Episode Surabaya


1231404_3415241995874_883751457_n

Seperti tamparan, seperti hentakan, seperti lecutan. Seperti kabar dan rasa takut, “Cukup baikkah aku u/menjadi dokter?”

Kl ikut kompetisi, kata slh 1 kk kls, bs jd cara kamu tahu, “Sejauh mana kamu sdh pergi?” Menguji diri sndr.

Sdh 3 thn lbh jd mhssw kedokteran, tp msh bnyk yg ga dipahami. Ada sedih, ada kecewa sama diri sndr. Tp dgn itu lahir lifelong learning..

Gak tahu skrg, ya cari tahu. Kl kata Prof Tri, yg bahaya itu, adlh saat seseorang gak pny lg kemauan u/belajar.

Sepanjang kamu pny kesadaran u/memperbaiki diri, kamu pny kesempatan u/jd lbh baik. Sederhana.

Ya.. Saat ngeh, ternyata aku blm pergi terlalu jauh, aku bs nyiapin bekal lbh sungguh2. Kompetisi sesungguhnya itu di dunia nyata 🙂

Kl kata dr. Alwin, yg menilai seorang dokter nantinya bkn dosen, bkn soal ujian. Tp pasien2 yg dijumpai langsung di lapangan.

Hsl kompetisi menunjukkan kondisi yg skrg. Realnya, aku blm terlalu baik. Msh bnyk ketinggalan. Itu skrg. Nanti2 nggak mau gitu.

Kamu bs aja kalah, tp ga boleh pny mental pengecut. Setiap orang hrs menang dlm kehidupannya sndr.

Tulisan melankolis di atas memang saya tulis dalam salah satu momen melankolis yang saya catat di benak.

Malam itu, saya menghadiri kegiatan closing ceremony dalam sebuah olimpiade. Saat video pengumuman pemenang tiba di bagian cabang lomba yang saya ikuti, saya menutup wajah untuk menutupi ekspresi apapun yang mungkin muncul.

Lima universitas disebut sebagai peserta final. Nama universitas saya tidak disebutkan.

Saya terdiam. Menahan gelombang kekecewaan yang tiba-tiba menyerbu. Saya kecewa pada diri sendiri. Astaghfirullah. Saya butuh berbicara pada orang lain, saya perlu menjernihkan pikiran, bahwa permasalahannya bukan menang atau kalah, tapi bagaimana mengambil hikmah dari keduanya.

Alih-alih mengajak berbicara teman yang duduk di dekat saya–yang sebagian besar juga sama-sama terdiam, saya mengerti, bahwa masing-masing kami perlu berbicara dengan diri sendiri. Saya perlu berbicara dengan diri sendiri.

Saya meraih telepon genggam dari dalam tas. Berhubung HP saya tidak bisa mengakses blog, saya menuangkan hasil diskusi dalam pikiran saya di twitter.

Saat itu, tidak seperti biasanya, saya memutuskan untuk tidak mengasingkan diri. Mata saya mulai panas, sebagai seorang manusia yang terlalu mudah menangis (Ummi menyebut saya lembut hati, saya menyebut diri saya cengeng), biasanya saya bersegera mencari tempat sepi seperti kamar mandi atau sudut ruangan untuk menenangkan diri. Menangis sekadar untuk pelepasan emosi. Tapi, saat saya duduk di ruangan tersebut, saya ingin sekali saja tidak menangis.

Saya ingin menerima kekalahan dengan berjiwa besar.

—–

Tidak adil rasanya bila saya hanya menceritakan bagian cerita yang sedih seperti pada paragraf di atas. Ada banyak hal yang saya alami di Surabaya. Setelah saya ingat-ingat kembali, saya juga punya kisah-kisah yang menyenangkan, mulai dari yang penting hingga yang tidak penting.

Begini ceritanya.

