Catatan Tentang Jilbab


Malam tadi saya bertukar kisah dengan seorang perempuan luar biasa. Beliau adalah seorang dosen kami, sejujurnya, dosen pembimbing Icha, dan saya nebeng bermain di rumah beliau. Hehe.

Banyak. Banyak sekali kisah yang beliau sampaikan. Seperti menemukan oase. Beliau bisa mengejawantahkan berbagai konsep dalam tata nilai kehidupan. Dekat. Nyata. Kebenaran Islam terasa sangat istimewa, rasa syukur menyerbu dada saya karena Allah telah mengizinkan saya menjadi seorang muslimah. Allah, kadang saya lupa nikmat ini..

Salah satu kisah yang saya rekam dengan baik adalah kisah perjuangan para muslimah pada saat beliau SMA-kuliah untuk mengenakan jilbab. Masa itu, peraturan-peraturan institusi pendidikan melarang penggunaan jilbab di sekolah atau kampus. Orang tua melarang anak-anaknya berjilbab. Masyarakat menganggap jilbab sesuatu yang aneh. Bahkan, sempat ada beberapa kasus yang dilakukan oleh oknum tertentu untuk memberikan stereotype yang negatif mengenai jilbab.

Terasa sekali perjuangannya.

Sembari mendengarkan, saya melirik jilbab yang saya kenakan. Ya Allah, nikmat untuk melaksanakan perintah-Mu ini ternyata luar biasa sekali, ya?

Beliau kemudian melanjutkan, “Saat ini, tampaknya memang lebih mudah, ya. Kita bisa lihat di mana-mana, sebagian besar perempuan sudah mengenakan jilbab. Tapi, apa benar begitu? Atau kita hanya merasa nyaman dengan kondisi saat ini tanpa sadar ada tantangan lain yang juga perlu kita selesaikan?”

Saya mengernyit. Apakah kemudahan seperti ini sebenarnya bukan kemudahan? Saya tidak mengerti >_<

Oh, iya.

“Hm.. Mungkin ada tantangan lainnya, Dok. Kalau dulu, muslimah yang berjilbab adalah orang-orang yang struggle karena sangat amat ingin melaksanakan perintah Allah. Mereka sangat teguh menjaga diri dalam batas-batas yang Allah tetapkan. Sekarang, banyak orang yang tertarik berjilbab karena sudah menjadi bagian fashion. Makna menjaga diri itu masih belum purna terlaksana, masih ada teman-teman yang berjilbab, merasa pacaran itu fine-fine saja. Maka, kami saling mengingatkan dalam hal itu.”

Dosen kami mengangguk.

“Iya, mungkin sekarang ada pergeseran makna. Maka, tugas kita adalah menyampaikan yang benar kepada teman-teman, dengan cara yang baik.”

Pergeseran makna? Saya terdiam. Apakah saya juga telah memaknai jilbab yang saya kenakan dengan benar?

Semasa SMP, saya dan beberapa sahabat saya bersepakat, “Kita harus berusaha menjadi muslimah yang berprestasi. Jilbab ini tidak menjadi penghalang seseorang dalam berkarya. Justru, kita menjadi istimewa karena keIslaman kita. Karena identitas kita sebagai seorang muslimah.”

Iya. Karena Islam menghendaki muslimah mengoptimalkan potensi kebaikannya untuk Allah. Potensi kebaikan yang kemudian melahirkan kemanfaatan bagi yang lainnya.

Suatu hari Kak Ii pernah mengingatkan, “Fah, jangan jadikan targetan kamu berupa prestasi yang dinilai manusia, misalnya, jadi mawapres. Boleh kok ikut mawapres, untuk tahu sejauh mana perkembangan diri kita, tapi bukan untuk dijadikan tujuan. Jadilah mahasiswa berprestasi di mata Allah. Mahasiswa berprestasi yang dikenal namanya di langit, bukan hanya di bumi.”

Saya, yang tidak berhasil menjadi mawapres tiga besar di fakultas saya (saya kalah keren dibandingkan teman-teman yang lain, haha, da memang saya nggak keren, sih :p), sering mengulang-ulang pesan itu di benak saya.

Menjadi mahasiswa berprestasi yang dikenal namanya di langit? Perjuangannya harus lebih sungguh-sungguh, ya? :’)

Kembali ke jilbab. Bagi saya, jilbab itu bermakna tiga hal:

1. Sarana saya untuk menjadi hamba yang dicintai Allah (aamiin Ya Allah, aamiin). Taat itu salah satu bukti cinta, kan? :’)

2. Penjagaan Allah untuk diri saya. Ini beneran. Lewat jilbab yang saya kenakan, Allah senantiasa mengingatkan saya bahwa saya adalah seorang muslimah. Tingkah laku harus dijaga, interaksi dengan lawan jenis nggak boleh berlebihan, akhlak harus diperbaiki terus menerus. Penjagaan dari sinar UV. Penjagaan dari sisi buruk para laki-laki.

3. Penyemangat diri untuk menjadi seseorang yang berprestasi di mata Allah.

Bismillaah.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: