Jalan Mana


Kira-kira sepuluh kali aku mengetik-menghapus-mengetik dan seterusnya kalimat pembuka untuk tulisan kali ini. Alih-alih menemukan kalimat yang terdengar elegan, aku akan menuliskan pengakuan saja.

Oke. Delapan bulan blog ini ditinggalkan. Nasibnya mungkin serupa textbook tebal yang tidak kubawa pindah ke kamar mungilku di Cileungsi; berdebu. Aku masih sesekali menulis di blog pribadiku yang lain (sst rahasia), namun menulis di WP ini rasanya berbeda. Aku ingin menulis sesuatu yang.. mencerahkan? Setidaknya bagi diriku sendiri.

Nyatanya kamu memang tidak selalu berada dalam keadaan ‘terinspirasi’ untuk menulis sesuatu yang.. mencerahkan. Terlebih saat ritme sirkadian tidak terlalu teratur karena menghadapi jadwal jaga yang bervariasi.

Oh ya, aku lupa pernah bercerita atau tidak. Delapan bulan ini aku tengah menjalani program internsip di rumah sakit dan puskesmas yang terletak di bilangan Cileungsi. Ada banyak hal yang terjadi, tentu saja, namun tampaknya perlu waktu yang tak singkat untuk merangkainya menjadi cerita atau pemikiran yang matang. Entahlah, aku jadi sangat perfeksionis bila membicarakan tulisanku sendiri.

Februari. Maret. April. Mei. Juni. Juli. Agustus. September. Oktober. November. Masih ada Desember, Januari dan Februari sampai aku menyelesaikan program ini. Dalam waktu hampir setahun ini tampaknya aku setia pada pendirianku untuk tidak mengambil pendidikan spesialisasi. Sejauh ini aku cenderung lebih menyukai dunia akademik dan penelitian dibandingkan dunia klinisi (saja).

Insya’ Allah setelah menyelesaikan internsip aku akan kembali ke fakultasku. Rencana saat ini berkisar antara magang di Pusat Studi TB-HIV sembari mempersiapkan mengambil master di bidang Epidemiologi atau Public Health.

Salah seorang mentor di sebuah workshop penelitian yang kuikuti pernah berkata, “Kamu masih muda, kalau memang kamu sudah tahu apa yang ingin kamu lakukan, ikuti jalannya. Kalaupun ternyata ada yang belum sesuai harapanmu, kamu masih bisa memilih jalan lainnya. Kamu punya waktu, tekuni saja apa yang ada di hadapanmu, pasti ada manfaatnya.”

Mungkin saja saat ini aku sedang memilih salah satu jalan besar. Kemudian ada pertigaan atau perempatan, aku akan kembali memilih. Hidup memang terdiri dari entitas pilihan yang kita pilih beserta konsekuensinya kan?

Mudah-mudahan pilihanku senantiasa berada di jalan cahaya🙂 Bismillah.

Advertisements

Gadis yang Suka Mengobrol


Aku adalah gadis yang suka mengobrol.

Aku suka mengobrol dengan mereka yang bisa membuat sisi intelektualitasku tertantang. Berpikir. Memutar otak. Memproses input yang masuk. Menambahkan konteks realitas dalam teori. Membuat ‘teori’ sendiri berdasarkan obervasi atau bacaan masing-masing.

Aku juga suka mengobrol dengan mereka yang mengajak hatiku merasa. Peduli pada sekitar. Memperhatikan orang-orang yang tak terperhatikan. Mengesampingkan ego. Kadang, menangis.

Aku juga suka mengobrol dengan mereka yang artistik. Menangkap pesan tak tertulis dari alam. Menerjemahkan pesan dari peristiwa. Membuat sentuhan dalam tulisan, nada atau lakon.

Aku juga suka mengobrol dengan anak-anak dan logika kanak-kanak mereka yang ‘lovable’. Tertawa lepas. Mengernyitkan dahi saat berusaha menjawab pertanyaan mereka dengan bahasa yang mudah dicerna. Menyanyi. Menari. Melompat.

Aku juga suka mengobrol dengan diriku sendiri. Mengapresiasi setiap prestasi kecil yang kubuat–bangun pagi, tersenyum pada orang lain, menyelesaikan tugas dan lain-lain. Menegur setiap kesalahan yang kubuat dan berusaha memperbaikinya.