Saya merupakan salah seorang yang menjadi delegasi FK Unpad di IMO (Indonesian Medical Olympiad) 2013. Kami berjumlah 12 orang. Ada saya, Mala, Raisha, Sarah, Zahra, Astika, Dhiny, Ivan, Juan, Michael, Aang dan Charles. IMO merupakan suatu kompetisi yang diadakan ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia) bagi mahasiswa pre-klinik fakultas kedokteran di seluruh Indonesia. IMO tahun ini merupakan IMO yang kedua. Sebenarnya, beberapa tahun sebelumnya, ISMKI juga mengadakan olimpiade kedokteran, namun dengan kemasan dan konsep yang lebih sederhana. Konsep sederhana yang saya maksud adalah ujian tulis. Sementara dalam proses seleksi IMO, kami harus mengikuti berbagai jenis ujian sebagaimana ujian-ujian yang ada di fakultas kedokteran. Sebutlah ujian tulis berupa soal pilihan ganda, ujian laboratorium dalam menginterpretasi sediaan dari suatu kelainan organ atau spesimen lainnya, ujian keterampilan klinis dan ujian analisis lisan. Di FK Unpad, kami mengenalnya sebagai MDE, OSPE, OSCE dan SOOCA.

Lengkap.

IMO 2013 diadakan di kampus FK Universitas Airlangga, Surabaya. Baru kali ini saya pergi mengunjungi Surabaya, dengan kesan pertama yang terlintas: panas. Pun banyak pohon-pohon yang ditanam di sepanjang jalan (saya suka bagian ini, Surabaya yang hijau), cuaca selalu terasa terik dan menyengat. Terlebih saya sudah mulai terbiasa dengan Jatinangor dan Bandung yang cukup dingin, jadilah saya seperti es krim yang kapan saja siap meleleh dan menjadi liquid.

Pada IMO kali ini, berdasarkan catatan panitia, peserta yang hadir merupakan delegasi dari 51 fakultas kedokteran di seantero Indonesia. Di samping suasana kompetisi, kehadiran delegasi dari berbagai daerah membuka mata bahwa untuk mewujudkan kesehatan di Indonesia, kita selalu punya harapan. Mahasiswa-mahasiswa yang ada saat ini, insya’Allah akan menjadi dokter di masa depan.

Saya punya kebiasaan unik setiap kali berada di kegiatan nasional: menyimak berbagai rupa orang yang ada. Saya suka mendengarkan (dan dalam hati, diam-diam, meniru) logat bicara yang bervariasi. Indonesia bagian Barat, Tengah, Timur, semua ada. Kalau sudah begini, saya benar-benar menghayati bahwa Indonesia adalah bangsa yang kaya.

Bagian lain yang membuat IMO saya berkesan adalah kehadiran 11 delegasi lain yang hebat dan cukup error. Oke, saya memang sering error, tapi error bersama-sama rasanya lebih seru. Ada saja bahan obrolan yang bisa memancing tawa dari kawanan kami.  Suatu hari, sembari mengambil uang dari ATM, demi menghindari panas yang menyengat, kami masuk beramai-ramai ke dalam. Entah apa yang dipikirkan orang-orang yang melihat dari luar. Tapi memang adem sih, hehe.

Yap. Melakukan perjalanan bersama teman adalah hal berharga tersendiri.

—–

Dua kali saya mengikuti IMO, dua kali itu juga saya tidak berhasil membawa medali untuk universitas saya. Itulah mengapa saya sangat terpukul saat mendengar pengumuman malam itu. Padahal ini kesempatan terakhir saya. Tahun depan, insya’Allah, saya akan memasuki masa profesi di RSHS.

Tapi saya sadar, pencapaian sebuah mimpi bisa dilanjutkan generasi selanjutnya. Bisa tahun depan, bisa tahun depannya lagi, salah satu tim delegasi mampu meraih gelar juara, bahkan siapa tahu, FK Unpad juga memperoleh predikat juara umum.

Gelar atau predikat itu bukan persoalan intinya.

Bagaimana kita terus memperbaiki diri, itu yang saya tangkap dari keberadaan IMO. Setiap orang, bahkan setiap universitas, berpacu untuk belajar menjadi lebih baik lagi.

To do the best.

Apapun itu, saya bersyukur telah Allah beri kesempatan untuk menghadiri IMO pertama dan kedua sebagai perwakilan fakultas tempat saya menjalani kehidupan tiga tahun ini.

FK Unpad yang membesarkan dan mengantarkan saya untuk menjadi seseorang yang bermanfaat di tengah masyarakat, insya’Allah.

FK Unpad UNITE!

539020_3415224475436_1675057664_n

539020_3415224595439_979505941_n

p.s. : Kembali ke kehidupan nyata, saya kembali deg-degan dengan skripsi dan koas. Huaaa, do’akan saya :”

Advertisements
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: