Hana, Nisrina dan Sebuah Piala


Hari ini aku menemani kedua adik sepupu mungilku mengikuti lomba. Sang kakak bernama Hana, sang adik bernama Nisrina. Hana mengikuti lomba menari saman dan lomba mewarnai. Nisrina mengikuti lomba hafalan do’a. Dua kakak beradik itu memiliki karakter yang cukup berbeda. Hana adalah gadis kecil yang pemalu dan lebih sering menyembunyikan apa yang dia rasakan atau pikirkan sehingga orang dewasalah yang harus banyak bertanya. Nisrina adalah gadis kecil pemberani nan cerdas dan rajin bertanya. Bila aku menyebutkan kosa kata yang baru pertama kali dia dengar, Nisrina akan mencecarku dengan pertanyaan, “Itu apa Kak maksudnya?” sampai dia paham dengan penjelasanku. Sampai-sampai aku merasa harus lebih rajin membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia..

Alkisah, pada saat pengumuman, kami mengetahui bahwa Nisrina mendapatkan juara 3 dari lomba yang diikutinya. Orang-orang dewasa di sekitarnya bertepuk tangan riang, berkata selamat pada gadis kecil itu. Tapi saat aku menengok ke arahnya, Nisrina tampak berpikir keras. “Kak, kenapa aku bisa menang?” Aku ingin tertawa saat itu, tapi demi melihat wajah seriusnya, aku berusaha menjawab dengan tenang. “Hm, sepertinya karena tadi Nisrina lancar membaca do’a.” Nisrina mengangguk-angguk. “Oh begitu.” Kemudian barulah wajahnya tampak ceria.

Beberapa menit kemudian Nisrina menghampiri Hana. “Kak Hana, aku kan menang karena lancar baca do’anya. Kak Hana nggak menang karena mewarnainya keluar garis kali. Kak Hana kan harusnya mewarnainya nggak boleh keluar garis.” Aku menahan tawa sekali lagi. Di usia lima tahun, Nisrina memang memiliki nalar yang tajam. Aku melirik sekilas ke arah Hana, ada kilatan sedih di bola matanya.

Saat kami menunggu Nisrina yang maju untuk mengambil hadiah, aku merendahkan tubuhku dan berbisik pada Hana, “Piala itu hanya hadiah yang kecil. Hadiah yang besar itu keberanian yang ada di sini: di dalam hati kita. Hana sudah keren kok. Ayo tos. Aku punya coklat di rumah, nanti kita makan bareng ya sama Nisrina.”

Sekembali Nisrina, Hana tampak lebih ceria. Mereka berdua bisa kembali bertengkar (itu artinya dia kembali normal kan? Hahaha) untuk memegang piala Nisrina. Nisrina yang kegirangan bersikeras memeluk pialanya sepanjang waktu. Tapi pada satu titik, saat tangannya terasa pegal, Nisrina menitipkan pialanya padaku. Pada saat itu kubiarkan Hana memegang piala adiknya. Hana tampak tersenyum di sebelah kiriku. Sementara Nisrina masih sibuk mengoceh di sebelah kananku tentang tas yang baru saja ia dapatkan sebagai hadiah.

Ah, bahkan kanak-kanak tak pernah sadar bahwa diri mereka sendiri adalah hadiah.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: