Kisah Seniman Bintang Lima di Indonesia


Dulu, dulu sekali, saya mengira dokter hanya mempelajari sesuatu yang eksak. Semacam biologi, kimia, fisika dan matematika (oke, yang terakhir ini jarang).

Tapi, dosen-dosen saya mematahkan anggapan itu, “Menjadi dokter itu adalah seni.” Seni memahami kondisi sehat-sakit dari setiap sudut pandang, seni berinteraksi dengan orang lain, seni bekerja sama dengan banyak pihak, seni berkomunikasi, seni mendidik, seni belajar sepanjang hayat, seni menjadi teladan, seni membuat keputusan dalam bermacam kondisi..

Ah ya, dokter itu memang seniman.

Memang, aspek eksak menjadi bahan belajar yang dibahas di perkuliahan, tetapi tidak berhenti di sana saja.

Bahkan ada yang namanya 5-star doctors untuk merangkum semua itu (sumber: http://www.globalfamilydoctor.com/member/awards/WONCAfive-stardoctors.aspx):

  1. a CARE PROVIDER who considers the patient as an integral part of a family and the community and provides a high standard of clinical care (excluding or diagnosing serious illness and injury, managing chronic disease and disability and provides personalised preventive care whilst building a trusting patient- doctor relationship;
  2. a DECISION MAKER, who chooses which technologies to apply ethically and cost-effectively while enhancing the care that he or she provides;
  3. a COMMUNICATOR, who is able to promote healthy life-styles by emphatic explanation, thereby empowering individuals and groups to enhance and protect their health;
  4. a COMMUNITY LEADER, who has won the trust of the people among whom he or she works, who can reconcile individual and community health requirements and initiate action on behalf of the community;
  5. a TEAM MEMBER, who can work harmoniously with individuals and organisations, within and outside the health care system, to meet his or her patients and community’s needs. (WHO menyebut poin kelima ini sebagai MANAGER yang perannya “to initiate exchanges of information in order to make better decisions, and to work within a multidisciplinary team in close association with other partners for health and social development”)

Saat saya belajar Family Medicine (meskipun masih teori, insya’Allah belajar lebih mendalam saat menjadi dokter muda nanti), ada konsep pendekatan BIOPSYCHOSOCIAL. Terbayang sekilas? Dokter harus mampu melihat aspek biologis, psikologis dan sosial pasien dalam setiap tatanan 🙂

—–

Untuk melaksanakan kelima peran tersebut, tentu saja dokter memerlukan kepercayaan pasien juga penjaminan lingkungan dalam aktualisasi keilmuannya.. Sayangnya, hal tersebut mulai terusik oleh peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu, hingga lahirlah aksi solidaritas “Tolak Kriminalisasi Dokter.”

Beberapa tulisan dari guru dan kakak kelas saya banyak menjelaskan mengapa kami menolak kriminalisasi dokter..

Saya sertakan beberapa di sini, ya.

Pertama.

Ada tiga kondisi berbeda terkait dengan tindakan yang diberikan oleh seorang dokter terhadap kasus kegawatdaruratan:

  • Pasien gawat -> tindakan sesuai prosedur medis -> komplikasi tindakan -> pasien meninggal (ini risiko medis. Setiap tindakan medis ada risikonya. Makanya, dokter tidak akan melakukan tindakan tanpa persetujuan pasien atau keluarganya)
  • Pasien gawat -> tindakan sesuai prosedur medis (dan tidak akan dilakukan tanpa persetujuan pasien/keluarganya) -> komplikasi tindakan -> pasien meninggal -> dokter ditangkap. (Ini kriminalisasi. Dan inilah yg terjadi pada dokter yg sekarang sedang ditahan)
  • Pasien gawat -> tindakan TIDAK sesuai prosedur medis -> komplikasi tindakan -> pasien meninggal. (Ini malpraktik)

Bagaimana kita bisa tahu seorang dokter masuk pada kondisi pertama, kedua atau ketiga? Sebagaimana tulisan yang saya cetak tebal, tolak ukur yang kita gunakan adalah kesesuaian dengan prosedur medis. Sebagaimana profesi lain, dokter memiliki prosedur medis yang ditetapkan berdasarkan keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Nah, bila kita tengok penjelasan secara medis (dan memang harus dilihat dari pertimbangan medis, bukan pertimbangan non medis apalagi asumsi belaka), kondisi yang terjadi pada dr. Ayu adalah kondisi yang kedua. Emboli udara merupakan risiko medis yang bisa terjadi sewaktu-waktu yang sulit diperkirakan.  Penjelasan sederhananya bisa disimak di http://news.detik.com/read/2013/11/23/152426/2421543/10/ketika-dokter-asing-bicara-soal-nasib-dr-ayu-yang-dipenjara?991101mainnews dan  http://health.kompas.com/read/2013/11/12/1404517/Emboli.Si.Pencabut.Nyawa.Ibu.Usai.Melahirkan.

Oleh karena itu, aksi solidaritas dokter yang dilakukan pada 27 November lalu bukanlah dilakukan untuk meminta kekebalan hukum apalagi kenaikan gaji, tapi meminta keadilan. Mengapa? Pada kasus malpraktik (yang untuk menetapkan suatu kasus malpraktik pun, ada banyak pertimbangan yang harus ditelusuri; sayangnya ada gap antara pengertian “malpraktik” antara orang yang berkiprah di dunia medis dengan yang tidak; nah, untuk mendapatkan pemahaman yang benar mengenai malpraktik ini bisa dibaca di http://legal-dictionary.thefreedictionary.com/malpractice dan http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2628513/), pelaku memang harus dihukum. Namun, bila bukti yang ada menunjukkan bahwa malpraktik ini tidak ada, tentu saja pemberian hukuman bukanlah hal yang benar.

Kedua.

Berdasarkan definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia online, kriminalisasi didefinisikan sebagai:

proses yg memperlihatkan perilaku yg semula tidak dianggap sbg peristiwa pidana, tetapi kemudian digolongkan sbg peristiwa pidana oleh masyarakat

Sedangkan Merriam-Webster Dictionary memberikan pengertian begini:

Definisi KriminalisasiNah, apabila kasus dr. Ayu ditetapkan sebagai sesuatu yang kriminal (artinya, sebagai sesuatu melanggar hukum), apakah yang akan terjadi ke depannya? Saya bukanlah orang yang mengerti tentang hukum secara mendalam, mungkin teman-teman dari fakultas hukum bisa membantu untuk menjelaskan. Sependek yang saya tahu (sekali lagi, saya kurang memahami hukum secara mendalam), tatkala suatu hukum ditetapkan, ketetapan tersebut kemudian akan bersifat mengikat dan memaksa. Artinya, berlaku untuk semua orang dan dapat dipaksakan. Tentu tidak ada masalah apabila ketetapan hukum tersebut dibuat berdasarkan pertimbangan yang mendalam dan benar. Bagaimana bila sebaliknya?

Secara personal, saya dan beberapa teman membayangkan posisi kami kemudian tatkala kami menjadi dokter (saat ini kami masih menjadi mahasiswa kedokteran). Bila masyarakat dan lembaga hukum formal menilai bahwa kejadian risiko medis yang terjadi di bawah tanggung jawab kami, tanpa mempertimbangkan bahwa kami sudah menjalankan prosedur medis, merupakan sesuatu yang melanggar hukum.. seakan-akan hak kemanusiaan kami telah dirampas.

Hei, dokter bukanlah Tuhan, yang menentukan hidup atau mati seseorang. Dokter bukanlah Tuhan, yang bisa demikian hebatnya memastikan 100% kesembuhan seorang pasien. Dokter adalah manusia yang berusaha memberikan upaya medis yang terbaik sesuai keilmuannya. Perkara hasil, kami menyerahkannya pada Allah. Saya punya rekomendasi buku yang bisa teman-teman baca untuk memahami hal ini, judulnya Playing “God” oleh Prof. Rull Roesli. Bacalah.

Ketiga.

Bayangan saya dan beberapa teman tersebut kemudian berlanjut pada sesuatu yang kita kenal sebagai “defensive medicine”.

Apakah itu?

Webster’s New World Medical Dictionary memberikan definisi begini:

Defensive medicine: Medical practices designed to avert the future possibility of malpractice suits. In defensive medicine, responses are undertaken primarily to avoid liability rather than to benefit the patient. Doctors may order tests, procedures, or visits, or avoid high-risk patients or procedures primarily (but not necessarily solely) to reduce their exposure to malpractice liability. Defensive medicine is one of the least desirable effects of the rise in medical litigation. Defensive medicine increases the cost of health care and may expose patients to unnecessary risks.

Sebuah tulisan mengenai “defensive medicine” ini juga bisa dibaca di http://www.aaos.org/news/bulletin/janfeb07/clinical2.asp

Dalam kasus di Indonesia, secara sederhana, “defensive medicine” dapat lahir apabila kami tidak mendapatkan perlindungan atau jaminan hukum untuk melaksanakan praktik kedokteran sesuai prosedur dan keilmuan kami. Tidak adanya perlindungan ini dapat dilihat dari tuntutan kesempurnaan yang ada di luar kekuasaan kami terkait hidup atau matinya seseorang, sebagaimana yang saya tuliskan di poin kedua.

Bila akhirnya hukum tidak melindungi aktualisasi suatu profesi, saya membayangkan bahwa setiap individu dalam profesi tersebut akan berusaha melindungi dirinya masing-masing. Sayangnya, tindakan perlindungan diri ini akhirnya menghalangi implementasi peran dokter yang optimal. Hal ini telah banyak terjadi di negara luar. Pada titik esktrim, dalam sebuah buku berjudul Doctors yang ditulis oleh Erich Segal (Erich Segal ini adalah seorang dokter. Saya menyarankan teman-teman untuk membaca buku tersebut bila ingin mengenali dunia kedokteran secara mendalam), saya menemukan salah satu contoh. Pada saat itu, Barney Livingston kecil, sang tokoh utama,  menemukan ayahnya yang sedang sakit, tidak sadarkan diri di kebun rumah mereka. Barney kecil berlari untuk menjemput seorang dokter di dekat rumah mereka. Sayangnya, dokter tersebut menolak untuk memberikan pertolongan segera pada ayah Barney, sehingga ayah Barney tidak dapat melalui masa kritis tersebut. Padahal, pertolongan segera berupa resusitasi jantung paru (yang tentu telah dikuasai oleh sang dokter) dapat membantu ayah Barney untuk mempertahankan suplai oksigen ke otaknya, sehingga beliau bisa bertahan lebih lama sebelum tiba di rumah sakit.

Pada titik yang lebih sederhana (contoh dokter dan ayah Barney tadi memang contoh yang ekstrim menurut saya), kejadian yang dapat terjadi adalah “defensive medicine” tadi. Sepanjang kami belajar di fakultas kedokteran, dosen-dosen kami selalu mengajarkan bahwa dalam memberikan suatu pendekatan diagnosis ataupun tindakan penatalaksanaan, kami harus mempertimbangkan cost-effectiveness. Apabila satu atau dua pemeriksaan saja dinilai sudah cukup untuk mendiagnosis penyakit seorang pasien, kita tidak perlu memberatkan pasien dengan meminta pemeriksaan lain yang tidak diperlukan. Tidak demikian dengan “defensive medicine”. Praktik “defensive medicine” mendorong dokter untuk melakukan pemeriksaan atau tindakan yang tidak diperlukan, sehingga meningkatkan pembiayaan serta waktu yang diperlukan. Perihal waktu ini tentu sangat berbahaya apabila kasus yang dihadapi adalah kasus gawat darurat yang memerlukan penanganan segera.

Keempat.

Khusus mengenai aksi solidaritas “Tolak Kriminalisasi Dokter” yang dilaksanakan pada 27 November 2013 lalu, saya ingin memberikan beberapa perspektif terkait aksi ini. Tulisan-tulisan yang saya kutip bersumber dari teman, kakak kelas dan guru-guru terdekat saya. Semoga bisa memberikan pencerahan.

a. Aksi ini adalah cara dokter bersuara, ujar kakak kelas saya yang seorang psikolog, Mbak Ajeng 🙂
Coba pahami dari sisi dokter. Mereka butuh keadilan. Masyarakat juga harus cerdas sebagai pasien bagaimana prosedur tindakan medis sehingga bisa membedakan dan memahami apa itu malpraktik. Bijaknya jika hendak beropini pahami juga apa isunya.
Aksi, demo, itu bagian dari pencerdasan masyarakat. Seandainya tidak aksi besar-besaran dokter seperti hari ini, berapa orang yang tahu dan paham kasus kriminalisasi dokter? Jangan selalu memandang aksi sebagai sesuatu yang buruk. Sadarkah bahwa terdapat banyak aksi yang akhirnya membuka mata masyarakat Indonesia atas isu yang ada? Meskipun nyatanya memang tidak seluruhnya lantas jadi tahu isu yang ada. Toh tidak seluruh dokter juga tidak melalaikan tugasnya meskipun aksi. Masih ada dokter jaga yang stand by untuk tindakan medis. Beberapa dokter yang saya kenal juga masih melakukan visit untuk memantau kondisi pasiennya. Coba lihat dari sisi lain. Dokter itu merupakan salah satu pekerjaan yang sangat mulia. Selama ini kita sebagai pasien banyak menuntut pada mereka. Jangan lupa, mereka juga punya hak untuk beropini, untuk beraksi.
b. Aksi yang disebut “mogok” ini bukanlah “mogok” yang dipersepsikan banyak orang
Ada beberapa hal yg perlu diluruskan, besok bukanlah aksi ‘MOGOK’ nasional dokter. Kata mogok diartikan menghentikan pekerjaan.  Sementara besok dokter2 masih tetap melayani pasien2 gawat darurat. Jadi tidak terlepas dari tanggung jawabnya mengutamakan keselamatan. Jadi kurang tepat klo ada DP BBM yg bertuliskan “Gerakan Satu Hari Tanpa Dokter”. Sy sepakat untuk menolak kriminalisasi dokter, namun tidak dengan gerakan satu hari tanpa dokter. Terminologinya kurang tepat. Untuk dokter yg esok lepas pelayanan, semoga waktunya khusyuk digunakan untuk tafakur dan berdoa sbgai bentuk solidaritas. Diisi manfaat. Untuk dokter yg melakukan pelayanan esok, lakukan dengan ikhlas. Jadikan itu sebagai panggilan nurani untuk kemanusiaan. (sumber: twitter Kang Dani Ferdian)
Standar “mogok” dokter Indonesia:
– IGD tetep buka.itu berarti telpon2 konsul/panggilan2 gawat darurat tetap ada. Yg jaga pun tetep jaga
– ruang rawat inap tetap memberikan pelayanan. Berarti pasien tetep harus divisit
– kamar2 operasi emergency tetep buka
– kamar bersalin apalagi
– layanan untuk org tak mampu pun dihimbau tetep buka. Makanya,banyak jg RS yg meskipun tetap mengadakan aksi solidaritas “tolak kriminalisasi dokter”,pelayanan polinya tetep buka. RSHS dan RS jejaring saya misalnya. (sumber: FB Teh Tazkia Fatimah)
Oh ya , untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengutip (lagi) tulisan dari Teh Tazkia Fatimah,
Dokter bisa merasakan jadi pasien/keluarga pasien, tapi pasien nggak akan pernah bisa merasakan jadi dokter. Mungkin inilah kenapa dokter yg lebih sering dituntut untuk mengerti. Karena kita bisa membayangkan rasanya jd pasien/keluarganya, tapi pasien nggak akan pernah bisa membayangkan rasanya jadi dokter. Mengerti pihak yg sulit untuk mengerti kita, ini membutuhkan jiwa besar dan akal yg jernih. Mungkin itulah kenapa, di akhir sumpah dokter ada kalimat yg berbunyi “semoga Allah memberi saya kekuatan”. Karena jadi org yg berjiwa besar dan berakal jernih itu nggak mudah. Berbanggalah karena Allah telah memilih kita untuk memikul amanah ini.
—–
Teman-teman bisa membaca tulisan-tulisan lain terkait dunia kedokteran, tapi pastikan tulisan-tulisan tersebut memang dapat dipertanggungjawabkan 🙂
Saat ini, di era komunikasi tak terbatas (ada sosial media yang memberikan kebebasan bagi setiap orang untuk mengabarkan atau beropini tentang sesuatu), kita harus berhati-hati dalam memilah dan memilih makna.
—–
Atas setiap peristiwa yang terjadi, semoga Allah melembutkan hati kita dan menjernihkan akal kita untuk mengambil pelajaran.
Semangat selalu para pejuang hukum, agar bisa melahirkan keputusan yang adil bagi rakyat Indonesia.
Semangat selalu para mahasiswa kedokteran, dokter dan seluruh pejuang kesehatan di Indonesia. Kita upayakan mimpi bersama: Indonesia sehat bagi semua 🙂
Semangat selalu Indonesia-ku. Ayo kita mendewasa dan memperjuangkan yang terbaik di setiap peran yang kita bisa.
Wallahu a’lam bish shawab.
Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: