Nasihat Tiga Menit


“Teh, sebelum aku pergi, nasihatin dong 3 menit.”

Saya memasang mata kelinci sambil memohon pada Teteh yang berada di depan saya. Kami tengah duduk berhadapan seusai sang Teteh mendengarkan saya membaca surat yang tadinya akan saya setorkan ke ustadz.

Oh ya, saya sudah pernah cerita, kan? Atau belum, ya? Ya sudah, saya cerita dulu ya..

Begini. Alkisah, saya mengikuti program tahfizh (baca: hafalan) Al Qur’an di Masjid Habiburrahman, bertempat di dekat Bandara Husein Sastranegara. Pertama-tama, sahabat saya tercinta yang memiliki nama panjang yang memang panjang, Hadiyatussalamah Pusfa Kencanasari, mendorong saya untuk mengikuti program tahfizh di sana. “Nur, daripada kamu sering nggak jelas gitu, mending ikutan ke Habib deh. Kerasa banget, nggak stabilnya kita selama ini kebanyakan karena kita jauh dari Al Qur’an.” Saya yang waktu itu baru usai menangis karena mencapai ‘titik jenuh’ (titik jenuh adalah julukan saya bagi akumulasi segala hal yang membuat diri sendiri tertekan, haha) dan memendam keinginan untuk menggaruk dinding dengan kuku—seperti kucing, ya kira-kira begitulah—akhirnya mengangguk. Datanglah saya ke sana. Dengan bantuan seorang Teteh, saya mendaftarkan diri di Lembaga Tahfizh Qur’an Habiburrahman dan mulai resmi mengikuti program tahfizh kembali (terakhir saat SMP >_<). Sistem tahfizh di Habib lumayan berbeda dengan sistem yang pernah saya jalani di TK, SD atau SMP (dengan riwayat sekolah TKIT-SDIT-SMPIT, hehe). Di sekolah saya sebelumnya, seorang guru hanya mendengarkan satu orang murid. Nah, di LTQ Habib ini, satu orang guru mendengarkan tiga sampai enam murid. Berhubung di akhawat maupun ikhwan masing-masing hanya ada satu guru, kami harus mengantri untuk mendapatkan giliran setoran ziyadah (baca: hafalan baru) maupun muraja’ah (baca: hafalan lama). Waktu sekolah dimulai dari ba’da Isya’ sampai pagi menuju siang di keesokan harinya.

Evaluasi diri saya selama 2 tahun kuliah, sulit rasanya bila kita menghafalkan Al Qur’an murni secara mandiri. Saya pribadi menilai diri saya sangat memerlukan guru dan program yang pakem. Mengapa?

Pertama, saya tergolong orang yang harus ‘dipaksa’ keadaan. Targetan-targetan pribadi saya selama dua tahun awal kuliah—sebelum saya ikut LTQ, terbukti lebih banyak yang kena excuse. Masih lebih baik kondisi saya saat SMA, meskipun saya bersekolah di SMA Negeri, saya masih menyempatkan diri untuk menyetor hafalan ke Ummi atau Kak Ii sebagai mentor saya. Lha saat kuliah di fakultas kedokteran, yang notabenenya teman-teman juga super sibuk sedunia, saya jadi kehilangan sistem ‘pemaksa’ itu -_-

Kedua, seseorang yang ingin menghafal Al Qur’an memerlukan guru untuk memperoleh bimbingan, baik itu secara bacaan Al Qur’an maupun nasihat-nasihat yang diperlukan dalam menjaga keistiqamahan diri. Saya sendiri merasa menjaga niat dan konsistensi itu saaaaangat butuh perjuangan. Kalau lagi futur, kacaunya na’udzubillah. Tilawah mandeg. Hafalan apalagi.

Ketiga, mengikuti LTQ artinya mempertemukan diri saya dengan teman-teman seperjuangan lainnya. Di LTQ Habib, kami para muslimah mendapatkan satu ruangan yang cukup besar di sisi bangunan utama masjid untuk bermalam. Ibarat basecamp bagi kami. Tak masalah juga bila kami sedang berhalangan, kami masih bisa tetap bermalam karena tidak perlu tidur di masjid. Nah, teman-teman sekelas saya di Habib ini bervariasi usianya. Mulai dari siswi sekolah menengah, mahasiswi, Teteh-teteh yang sudah bekerja, ummahat hingga beberapa ibu yang sudah mulai lanjut usia. Saya sering tertampar kalau sudah lama bolos dan mengamati teman-teman saya di sana. Beberapa ummahat membawa serta anaknya yang masih balita. Sambil mengasuh anaknya yang sedang rajin berlari-lari keliling masjid (namanya juga anak-anak, haha) atau menidurkan anaknya saat mulai beranjak malam, mereka memegang Al Qur’an di tangan. Aaaa. Saya yang masih belum punya tanggungan apa-apa kok bisa-bisanya kalah semangat sama mereka >_< Ada juga beberapa ibu paruh baya yang, meskipun bacaannya terbata-bata dan bila menyetor mereka tidak bisa sebanyak kami, rajiiiin sekali datang. Saya malu lagi, deh. Hei Nona, mau cari alasan apa lagi, sih?

Saya juga ingat nasihat seorang guru tahfizh saya di SMP, “Saat kalian diberikan karunia berupa hafalan Al Qur’an, sebenarnya hafalan itu juga merupakan amanah Allah. Harus benar-benar dijaga.”

Harus benar-benar dijaga.

Jadilah saya membulatkan hati untuk menjadwalkan tahfizh setiap malam Ahad. Kalau orang-orang nanya, “Malming di mana?”, dengan nyengir saya akan menjawab, “Di masjid.” Hehe. Seru lah. Setiap kali pulang dari Habib, saya merasa otak saya yang sering ngaco jadi jauh lebih baik. Ibarat menekan tombol refresh.

Tapi yaaa, sebagai mahasiswa tingkat akhir di fakultas yang jadwal akademiknya luar biasa, saya akhirnya kembali bandel beberapa waktu. Rekor terparah saya: tidak hadir dua bulan, diselingi sekali hadir, lalu tidak hadir kembali selama satu bulan.

Astaghfirullaah..

Dua bulan tidak hadir-satu kali hadir-satu bulan tidak hadir itu persis baru terjadi tiga bulan yang lalu. Maka, saat malam Ahad kali ini saya, Alhamdulillah, berhasil menapakkan kaki kembali di Habib, saya meminta nasihat dari seorang Teteh yang menjadi asisten Ustadz di sana.

“Teh, sebelum aku pergi, nasihatin dong 3 menit.”

Saya duduk rapi, berlaku seperti murid yang baik. Ayolah Teh, nasihatilah saya yang sering nakal ini.. Saya menunggu-nunggu.

“Saat kita diberi nikmat oleh Allah berupa bacaan yang lancar, mudah mengingat hafalan baru, juga mudah meraih kembali hafalan yang lama, sadarilah bahwa nikmat itu harus benar-benar kita syukuri. Di sini, banyak teman-teman yang memerlukan waktu lebih lama untuk menghafal. Tidak semua orang diberikan nikmat itu.. Tapi, ingat juga, untuk menghafal  Al Qur’an, tidak cukup hanya pintar. Kita juga harus selalu menjaga niat yang ikhlas dan bersabar. Kalau hanya pintar, tapi tidak ikhlas dan tidak sabar, bisa jadi kita juga berguguran seperti orang-orang lain yang berguguran. Jadi, ayo istiqamahkan lagi.”

Saya ingin menangis. Ya Allah, saya belum seikhlas itu, belum sesabar itu, sampai belum sesungguh-sungguh itu untuk istiqamah.. Iya banget, istiqamah itu mahal..

Maka, tulisan ini saya buat untuk mengingatkan diri.. semoga Allah senantiasa membimbing saya untuk menjadi lebih baik.

Mau jadi shahibul Qur’an, kan?

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: