Tahu, Setuju, Berlaku.


Aku pernah berdiskusi dengan seorang teman tentang mengapa seseorang bisa tertular kebiasaan merokok dari lingkungan pergaulannya.

“Karena menurut mereka, merokok itu keren. Merokok menjadi sesuatu yang luar biasa.”

“Bukan Fah, menurutku, justru mereka ikutan karena merokok bagi mereka adalah hal yang biasa. Tidak merokok menjadi hal yang tidak biasa.”

Aku mengangguk saat itu. Sebagian diriku menyetujui perkataan temanku. Sebagian diriku yang lain berpendapat bahwa bisa saja ada alasan lain yang menjadi penyebabnya. Terlepas dari itu, alasan yang dikemukakan temanku dapat diterima.

Ada memang orang yang ikut melakukan sesuatu karena mayoritas orang-orang di sekitarnya melakukan hal tersebut. Supaya dia tidak dianggap aneh. Supaya dia bisa berbaur dengan nyaman. Lalu, dalam merokok misalnya, efek adiksi rokok membuat orang itu tergantung dengan keberadaan rokok meskipun ia sendiri tidak sedang berada di antara orang-orang yang merokok. Rokok menjadi bagian dari hidupnya. Maka sulitlah baginya melepaskan diri dari rokok, kecuali dengan tekad yang kuat.

Memulai melakukan sesuatu tanpa didasari ilmu yang benar memang bisa menjadi hal yang tidak baik bagi kita.

Bisa saja seseorang yang berada di lingkungan para perokok, karena tuntutan pekerjaan misalnya, tidak terpengaruh untuk juga ikut merokok karena dia tahu rokok mengandung berbagai zat berbahaya. Bahkan dia bisa membuat teman-temannya menghormati prinsip tersebut dengan cara yang baik. Bukan tak mungkin dia menjadi inspirasi bagi teman-temannya untuk berhenti merokok.

Ilmu memberikan kita pilihan untuk melakukan hal yang baik dan benar. Pilihan itu memang nyata. Toh ada juga orang yang tahu rokok itu berbahaya tapi tetap saja merokok, karena sikap yang ia pilih tidak bersesuaian dengan ilmu yang ia miliki. Dalam teori perilaku, ada tiga tahapan yang dapat seseorang lalui dalam melakukan sesuatu: tahu – setuju – berlaku.

Analogi ini berlaku untuk hal-hal lainnya dalam kehidupan. Misalnya, freesex yang mulai menjadi hal biasa dalam kehidupan para muda mudi. Bahkan anak SD. Bahkan anak TK. *nangis mojok*

Atau korupsi. *Contoh ekstrim*

Ah, masing-masing dari kita punya alasan masing-masing sebelum melakukan sesuatu. Aku, ingin melakukan sesuatu dengan ilmu.

Advertisements
Next Post
Leave a comment

2 Comments

  1. Saya punya pandangan lain mba Afifah.

    Banyak orang memulai merokok diusia belia sebut saja saat SMP atau bahkan SD mungkin gak terlepas dari rokok sebagai simbol maskulinitas. Anak – anak ababil ini sedang mencari jati diri, masuk lah rokok sebagai pilihan.

    Terus bagaimana dengan orang-orang yang berpendidikan tinggi, mengerti sekali a-z bahaya merokok yang baru ikutan merokok malah diusia dewasa?

    Salah satu hal “pembeda” yang tidak dipengaruhi simbol-simbol maskulinitas, strata sosial atau kemapanan ekonomi adalah manajemen stres.

    Alasan utama orang dewasa tadi memulai merokok karena manajemen stres mereka. Mereka coba timbun stres mereka dengan merokok. Beban pekerjaan yang begitu banyak akan lebih ringan dikepala jika menghadapinya dengan tenang (read: nikotin)

    Oleh karenanya saya termasuk orang yang kurang setuju dengan justifikasi orang indonesia gak kayak barat ya. Mereka bisa lho gak ngerokok padahal stres juga. Mereka emang gak ngerokok tapi mereka “minum” lho. Sama aja itu manajemen stres mereka.

    Saya sendiri termasuk yang mempersiapkan, nanti apakah tuntutan pekerjaan, cobaan-cobaan akan menggoyahkan idealisme saya dengan tetap tidak merokok

    (Panjang juga komen saya. Pdahal Ini ngetik pake HP lho kekeke)

    Reply
    • Setuju 🙂 Saya hanya menggambarkan salah satu alasan dari berbagai latar belakang mengapa seseorang merokok, terutama pada kalangan anak muda yang sebelumnya tidak pernah bersinggungan dengan rokok dan menganalogikannya pada hal-hal lain.. Tentu ada teori dalam bahasa ilmiahnya yang lebih lengkap dan mendalam 😉

      Terima kasih tambahan penjelasannya yang wow. Saya suka dengan sistematikanya, Mas Eng 🙂

      Regards, Fifah.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: