Buku-buku ‘Cahaya’


Kekhidmatan kami memandangi Kakbah tiba-tiba tercerabut oleh colekan tangan dari belakang. Rupanya seorang perempuan mencolek pundak saya seraya mengucap salam. Kami serentak menoleh ke belakang. Tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya. Perempuan berjubah putih dan demikian jelita itu berdandan bak peri. Dandanan model orang-orang Iran yang membaluti tubuh dengan kain putih tebal yang terjahit dari atas hingga ujung kaki. Dia memberikan senyum untuk saya. Lalu dia mengangsurkan sebuah pena hitam. “For me?” tanya saya terbata. Saya mengedarkan pandangan ke Tutie, Tatik, dan Rina. Mengapa pena ini tidak diberikan kepada salah satu dari mereka? Mengapa saya? Dia tidak menjawab. Mungkin tidak bisa berbahasa Inggris. Dia hanya mengangguk. Dan satu kata darinya yang tidak pernah saya lupakan selama hidup saya: “To write.”

–Hanum Salsabiela Rais dalam Berjalan di Atas Cahaya

berjalan-di-atas-cahaya-hanum-rais

Kutipan tulisan di atas saya salin dari bagian Epilog–bagian favorit yang berhasil membuat saya menangis karena rindu menghadirkan jiwa dan raga saya di tanah suci–salah satu karya Mbak Hanum Rais, dkk yang berjudul “Berjalan di Atas Cahaya.”

Mbak Hanum Rais adalah salah satu penulis kesukaan saya. Membaca tulisan-tulisan beliau membuat saya merasa terkayakan secara intelektual, perasaan hingga jiwa melalui kisah-kisah yang sebagian besar bertemakan Islam dan muslim di tengah-tengah masyarakat barat dengan penuturan yang cerdas serta lugas.

Perjalanan saya mengikuti karya-karya Mbak Hanum Rais tidak terjadi secara berurutan. Karya pertama beliau yang membuat saya jatuh hati adalah buku “Bulan Terbelah di Langit Amerika” yang kemudian diikuti dengan film layar lebar dengan judul yang sama. Selanjutnya saya membeli buku “Faith and The City” yang terbit beberapa waktu setelah Bulan Terbelah di Langit Amerika selesai tayang.

Seperti bisa diduga, efek ‘adiksi buku’ membuat saya mengejar ketertinggalan saya dalam menyimak karya Mbak Hanum. Bulan lalu buku “Berjalan di Atas Cahaya” mampir di pangkuan saya, dan setelah ini tampaknya saya akan berjalan mundur untuk menyesapi “99 Cahaya di Langit Eropa”. (Semoga biaya bantuan hidup internsip bulan ini turun supaya saya bisa ‘menebus’ novel tersebut di toko buku).

Dalam waktu dekat, saya menantikan film “Bulan Terbelah di Langit Amerika 2” yang akan tayang di layar lebar. Insya’ Allah Mbak Hanum Rais juga sedang menantikan kelahiran buah hatinya tercinta di bulan ini. Mudah-mudahan Allah lancarkan prosesnya, Mbak 🙂

Advertisements

#random #part31 #buku


23 Episentrum.

Buku yang istimewa. Terima kasih Mbak Yuli Anita, eh, Mbak Adenita :’)

Kami Adalah


Kaisar mengangkat tangannya sekali lagi, menyuruh panglima menahan diri. Albuqa Khan telah mengeluarkan sebuah pedang pendek dari sarungnya. Ia berjalan mendekati syaikh sambil memperlihatkan kilatan besi pipih yang kilau ketajamannya menyerikan ulu hati.

“Katakan sekali lagi, Pak Tua,” bisiknya di depan wajah Syaikh. “Apa yang kau pikirkan demi melihat pedang pendek ini?”

 Syaikh Jamaluddin merasa lehernya begitu dingin dalam sentuhan ujung senjata itu.

“Kami adalah anjing-anjing, Tuan-tuan,” ucapnya mengulang penuh ketenangan dan kepasrahan. Matanya memandang Albuqa Khan dengan keteguhan terpancar.

“Anjing-anjing tak berperadaban yang menghabiskan usianya dengan berperang dan saling membunuh. Kami adalah anjing-anjing bahkan lebih rendah dari seekor binatang paling menjijikkan yang dapat disebut. Namun itu dulu, Paduka Kaisar, lembaran kelam yang harus ditutup. Anjing-anjing itu berubah wujud saat iman datang kepada mereka.”

— Sinta Yudisia, The Road to The Empire

Pengikat Surga (sebuah novel)


Suatu hari saat mengunjungi salah satu toko buku di Jatinangor, mata saya terpaku pada sebuah novel berjudul Pengikat Surga. Saat saya raih, tertera kutipan tulisan Tasaro mengenai novel ini.

Tentu saja, Tasaro adalah salah satu penulis kesukaan saya, selain Taufiq Ismail, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Muthmainnah, Pipiet Senja, Fahri Asiza, Sakti Wibowo, Tere Liye, Ali Muakhir, Andrea Hirata, Afifah Afra Amatullah, Habiburrahman el Shirazy, Sinta Yudisia, Gola Gong dan beberapa penulis lain yang membuat mata saya terbuka lebar saat membaca karya mereka (jika kau sempat, saya rekomendasikan untuk membaca tulisan mereka). Saya mengenal Tasaro dengan kekhasannya dalam novel sejarah, dua karya yang saya baca pertama kali : Samita (saat SMP) dan Pitaloka (saat SMA). Meski tak hanya novel sejarah, kisah Galaksi Kinanthi dan Oh Achilles juga contoh karya Tasaro yang saya gemari.

Nah, tentu kau bisa menebak, setelah melihat nama Tasaro di covernya (oh, tolong maafkan saya, seringkali hal ini memang menjadi pertimbangan saya, melihat apakah sang penulis juga mengenal penulis yang saya baca karyanya sejak dahulu kala), saya bergegas membaca sinopsis novel ini. Dan saya semakin tergerak untuk membawanya pulang, karena novel sejarah ini bukan menceritakan sejarah ‘biasa’, tapi sejarah tentang manusia-manusia luar biasa : Rasulullah dan generasi para shahabat.

Saya kutipkan gambar dua lembar isi Pengikat Surga. Yah, saya foto supaya kau seakan benar-benar merasa mulai membaca buku ini, lantas bergegas membeli untuk membacanya.

Sudut pandang diambil dari seorang shahabiyah, Asma’ putri Abu Bakr, seorang shahabat terbaik Rasulullah SAW. Saat kau membacanya, kau akan hanyut di dalam cerita, bukan hanya bersama lika liku bahasa yang lugas namun tak kehilangan nilai sastra, tetapi juga teknik pengisahan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kau seakan-akan berada di sana, merasa sangat dekat dengan manusia-manusia, yang dengan keluarbiasaannya, tetaplah manusia. Atau dalam redaksi lain, dengan kemanusiaannya, mampu menjadi luar biasa karena melangkah dalam fithrah Islam.

Insya’Allah, menulis dan membaca karya seperti ini juga merupakan ikhtiar kita untuk meneladani Rasulullah SAW.

Selamat membaca !

Link lebih jauh tentang buku ini : http://pengikatsurga.wordpress.com/

p.s. : sejak detik itu, saya memasukkan Hinsani Bent Soe ke dalam daftar penulis kesukaan saya.

Rekomendasi Buku Bagian#1


Untuk menyambut IBF (Islamic Book Fair) tanggal 4-13 Maret di Istora Senayan–yang dengan sangat berat hati tidak bisa saya kunjungi (dua akhir pekan terisi dengan setia oleh kegiatan Senat dan DKM), izinkan saya menuliskan buku-buku yang menurut saya dalam status REALLY RECOMMENDED.

Tentu, maafkan dengan segala keterbatasan, saya belum mampu menuliskannya semacam di goodreads, hanya judul dan pengarangnya (itu pun ada yang terlupa, seingat yang pernah saya baca saja).

Pendahuluan : Tulisan ini saya post untuk menekan rasa sedih saya karena tak bisa datang ke IBF, setelah sejak pertama kali saya mengenal huruf saya dan keluarga hanya pernah melewatkannya satu kali karena terlupa, itu pun kami menyesali bersama-sama. Ya, IBF pun sangat saya rekomendasikan untuk menjadi agenda tahunan, entah pergi sendiri, bersama teman, atau keluarga. Mudah-mudahan teman-teman yang memiliki keluangan waktu dapat memanfaatkan kegiatan ini dan mengakrabi buku-buku, sang sahabat terbaik, dengan antusias dan bersemangat (lho? Intinya, lumayan juga kan kalau rekomendasi versi saya bisa bermanfaat untuk yang lain :D)

1. Buku yang berkaitan dengan dunia medis (sebagian dari rekomendasi guru saya) :

Fiqh Prioritas (jadi dokter muslim juga harus paham ini, lho)

Fiqh Kedokteran

Kesaksian Seorang Dokter

Fatwa-fatwa Kontemporer (Yusuf Qardhawi)

Tubuh Anda adalah Dokter yang Terbaik (Dr. Husen A. Bajry)

The Enzyme Factor (the miracle of enzyme), The Microbes Factor (mukjizat mikroba) oleh Hiromi Shinya, MD

2. Untuk para pecinta ilmu dan merindukan kemanfaatan di dalamnya

Prophetic Learning (terbitan Pro-U, dan tentunya khas Pro-U : menggugah dan inspiratif)

3. Buku-buku Salim A Fillah (bercermin pada indahnya dan luar biasanya konsep Islam yang paripurna)

Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim

Jalan Cinta Para Pejuang

Dalam Dekapan Ukhuwah

4. Buku-buku Tere Liye (belajar dari kehidupan, sederhana sekaligus luar biasa, paradoks kesahajaan), Genre : Novel

Hafalan Shalat Delisa

Moga Bunda Disayang Allah

Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Bidadari-bidadari Surga (sangat favorit !)

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Serial Anak-anak Mamak : Burlian, Pukat, Eliana

5. Buku-buku Tasaro (sebagian bergenre novel sejarah)

Oh, Achilles !

Galaksi Kinanthi

Samita

Pitaloka (trilogi)

Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan

Sekian dulu dari saya, berhubung saya belum ingat buku-buku yang lain dan saya harus menyelesaikan LI. Silakan jika ada rekomendasi lain, jangan ragu dishare 🙂