Aku juga suka mengobrol dengan Pencipta-ku. Dia Maha Baik. Dia utus manusia mulia bernama Muhammad untuk mengajarkan hamba-Nya tentang makna penghambaan yang sejati. Dia turunkan Al Qur’an untuk memandu agar tak tersesat. Dia dengarkan setiap bisik hati dalam sunyi maupun ramai. Dia sediakan sepertiga malam sebagai waktu pertemuan yang istimewa. Dia Maha Baik..

Perkenalkan, aku adalah gadis yang suka mengobrol.

Nasihat Tiga Menit


“Teh, sebelum aku pergi, nasihatin dong 3 menit.”

Saya memasang mata kelinci sambil memohon pada Teteh yang berada di depan saya. Kami tengah duduk berhadapan seusai sang Teteh mendengarkan saya membaca surat yang tadinya akan saya setorkan ke ustadz.

Oh ya, saya sudah pernah cerita, kan? Atau belum, ya? Ya sudah, saya cerita dulu ya..

Begini. Alkisah, saya mengikuti program tahfizh (baca: hafalan) Al Qur’an di Masjid Habiburrahman, bertempat di dekat Bandara Husein Sastranegara. Pertama-tama, sahabat saya tercinta yang memiliki nama panjang yang memang panjang, Hadiyatussalamah Pusfa Kencanasari, mendorong saya untuk mengikuti program tahfizh di sana. “Nur, daripada kamu sering nggak jelas gitu, mending ikutan ke Habib deh. Kerasa banget, nggak stabilnya kita selama ini kebanyakan karena kita jauh dari Al Qur’an.” Saya yang waktu itu baru usai menangis karena mencapai ‘titik jenuh’ (titik jenuh adalah julukan saya bagi akumulasi segala hal yang membuat diri sendiri tertekan, haha) dan memendam keinginan untuk menggaruk dinding dengan kuku—seperti kucing, ya kira-kira begitulah—akhirnya mengangguk. Datanglah saya ke sana. Dengan bantuan seorang Teteh, saya mendaftarkan diri di Lembaga Tahfizh Qur’an Habiburrahman dan mulai resmi mengikuti program tahfizh kembali (terakhir saat SMP >_<). Sistem tahfizh di Habib lumayan berbeda dengan sistem yang pernah saya jalani di TK, SD atau SMP (dengan riwayat sekolah TKIT-SDIT-SMPIT, hehe). Di sekolah saya sebelumnya, seorang guru hanya mendengarkan satu orang murid. Nah, di LTQ Habib ini, satu orang guru mendengarkan tiga sampai enam murid. Berhubung di akhawat maupun ikhwan masing-masing hanya ada satu guru, kami harus mengantri untuk mendapatkan giliran setoran ziyadah (baca: hafalan baru) maupun muraja’ah (baca: hafalan lama). Waktu sekolah dimulai dari ba’da Isya’ sampai pagi menuju siang di keesokan harinya.

Evaluasi diri saya selama 2 tahun kuliah, sulit rasanya bila kita menghafalkan Al Qur’an murni secara mandiri. Saya pribadi menilai diri saya sangat memerlukan guru dan program yang pakem. Mengapa?

Pertama, saya tergolong orang yang harus ‘dipaksa’ keadaan. Targetan-targetan pribadi saya selama dua tahun awal kuliah—sebelum saya ikut LTQ, terbukti lebih banyak yang kena excuse. Masih lebih baik kondisi saya saat SMA, meskipun saya bersekolah di SMA Negeri, saya masih menyempatkan diri untuk menyetor hafalan ke Ummi atau Kak Ii sebagai mentor saya. Lha saat kuliah di fakultas kedokteran, yang notabenenya teman-teman juga super sibuk sedunia, saya jadi kehilangan sistem ‘pemaksa’ itu -_-

Kedua, seseorang yang ingin menghafal Al Qur’an memerlukan guru untuk memperoleh bimbingan, baik itu secara bacaan Al Qur’an maupun nasihat-nasihat yang diperlukan dalam menjaga keistiqamahan diri. Saya sendiri merasa menjaga niat dan konsistensi itu saaaaangat butuh perjuangan. Kalau lagi futur, kacaunya na’udzubillah. Tilawah mandeg. Hafalan apalagi.

Ketiga, mengikuti LTQ artinya mempertemukan diri saya dengan teman-teman seperjuangan lainnya. Di LTQ Habib, kami para muslimah mendapatkan satu ruangan yang cukup besar di sisi bangunan utama masjid untuk bermalam. Ibarat basecamp bagi kami. Tak masalah juga bila kami sedang berhalangan, kami masih bisa tetap bermalam karena tidak perlu tidur di masjid. Nah, teman-teman sekelas saya di Habib ini bervariasi usianya. Mulai dari siswi sekolah menengah, mahasiswi, Teteh-teteh yang sudah bekerja, ummahat hingga beberapa ibu yang sudah mulai lanjut usia. Saya sering tertampar kalau sudah lama bolos dan mengamati teman-teman saya di sana. Beberapa ummahat membawa serta anaknya yang masih balita. Sambil mengasuh anaknya yang sedang rajin berlari-lari keliling masjid (namanya juga anak-anak, haha) atau menidurkan anaknya saat mulai beranjak malam, mereka memegang Al Qur’an di tangan. Aaaa. Saya yang masih belum punya tanggungan apa-apa kok bisa-bisanya kalah semangat sama mereka >_< Ada juga beberapa ibu paruh baya yang, meskipun bacaannya terbata-bata dan bila menyetor mereka tidak bisa sebanyak kami, rajiiiin sekali datang. Saya malu lagi, deh. Hei Nona, mau cari alasan apa lagi, sih?

Saya juga ingat nasihat seorang guru tahfizh saya di SMP, “Saat kalian diberikan karunia berupa hafalan Al Qur’an, sebenarnya hafalan itu juga merupakan amanah Allah. Harus benar-benar dijaga.”

Harus benar-benar dijaga.

Jadilah saya membulatkan hati untuk menjadwalkan tahfizh setiap malam Ahad. Kalau orang-orang nanya, “Malming di mana?”, dengan nyengir saya akan menjawab, “Di masjid.” Hehe. Seru lah. Setiap kali pulang dari Habib, saya merasa otak saya yang sering ngaco jadi jauh lebih baik. Ibarat menekan tombol refresh.

Tapi yaaa, sebagai mahasiswa tingkat akhir di fakultas yang jadwal akademiknya luar biasa, saya akhirnya kembali bandel beberapa waktu. Rekor terparah saya: tidak hadir dua bulan, diselingi sekali hadir, lalu tidak hadir kembali selama satu bulan.

Astaghfirullaah..

Dua bulan tidak hadir-satu kali hadir-satu bulan tidak hadir itu persis baru terjadi tiga bulan yang lalu. Maka, saat malam Ahad kali ini saya, Alhamdulillah, berhasil menapakkan kaki kembali di Habib, saya meminta nasihat dari seorang Teteh yang menjadi asisten Ustadz di sana.

“Teh, sebelum aku pergi, nasihatin dong 3 menit.”

Saya duduk rapi, berlaku seperti murid yang baik. Ayolah Teh, nasihatilah saya yang sering nakal ini.. Saya menunggu-nunggu.

“Saat kita diberi nikmat oleh Allah berupa bacaan yang lancar, mudah mengingat hafalan baru, juga mudah meraih kembali hafalan yang lama, sadarilah bahwa nikmat itu harus benar-benar kita syukuri. Di sini, banyak teman-teman yang memerlukan waktu lebih lama untuk menghafal. Tidak semua orang diberikan nikmat itu.. Tapi, ingat juga, untuk menghafal  Al Qur’an, tidak cukup hanya pintar. Kita juga harus selalu menjaga niat yang ikhlas dan bersabar. Kalau hanya pintar, tapi tidak ikhlas dan tidak sabar, bisa jadi kita juga berguguran seperti orang-orang lain yang berguguran. Jadi, ayo istiqamahkan lagi.”

Saya ingin menangis. Ya Allah, saya belum seikhlas itu, belum sesabar itu, sampai belum sesungguh-sungguh itu untuk istiqamah.. Iya banget, istiqamah itu mahal..

Maka, tulisan ini saya buat untuk mengingatkan diri.. semoga Allah senantiasa membimbing saya untuk menjadi lebih baik.

Mau jadi shahibul Qur’an, kan?

Catatan Skripsi (7) : Menjadi Peneliti


Saat skripsi berjilid kuning itu akhirnya selesai, saya bernapas lega. Alhamdulillah. Buncah rasanya melihat bahwa dirimu bisa menghasilkan sebuah karya. Bagi saya, setiap karya berbicara, menyampaikan pesan kepada dunia. Tinggal bagaimana cara karya itu menyampaikannya–bila ia adalah karya ilmiah, bisa melalui jurnal, poster, konferensi dan sebagainya–dan apakah dunia sekitar karya itu ingin mendengarkan pesannya. Persis seperti komunikasi.

Lekas saya mengumpulkan 2 jilid skripsi ke kampus di Jatinangor, lantas bergegas menuju Bandung untuk memberikan 1 jilid skripsi masing-masing bagi dua dosen pembimbing saya: dr. Ita dan dr. Miftah. Hari itu waktu sudah tergolong sore. Saya menitipkan skripsi kuning pada sekretaris departemen IKM dan IPD. Mengangguk hormat pada kedua sekretaris tersebut, berterima kasih karena karena telah banyak membantu saya dalam pengumpulan data, juga menitipkan salam kepada dua dosen pembimbing saya. Saat melewati koridor departemen IKM dan IPD, saya tahu, banyak hal yang saya peroleh setiap kali berada di sana.

Sebagai seorang yang tidak tahu apa-apa dan diberi tugas untuk membuat apa-apa (aduh, maafkan bahasa saya), seseorang yang datang untuk membimbing tentang segala sesuatu yang apa-apa seperti secercah cahaya. Proses pembuatan skripsi bagi saya bukanlah beban akademik semata, tapi juga suatu proses belajar yang saya nikmati. Baru kali ini saya memainkan peran penuh sebagai peneliti. Oh ya, menjadi peneliti adalah mimpi yang saya simpan di benak saya sejak saya bisa membaca.

Habisnya, Ummi membelikan banyak buku tentang peneliti untuk saya baca di rumah. Ada Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Marie Curie, Thomas Alva Edison, Alexander Graham Bell serta para cendekiawan lainnya. Saya kan jadi tergoda.

Saya ingin menjadi peneliti. Maka, di SD-SMP-SMA-kuliah, saya memasuki kelompok ilmiah sejenis KIR, berharap dapat belajar untuk menjadi seorang peneliti. Saya memang belajar, tapi masih berupa fragmen-fragmen. Hehe. Mau contoh?

Saat SD, saya menikmati masa bermain saya untuk menempeli guru-guru saya menunjukkan beberapa percobaan ilmiah–di samping kesukaan saya bermain karet, bekel, kejar-kejaran, memanjat dan kadang berkelahi bila teman-teman laki-laki saya sudah terlampau menyebalkan. Selain itu, Ummi juga sering mengajak saya mendatangi tempat yang membuat saya yang mudah penasaran lama-lama berubah menjadi Curious George (itu lho, monyet kecil yang tinggal dengan pria bertopi kuning, eh, tapi saya bukan monyet lho, ya).

Saat SMP, saya bergabung sebagai asisten laboratorium di bahwa komando Pak Ade–guru biologi saya yang super keren (lain kali saya akan menyempatkan diri untuk menulis khusus tentang beliau). Pak Ade memberikan banyak pengalaman ilmiah kepada saya dan beberapa teman lainnya. Menangkap dan mengawetkan kupu-kupu. Membuat kerangka katak dan ikan (dalam hal ini, saya tidak berhasil membuat yang bagus, hiks). Melakukan beberapa pengamatan ilmiah terhadap tanaman. Pak Ade juga mendorong saya untuk mengajukan proposal dan melaksanakan penelitian mengenai pembuatan pupuk dengan komposisi yang baru–yang, sayangnya, tidak saya selesaikan dengan baik. Maafkan saya ya, Pak >_<

Saat SMA, saya bergabung dengan pasukan KIR yang dikomandoi oleh Dina Faizah, teman saya yang punya kemampuan memimpin yang sangat baik. KIR di SMA tempat saya bersekolah, SMAN 34 Jakarta, memiliki ciri khas: aktivitas daur ulang. Saya belajar mengenai daur ulang kertas, daur ulang plastik, pembuatan biopori, perawatan tanaman hidroponik (sayangnya saya masih belum terlalu mengerti pembuatan dari nolnya), pembuatan pupuk dan, tentu saja, pembuatan karya ilmiah.

Saat kuliah, saya bergabung dengan SRC alias Science Research Center di FK Unpad. Fokus kami pada tahun-tahun awal lebih banyak pada penulisan karya ilmiah yang berkaitan dengan dunia medis. Namun, prestasi saya tidak sebaik teman-teman yang lain, saya baru berhasil membuat karya berjenis literature review atau kajian pustaka. Teman-teman yang lain sih sudah jauh lebih jago dari saya >_< Mereka sudah bisa membuat poster dan memberikan presentasi ilmiah dengan luwes di depan banyak orang. Maju terus SRC!

Nah, pembuatan skripsi sebagai tugas akhir kuliah S.Ked itulah yang memberikan saya kesempatan untuk memainkan peran penuh sebagai peneliti. Saya, dibimbing oleh dua dosen yang luar biasa, melakukan setiap tahapan penelitian, lengkap. Mulai dari pembuatan proposal penelitian, desain studi, desain instrumen penelitian, pelaksanaan penelitian, analisis data, interpretasi hasil, hingga pembuatan laporan penelitian. Yang mengharukan, fakultas saya mewajibkan kami melakukan publikasi artikel penelitian di jurnal ilmiah. Wah, pengalaman yang berharga sekali bagi saya. Saya bisa berguru langsung kepada dr. Ita dan dr. Miftah yang, diam-diam setelah saya browsing di internet, telah menghasilkan beberapa karya yang dipublikasikan di jurnal internasional. Mendebarkan. Haha. Iya sih, saya sering mendapatkan coretan-coretan di atas draft skripsi maupun artikel yang saya buat setiap kali bimbingan. Revisi, revisi, revisi. Tapi saya senang karena tahu, bagian mana yang harus saya perbaiki. Oh, ternyata harusnya begitu, ya. 

Selanjutnya, saya memiliki rencana, dengan izin-Nya, setelah sumpah dokter dan internship, saya ingin mengambil S2 di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat atau Public Health. Pada salah satu kesempatan, dr. Ita memberikan beberapa saran mengenai rencana saya ini. Coba saja ke Todai, Fah, atau cari beasiswa ke Eropa. Kamu persiapkan TOEFL dari sekarang. Rencanakan juga untuk magang di penelitian fakultas atau dosen saat kamu lebih luang, karena bisa jadi salah satu bahan rekomendasi bagi universitas yang kamu tuju.

Hingga saat ini, saya mendapatkan definisi yang lebih lengkap: saya ingin menjadi peneliti di tingkat komunitas. Semoga Allah membimbing dan memudahkan setiap langkah yang akan saya ambil.

Oh ya, tentu saja, saya juga harus belajar untuk mampu menyeimbangkan diri. Mengapa? Pada saat saya meniti target tersebut, mungkin saja Allah menitipkan amanah lain pada saya: keluarga. Saya ingin menjadi partner yang terbaik bagi seseorang yang Allah amanahkan saya padanya dan ibu yang terbaik bagi para pemimpin masa depan yang tumbuh di lingkaran kesayangan kami. Kiprah perempuan di tengah masyarakat tidak boleh mengabaikan fitrahnya, kan? 😉

2013 in review, Angin Venus :)


The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 21,000 times in 2013. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 8 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Ucapkan Selamat Pagi


16122013282 16122013286 16122013285 16122013284 16122013287 16122013289

Farewell Mentor Keluarga Muslim Asy-Syifaa’ FK Unpad angkatan 2010.

Ucapkan selamat pagi, karena setiap waktu adalah kesempatan bagi kita untuk mempersembahkan amal terbaik bagi Sang Pencipta Yang Maha Cinta. Pagi yang sejuk dan penuh keindahan.

Jazakunnallah adik-adik yang manis :’) Senang Allah beri kesempatan untuk saling berbagi ilmu, menasihati dalam kebaikan-kesabaran-kasih sayang, juga menyulam kisah-kisah penuh warna dalam tiga setengah tahun ini.

Acha, Pitri, Lastri, Ressa, Riny, Sarah, Yoland dan Manda :’) Teteh ter-hidup mahasiswa yang setahun ini memegang kalian jauh lebih keren dari aku, kan? Hehe. Tapi kenangan bersama kalian rajin membuat aku tersenyum. Peluk erat!

Hadi, Maryam, Kiki, Shofu, Stavi dan Siti. Maaf aku pergi lebih dulu satu bulan yang lalu. Dalam do’a, tersemat rindu. Ngomong-ngomong, apa maksudnya ter-Mamih? Mudah-mudahan bukan majas ironi ya, haha. Kapanpun kalian mau mengajak diskusi, bila aku bisa, in-syaa’Allah aku bersedia :’)

Ainun, Ifah, Nisa, Dewi, Evi, Janan dan Ulfa. Jiwa-jiwa penuh semangat yang membuat aku ter-charge tiap kali berbagi dengan kalian :’) Fii amaanillaah.

Maafkan kesalahanku di sepanjang pertemuan kita. Lifelong learning, lifelong struggle. Ayo berlomba-lomba dalam kebaikan 😀

Dan entah apa yang membuat kalian semua kompak berdo’a, “Semoga Teteh cepat nikah” sebelum kita berfoto bersama tadi sore -_- Aku hanya bisa nyengir dan mengaminkan dalam hati. Mudah-mudahan itu do’a yang baik, ya? Minimal aku akan memberikan undangan ulang tahun pada kalian. Haha.

Saling mendo’akan ya.. aku yang akan memasuki koasistensi, juga kalian yang masih diberi kesempatan untuk menikmati dunia S.Ked :”

Allaahummarzuqnal istiqoomah.

Hilda dan Elsa


Hilda dan Elsa, dua gadis kecil yang berhasil ‘mengacak-acak’ hatiku hari ini.

Aku bertemu dengan mereka di sebuah panti asuhan di bilangan Bandung, dalam rangka mengerjakan tugas bioetik bersama kelompok tutorialku. Aku kebagian mewawancari anak-anak SD, dan.. di sanalah mereka.

Hilda berusia 4 tahun, saat ini tengah bermain (hei, tentu saja, jiwa anak-anak itu bermain) di PAUD. Elsa berusia 6 tahun, sudah duduk di kelas 2 SD.

Sepanjang kegiatan kami, Hilda hampir selalu ingin kupangku. Saat hari mulai petang, dia mengajakku untuk melihat ikan dan kura-kura di kolam depan panti, lalu menggandeng tanganku untuk kembali masuk.

Sembari menggoda Hilda dan meraih tubuhnya yang lincah (bayangkan, hobi gadis kecil ini adalah menarik-narik jilbab kakak-kakaknya yang lain, kan malu merekanya), aku mengajak Elsa yang lebih pemalu untuk berbicara. Mulanya Elsa saaaangat pendiam, tapi saat kami hanya bertiga sementara anak yang lebih besar bermain eat bulaga, Elsa bahkan dengan konyolnya memamerkan gelang yang dia masukkan ke mulut sehingga tampak seperti gigi palsu. “Elsa lapar, ya? Gelangnya nggak usah dimakan dong, sayang. Yuk keluarin.” Tapi dia hanya nyengir dan melanjutkan kegiatannya mengemut gelang -_-

Hilda dan Elsa adalah anak yang paling muda di panti asuhan tersebut. Dua anak kecil yang berhasil ‘mengacak-acak’ hatiku hari ini.

Meskipun ingin, aku tidak bisa rajin berkunjung ke sana, karena tempatnya yang cukup jauh. Aku juga belum bisa memberikan banyak hal kepada mereka. Suatu hari nanti, semoga Allah mengizinkanku berbuat lebih banyak untuk mereka.

Semoga Allah selalu menjaga kalian ya, sayang. Teteh do’akan kalian menjadi anak yang shalihah dan selalu dilembutkan hatinya untuk menolong orang lain :’)

Allah selalu menyertai kita, bi idznillaah.

—–

Diriwayatkan dari sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Saya dan orang yang menanggung anak yatim akan berada di surga bersama-sama seperti ini”. Bersabda demikian beliau sambil memberikan isyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya,serta merenggangkan antara keduanya (HR. Bukhari).

Teh, Kuliah Itu Enak, Ya?


“Teh, kuliah enak, ya?”

Pertanyaan itu hingga kini masih melekat di benakku. Pelontarnya adalah seorang perempuan muda yang usianya kutaksir hampir sama dengan usiaku. Mungkin dua puluh tahun atau lebih.

Saat itu.

Selasa siang, sekembali dari kuliah umum, aku memutuskan untuk tidak langsung kembali ke indekos. Pikiranku sedang semrawut. Skripsi yang deadline-nya menari-nari, materi kuliah yang harus kukejar membacanya karena cukup terabaikan dengan keberadaan tugas akhir, tugas-tugas organisasi yang juga menuntut perhatian, serta beberapa masalah lainnya. Iya, masalah itu memang bisa mendewasakan. Tapi kali itu, aku sedang mencapai titik jenuh. Maka, sisi impulsif dari diriku mendorongku untuk berjalan dan mampir ke tempat-tempat yang tidak biasa kukunjungi. Setidaknya, bukan lingkungan kampus atau indekos. Oh iya, manset (baca: kaos tangan) koleksiku sudah kompak menghilang dari lemari. Terbawa (dan mungkin diakui, hehe) oleh teman-teman yang lain. Jadi, aku menyusuri jalan menuju sebuah toko yang menjual jilbab dan aksesoris muslimah lainnya. Aku melepaskan sepatu, kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan kecil nan sejuk. Ada tiga orang muslimah yang sedang melakukan aktivitas berbeda di dalam ruangan tersebut. Salah satunya, perempuan muda tadi, menemaniku memilih jilbab dan manset untuk kubeli.

Lalu, keluarlah pertanyaan itu,

“Teh, kuliah enak, ya?”

Aku menoleh. Wajahnya tersenyum ringan. Ada sedikit mendung yang tersaput di matanya, hanya sedikit.

“Eh, iya, Alhamdulillah,” jawabku dengan nada lembut. Ah, sepersekian detik sebelumnya aku benar-benar kebingungan harus menjawab apa.

“Saya nggak bisa kuliah, Teh. Tapi, karena sering bertemu mahasiswa, saya ikut merasa jadi anak Unpad. Hehe.”

Aku meleleh. Ya Allah, dengan segala keluhan yang aku lontarkan, apakah aku sudah kufur nikmat?

“Kan bisa belajar di tempat lain juga, Teh,” ujarku.

“Iya, makanya saya di sini, Teh.”

Sambil berusaha ceria, aku melanjutkan pembicaraan mengenai hal-hal lain. Perempuan muda itu bisa menjadi teman yang menyenangkan.

Aku teringat wajah khadimat di rumahku, kami memanggilnya Teteh. Saat Teteh pertama kali datang, aku masih SD dan adikku masih TK. Beliau bekerja di rumah kami hingga saat ini. Seorang perempuan muda yang jujur dan senang mengasuh anak-anak. Alhamdulillah, Teteh pandai membaca dan menulis. Jadi, meskipun memilih untuk tidak melanjutkan sekolah tinggi, Teteh sering ikut membaca koleksi buku dan koran kami di rumah.

Mengingat kedua perempuan tadi, aku tersungkur dalam syukur sekaligus malu. Memang, kesempatan untuk mengenyam pendidikan ini merupakan nikmat yang sangat luar biasa. Sayangnya, kita sering lupa karena tenggelam dalam permasalahan pribadi, yang sebenarnya bisa menjadi sarana pendewasaan. Saat ini, tidak semua orang mampu mengenyam pendidikan formal dengan baik, terlebih hingga tingkat universitas.

Aku teringat cita-cita yang pernah kutuliskan saat SMA. Sejak kecil, aku menyaksikan Nenek dan Ummi yang tidak ragu mengulurkan bantuan pada orang-orang sekitar yang membutuhkan, terlebih dalam hal pendidikan. Almarhumah Nenek turut mengasuh dan menyekolahkan beberapa sanak saudara yang memang memiliki keinginan yang kuat untuk melanjutkan pendidikan. Ummi juga sering bercerita mengenai anak-anak asuh yang Ummi bantu biaya SPP-nya setiap bulan. Aku juga ingin begitu. Aku ingin membantu mereka yang membutuhkan dan memiliki kesungguhan untuk menikmati pendidikan.

Meski saat itu aku tak sempat menjawab dengan baik, aku ingin berkata pada teman baruku itu,

“Iya Teh, kuliah itu enak. Nanti Teteh atau adik Teteh ikut juga, ya?”

Selamat Mendewasa, Nona Manis


Maruko

Assalaamu’alaikum.

Halo gadis kecil, apa kabar? (jangan bilang kau akan memprotesku dan berkata, “Aku bahkan lebih dewasa daripada Kakak sekarang.”)

Hari ini tanggal yang selalu kau anggap spesial. Tak peduli aku sedang berada jauh di asrama sewaktu SMP, atau aku tak punya uang lebih seperti sekarang (tabungan pun habis untuk skripsi, hehe), kau selalu merajuk meminta hadiah dariku.

Oh ya, kelahiranmu memang spesial, Nona. Aku hanya terlahir dua setengah tahun lebih awal darimu. Semenjak kau hadir di tengah-tengah kehidupan kita, aku mendapatkan kehormatan itu: menjadi kakak. Aku tak bisa membayangkan bila harus menghadapi masa kecil kita sendirian. Mungkin aku akan menjadi seseorang yang egois karena hanya memikirkan diriku sendiri. Tapi keberadaanmu, membuatku banyak memutar otak untuk sekadar membuatmu tertawa. Kau ingat boneka-boneka yang sering kumainkan? Boneka Woody yang kakinya putus karena sering kita tarik-tarik (karena besarnya badan sang Woody, tidak ada satu pun tubuh mungil kita yang mampu menggendongnya), boneka kelinci yang telinganya putus (aku lupa sebabnya), boneka beruang berbagai warna dan ukuran yang bermain di cerita-cerita karangan kita. Cherry Pin Pink Hana sekaligus Li Yen, Ao, Oa, Blue, Iyu (iyu ini satu-satunya manusia yang ada di cerita itu. Sosok kakak yang kerepotan menghadapi adik-adiknya yang super unik sedunia, hehe). Aku menikmatinya. Aku tak peduli renggutan kesalmu saat aku semakin aneh mengarang cerita, karena setelahnya kau masih murah hati memberiku tawa untuk membuat hidup kita ceria.

Hei gadis kecil, pernahkah kau membayangkan mendapatkan kakak seperti aku? ‘Orang yang seharusnya masuk museum’ menurut bahasamu. Pernahkah kau berharap mendapatkan sosok kakak yang lain, yang lebih dewasa dan normal. Aku tak pernah berharap sekalipun untuk menempatkan orang lain sebagai adikku. Meskipun kita sering bertengkar, meskipun kau seringkali menyebalkan (hahaha), kau adalah adikku. My beloved younger sister. (jangan coba-coba mengoreksi grammarku, sebaiknya kau lakukan itu nanti, saat mengoreksi jurnal skripsi-ku.).

Baiklah gadis kecil, saat ini  SOOCA pertamamu. Kau tidak mungkin membaca tulisan ini terlalu pagi. Aku juga harus bersiap-siap untuk berangkat kuliah.

Do’a terbaik selalu terucap untukmu, Nona. Mendewasalah bersamaku. Bahkan kau harus lebih baik dariku. Pertambahan usia bermakna pertambahan tanggung jawab. Meskipun seringkali aku panik karena melihat sifat santaimu, aku ingin selalu percaya bahwa kau akan tumbuh dewasa dan menjadi muslimah yang tangguh. Jangan lupa selesaikan tugasmu tepat waktu. Kau tahu? Orang-orang dewasa di luar sana memiliki banyak prinsip-prinsip positif yang perlu kita pelajari.

Jangan takut menjadi dewasa. Kau tidak perlu meninggalkan kepolosan kanak-kanak untuk itu. Kau hanya perlu memperluas sisi lain dirimu untuk menjadi seseorang yang lebih baik :’)

Ah, kakakmu mungkin bukan contoh yang baik. Aku masih belajar untuk menjadi seseorang yang berteguh hati menjalankan kebenaran dan totalitas dalam menjalankan amanah. Kehidupan ini adalah amanah, Nona manis. Ya, aku masih belajar. Masih banyak kekurangan yang perlu kuatasi. Jadi, ayo mendewasa bersamaku. Kau tidak akan menyesal untuk belajar. Meskipun kadang air mata dan keluh kesah akan mewarnai hari kita, ada Allah yang selalu mencintai kita. Ada kemudahan-kemudahan yang akan menyertai kesulitan dan tantangan yang hadir dalam hidup kita. Insya’Allah.

Selamat hari lahir, Nona beruang. Ayo berjuang menjadi dokter yang baik :’)

Salam sayang, kakakmu. Miaww.

p.s. : aku belum memutuskan akan memberi hadiah apa. Tunggu kondisi keuanganku kembali normal ya. Hehe.

 

Sumber gambar: http://lh4.ggpht.com/_znOjhtB5wn0/TFjyUSymWmI/AAAAAAAAAOk/4r0TEjvT4sE/s800/sp049.jpg

Pulang


Makna pulang bagiku bukan hanya bertemu orang-orang yang aku sayangi..

tapi juga menjumpai orang-orang tersayang yang senantiasa mengingatkanku untuk memperbaiki diri,

memompa kembali semangat yang hampir menyusut,

menyegarkan niat untuk berjuang,

dan..

memperbaiki diri dalam hal ibadah. Ibadah dalam setiap aktivitas kehidupan.

Keluarga bagiku adalah mereka yang mengingatkanku untuk mempertebal keimanan dan meningkatkan amal.

Rumah bagiku adalah di manapun mereka berada.

Pulang bagiku adalah perjumpaan yang selalu aku rindukan dengan mereka..