Teh, Kuliah Itu Enak, Ya?


“Teh, kuliah enak, ya?”

Pertanyaan itu hingga kini masih melekat di benakku. Pelontarnya adalah seorang perempuan muda yang usianya kutaksir hampir sama dengan usiaku. Mungkin dua puluh tahun atau lebih.

Saat itu.

Selasa siang, sekembali dari kuliah umum, aku memutuskan untuk tidak langsung kembali ke indekos. Pikiranku sedang semrawut. Skripsi yang deadline-nya menari-nari, materi kuliah yang harus kukejar membacanya karena cukup terabaikan dengan keberadaan tugas akhir, tugas-tugas organisasi yang juga menuntut perhatian, serta beberapa masalah lainnya. Iya, masalah itu memang bisa mendewasakan. Tapi kali itu, aku sedang mencapai titik jenuh. Maka, sisi impulsif dari diriku mendorongku untuk berjalan dan mampir ke tempat-tempat yang tidak biasa kukunjungi. Setidaknya, bukan lingkungan kampus atau indekos. Oh iya, manset (baca: kaos tangan) koleksiku sudah kompak menghilang dari lemari. Terbawa (dan mungkin diakui, hehe) oleh teman-teman yang lain. Jadi, aku menyusuri jalan menuju sebuah toko yang menjual jilbab dan aksesoris muslimah lainnya. Aku melepaskan sepatu, kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan kecil nan sejuk. Ada tiga orang muslimah yang sedang melakukan aktivitas berbeda di dalam ruangan tersebut. Salah satunya, perempuan muda tadi, menemaniku memilih jilbab dan manset untuk kubeli.

Lalu, keluarlah pertanyaan itu,

“Teh, kuliah enak, ya?”

Aku menoleh. Wajahnya tersenyum ringan. Ada sedikit mendung yang tersaput di matanya, hanya sedikit.

“Eh, iya, Alhamdulillah,” jawabku dengan nada lembut. Ah, sepersekian detik sebelumnya aku benar-benar kebingungan harus menjawab apa.

“Saya nggak bisa kuliah, Teh. Tapi, karena sering bertemu mahasiswa, saya ikut merasa jadi anak Unpad. Hehe.”

Aku meleleh. Ya Allah, dengan segala keluhan yang aku lontarkan, apakah aku sudah kufur nikmat?

“Kan bisa belajar di tempat lain juga, Teh,” ujarku.

“Iya, makanya saya di sini, Teh.”

Sambil berusaha ceria, aku melanjutkan pembicaraan mengenai hal-hal lain. Perempuan muda itu bisa menjadi teman yang menyenangkan.

Aku teringat wajah khadimat di rumahku, kami memanggilnya Teteh. Saat Teteh pertama kali datang, aku masih SD dan adikku masih TK. Beliau bekerja di rumah kami hingga saat ini. Seorang perempuan muda yang jujur dan senang mengasuh anak-anak. Alhamdulillah, Teteh pandai membaca dan menulis. Jadi, meskipun memilih untuk tidak melanjutkan sekolah tinggi, Teteh sering ikut membaca koleksi buku dan koran kami di rumah.

Mengingat kedua perempuan tadi, aku tersungkur dalam syukur sekaligus malu. Memang, kesempatan untuk mengenyam pendidikan ini merupakan nikmat yang sangat luar biasa. Sayangnya, kita sering lupa karena tenggelam dalam permasalahan pribadi, yang sebenarnya bisa menjadi sarana pendewasaan. Saat ini, tidak semua orang mampu mengenyam pendidikan formal dengan baik, terlebih hingga tingkat universitas.

Aku teringat cita-cita yang pernah kutuliskan saat SMA. Sejak kecil, aku menyaksikan Nenek dan Ummi yang tidak ragu mengulurkan bantuan pada orang-orang sekitar yang membutuhkan, terlebih dalam hal pendidikan. Almarhumah Nenek turut mengasuh dan menyekolahkan beberapa sanak saudara yang memang memiliki keinginan yang kuat untuk melanjutkan pendidikan. Ummi juga sering bercerita mengenai anak-anak asuh yang Ummi bantu biaya SPP-nya setiap bulan. Aku juga ingin begitu. Aku ingin membantu mereka yang membutuhkan dan memiliki kesungguhan untuk menikmati pendidikan.

Meski saat itu aku tak sempat menjawab dengan baik, aku ingin berkata pada teman baruku itu,

“Iya Teh, kuliah itu enak. Nanti Teteh atau adik Teteh ikut juga, ya?”

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: