Ikan yang Menggelepar


“Bu, aku seperti ikan yang menggelepar.. Targetan harianku tidak tercapai, lantas aku merasa malu dengan mereka yang target ibadah hariannya lebih banyak. Aku merasa sedih dengan hilangnya kesempatan untuk menghadiri majlis ilmu.. Aku menggelepar karena rindu dan haus..”

Gadis itu menunduk di tengah lingkaran mereka. Bercerita tentang dirinya yang mulai banyak berubah. Pada yang lebih baikkah? Tampaknya tidak. Tuntutan kewajiban yang satu per satu semakin memberat membuatnya tidak sebebas dulu.

Bebas datang ke majlis-majlis ilmu, di manapun tempatnya. Bebas membaca buku tentang wawasan apapun yang ia ingin tahu. Bebas mengalokasikan waktu dengan hati yang ringan karena tidak diburu.

Gadis itu menolehkan wajah. Wanita di dekatnya tengah tersenyum, kemudian berkisah,

“Ketahuilah, semakin dewasa seseorang, tanggung jawabnya memang akan semakin berat. Itu sunnatullah.”

Gadis itu menarik napas.

“Kita melalui kurva kehidupan, berangkat dari sesuatu yang ideal sampai ke titik seakan-akan menjadi ikan yang menggelepar-gelepar. Kalau kita review dari kriteria orang-orang beriman, Allah selalu memberikan satu kondisi yang menjadi fase pembentukan karakter. Pada fase ini diharapkan keimanan menancap kuat ke dasarnya. Seperti pohon, akarnya menancap kuat. Kalau fase ini bermasalah, pohon nantinya akan tumbang. Pertanyaannya, pohon jenis apa yang sedang kita tanam?”

Gadis itu membayangkan dirinya sebagai pohon. Jangan-jangan dia ini pohon toge >_< Akarnya kecil, batangnya lunglai ke sana kemari. Tidak, tidak, minimal, dia ingin menjadi pohon mangga. Seperti pohon di depan rumahnya, kokoh dan menghasilkan buah yang manis.

“Kita diberi oleh Allah sifat-sifat dasar. Misalnya, kalau di Al Qur’an disebutkan bahwa manusia itu suka mengeluh. Tapi kita juga diberi tahu batasan hal-hal yang harus dikalahkan. Kita belum dikatakan mencapai derajat keimanan sebelum kita mampu menyesuaikan kemanusiawian kita dengan standar-standar yang Allah tetapkan. Misalnya, kita lebih suka ngobrol daripada tilawah, kita lebih suka nonton daripada sholat tepat waktu, tapi kita memang harus berjuang supaya standar-standar kebaikan itu tercapai.”

Menyesuaikan kemanusiawian dengan standar yang Allah tetapkan? Gadis itu mengangguk. Ia ingin seperti itu.

“Manusia sering dikatakan zhalim, karena seringkali ia tidak bisa memilih yang baik bahkan untuk dirinya sendiri. Misalnya, kalau kita keluar rumah dalam keadaan lapar, kita tidak bisa menahan godaan untuk mengkonsumsi makanan-makanan yang tampaknya enak di mata. Padahal bisa jadi makanan-makanan itu kurang bersih, atau kandungan gizinya tidak lebih baik daripada makanan di rumah. Iya, nggak?”

Gadis itu meleletkan lidah. Ia sering begitu, Bu.

“Selemah-lemahnya iman kita. jangan sampai kita biarkan iman kita lapar. Setiap orang punya tips dan trik sendiri untuk mengatasi kelaparan iman, coba tanya ke diri sendiri.”

Gadis itu melempar pertanyaan tadi pada dirinya sendiri. Apa, ya? Amalan khusus yang bisa dipenuhi untuk mencegah kelaparan iman. Qiyamul lailnya, tilawahnya, hafalan Al Qur’an-nya, mungkin? Bagaimana dengan puasa? Atau infaq, shadaqah? Ah, dia akan mencari dengan lebih sungguh-sungguh.

“Nah, kalau dari cerita ikan yang menggelepar tadi, kita bisa renungi.. Kita diberikan masalah supaya kita PBL (problem based learning). Berbahagialah bila kita diberi masalah, supaya kita terus belajar. Kita juga harus tahu dari mana kita memperoleh jawaban atas masalah-masalah itu. Bagi seorang muslim dan muslimah, ada Al Qur’an dan Hadits. Iya, kan?”

Wanita itu menepuk pundak sang gadis.

“Hidup ini adalah pilihan. Surga atau neraka ujungnya. Sederhana.”

Gadis itu, dalam hatinya, berseru heboh, aku mau Allah ridha, aku mau Allah ridha..

“Jadi, pahami bahwa diri kita akan memasuki siklus kelaparan iman, yang harus kita punya adalah daya tahan keimanan. Agar ujian-ujian keimanan yang Allah berikan, bisa dilalui dengan bekal terbaik. Kalau kita baca di surat Al Ashr, Allah menyebutkan tiga hal utama: beriman, beramal shalih, juga saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Sederhana, kan?”

Sebelum menutup kisah hari itu, wanita di samping sang gadis berujar,

“Allah mencintai amal-amal shalih, yang meskipun sedikit, kita lakukan dengan kontinyu. Amal-amal itu juga yang kelak menjadi daya tahan iman.”

Gadis itu tersenyum. Ikan yang menggelepar tidak perlu khawatir, selama ruh masih di dalam badan, ia masih punya kesempatan untuk kembali menekuni airnya :’)

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: