allah, jadikan dunia di tangan kami, jangan di hati kami. Cukup di dalam hati ada cinta-Mu.