Catatan Skripsi (7) : Menjadi Peneliti


Saat skripsi berjilid kuning itu akhirnya selesai, saya bernapas lega. Alhamdulillah. Buncah rasanya melihat bahwa dirimu bisa menghasilkan sebuah karya. Bagi saya, setiap karya berbicara, menyampaikan pesan kepada dunia. Tinggal bagaimana cara karya itu menyampaikannya–bila ia adalah karya ilmiah, bisa melalui jurnal, poster, konferensi dan sebagainya–dan apakah dunia sekitar karya itu ingin mendengarkan pesannya. Persis seperti komunikasi.

Lekas saya mengumpulkan 2 jilid skripsi ke kampus di Jatinangor, lantas bergegas menuju Bandung untuk memberikan 1 jilid skripsi masing-masing bagi dua dosen pembimbing saya: dr. Ita dan dr. Miftah. Hari itu waktu sudah tergolong sore. Saya menitipkan skripsi kuning pada sekretaris departemen IKM dan IPD. Mengangguk hormat pada kedua sekretaris tersebut, berterima kasih karena karena telah banyak membantu saya dalam pengumpulan data, juga menitipkan salam kepada dua dosen pembimbing saya. Saat melewati koridor departemen IKM dan IPD, saya tahu, banyak hal yang saya peroleh setiap kali berada di sana.

Sebagai seorang yang tidak tahu apa-apa dan diberi tugas untuk membuat apa-apa (aduh, maafkan bahasa saya), seseorang yang datang untuk membimbing tentang segala sesuatu yang apa-apa seperti secercah cahaya. Proses pembuatan skripsi bagi saya bukanlah beban akademik semata, tapi juga suatu proses belajar yang saya nikmati. Baru kali ini saya memainkan peran penuh sebagai peneliti. Oh ya, menjadi peneliti adalah mimpi yang saya simpan di benak saya sejak saya bisa membaca.

Habisnya, Ummi membelikan banyak buku tentang peneliti untuk saya baca di rumah. Ada Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Marie Curie, Thomas Alva Edison, Alexander Graham Bell serta para cendekiawan lainnya. Saya kan jadi tergoda.

Saya ingin menjadi peneliti. Maka, di SD-SMP-SMA-kuliah, saya memasuki kelompok ilmiah sejenis KIR, berharap dapat belajar untuk menjadi seorang peneliti. Saya memang belajar, tapi masih berupa fragmen-fragmen. Hehe. Mau contoh?

Saat SD, saya menikmati masa bermain saya untuk menempeli guru-guru saya menunjukkan beberapa percobaan ilmiah–di samping kesukaan saya bermain karet, bekel, kejar-kejaran, memanjat dan kadang berkelahi bila teman-teman laki-laki saya sudah terlampau menyebalkan. Selain itu, Ummi juga sering mengajak saya mendatangi tempat yang membuat saya yang mudah penasaran lama-lama berubah menjadi Curious George (itu lho, monyet kecil yang tinggal dengan pria bertopi kuning, eh, tapi saya bukan monyet lho, ya).

Saat SMP, saya bergabung sebagai asisten laboratorium di bahwa komando Pak Ade–guru biologi saya yang super keren (lain kali saya akan menyempatkan diri untuk menulis khusus tentang beliau). Pak Ade memberikan banyak pengalaman ilmiah kepada saya dan beberapa teman lainnya. Menangkap dan mengawetkan kupu-kupu. Membuat kerangka katak dan ikan (dalam hal ini, saya tidak berhasil membuat yang bagus, hiks). Melakukan beberapa pengamatan ilmiah terhadap tanaman. Pak Ade juga mendorong saya untuk mengajukan proposal dan melaksanakan penelitian mengenai pembuatan pupuk dengan komposisi yang baru–yang, sayangnya, tidak saya selesaikan dengan baik. Maafkan saya ya, Pak >_<

Saat SMA, saya bergabung dengan pasukan KIR yang dikomandoi oleh Dina Faizah, teman saya yang punya kemampuan memimpin yang sangat baik. KIR di SMA tempat saya bersekolah, SMAN 34 Jakarta, memiliki ciri khas: aktivitas daur ulang. Saya belajar mengenai daur ulang kertas, daur ulang plastik, pembuatan biopori, perawatan tanaman hidroponik (sayangnya saya masih belum terlalu mengerti pembuatan dari nolnya), pembuatan pupuk dan, tentu saja, pembuatan karya ilmiah.

Saat kuliah, saya bergabung dengan SRC alias Science Research Center di FK Unpad. Fokus kami pada tahun-tahun awal lebih banyak pada penulisan karya ilmiah yang berkaitan dengan dunia medis. Namun, prestasi saya tidak sebaik teman-teman yang lain, saya baru berhasil membuat karya berjenis literature review atau kajian pustaka. Teman-teman yang lain sih sudah jauh lebih jago dari saya >_< Mereka sudah bisa membuat poster dan memberikan presentasi ilmiah dengan luwes di depan banyak orang. Maju terus SRC!

Nah, pembuatan skripsi sebagai tugas akhir kuliah S.Ked itulah yang memberikan saya kesempatan untuk memainkan peran penuh sebagai peneliti. Saya, dibimbing oleh dua dosen yang luar biasa, melakukan setiap tahapan penelitian, lengkap. Mulai dari pembuatan proposal penelitian, desain studi, desain instrumen penelitian, pelaksanaan penelitian, analisis data, interpretasi hasil, hingga pembuatan laporan penelitian. Yang mengharukan, fakultas saya mewajibkan kami melakukan publikasi artikel penelitian di jurnal ilmiah. Wah, pengalaman yang berharga sekali bagi saya. Saya bisa berguru langsung kepada dr. Ita dan dr. Miftah yang, diam-diam setelah saya browsing di internet, telah menghasilkan beberapa karya yang dipublikasikan di jurnal internasional. Mendebarkan. Haha. Iya sih, saya sering mendapatkan coretan-coretan di atas draft skripsi maupun artikel yang saya buat setiap kali bimbingan. Revisi, revisi, revisi. Tapi saya senang karena tahu, bagian mana yang harus saya perbaiki. Oh, ternyata harusnya begitu, ya. 

Selanjutnya, saya memiliki rencana, dengan izin-Nya, setelah sumpah dokter dan internship, saya ingin mengambil S2 di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat atau Public Health. Pada salah satu kesempatan, dr. Ita memberikan beberapa saran mengenai rencana saya ini. Coba saja ke Todai, Fah, atau cari beasiswa ke Eropa. Kamu persiapkan TOEFL dari sekarang. Rencanakan juga untuk magang di penelitian fakultas atau dosen saat kamu lebih luang, karena bisa jadi salah satu bahan rekomendasi bagi universitas yang kamu tuju.

Hingga saat ini, saya mendapatkan definisi yang lebih lengkap: saya ingin menjadi peneliti di tingkat komunitas. Semoga Allah membimbing dan memudahkan setiap langkah yang akan saya ambil.

Oh ya, tentu saja, saya juga harus belajar untuk mampu menyeimbangkan diri. Mengapa? Pada saat saya meniti target tersebut, mungkin saja Allah menitipkan amanah lain pada saya: keluarga. Saya ingin menjadi partner yang terbaik bagi seseorang yang Allah amanahkan saya padanya dan ibu yang terbaik bagi para pemimpin masa depan yang tumbuh di lingkaran kesayangan kami. Kiprah perempuan di tengah masyarakat tidak boleh mengabaikan fitrahnya, kan? 😉

Advertisements
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: