Mencegah itu (memang) lebih baik dari mengobati


Dimarahi oleh dua orang terdekat–ibu dan adik–karena kebiasaan makan yang kacau itu bukan hal yang menyenangkan. Membuat mereka khawatir bukan suatu pilihan yang dengan senang hati aku ambil, tapi apa daya.

Sebenarnya, aku tidak bandel-bandel banget kok. Aku tetap makan pagi, makan siang dan makan malam sesuai kebutuhan. Tapi terakhir kemarin, aku hanya telat makan selama 1 jam 30 menit. Kalau orang normal masih bisa menunda makan dengan jeda beberapa jam tanpa sakit, aku–dan para manusia dengan lambung yang tidak terlalu bisa diajak bekerja sama–tidak mampu mentoleransi penundaan itu. Bukan manja. Ini efek fisiologis yang telah terganggu, fungsi normalnya sudah tidak bekerja dengan ideal.

Apalagi saat terbaring dengan sakit kepala, sakit perut atau berbagai gejala yang tidak mengenakkan, sementara tugas-tugas menuntut untuk dikerjakan, rasanya ingin membeli kesehatan berapapun harganya. Iya banget, nikmat sehat itu adalah sesuatu yang sering lupa disyukuri. Rasa syukur harusnya juga diwujudkan dengan menjaga nikmat itu. (bahkan saat sedang ambruk-ambruknya, terbangun lagi di pagi hari dalam keadaan lebih sehat itu seperti hadiah yang tak ternilai lagi harganya.. Alhamdulillah).

Tapi ya kekacauan berupa penyakit yang berhubungan dengan pola hidup, memang harus dihadapi dengan kedisiplinan sih. Kalau mau sehat, ya, ubah kebiasaan. Kalau sudah tahu ada fungsi yang terganggu, harus lebih hati-hati menjaganya supaya tidak menjadi lebih parah.

Bukan malah sedih kontrapdroduktif, pasrah dan dengan bodoh nggak tahu cara menanganinya. Dibiarin aja tanpa mau ngubah diri.

*marahin diri sendiri*

Misal, aku dan gastritis (dan sesekali GERD), ya berarti harus lebih sungguh-sungguh jaga pola dan jam makan, juga tingkat stres. Atau kalau ada yang punya diabetes, harus juga lebih tegas jaga pola hidup. Atau penyakit-penyakit lainnya, ya harus dikontrol lewat kebiasaan hidup kita juga.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Meskipun kalau sudah sakit, ya kita juga perlu minum obat sebagai syari’at (jalan) memperoleh kesembuhan. Bahkan kalau memang harus banget minum obat, itu juga untuk mencegah bentuk-bentuk pengobatan lain yang lebih berat.

Istilahnya, di ilmu kesehatan, prevensi itu ada 3:

1. Prevensi (pencegahan) primer. Dilakukan orang yang sehat supaya tidak sakit.

2. Prevensi sekunder. Dilakukan orang yang mulai sakit supaya penyakitnya tidak bertambah parah.

3. Prevensi tersier. Dilakukan oleh penderita penyakit pada tahapan lanjutan supaya tidak menyebabkan kecacatan yang berat.

Nah, kan, sudah tahu ilmunya, kalau masih nggak peduli, kacau tingkat tinggi.. Ayo ah, disiplin. Tubuh kan juga amanah, lho 🙂

Semangat menjaganya supaya bisa melaksanakan tugas-tugas positif lainnya.

p.s. : tulisan ini dibuat untuk memarahi diri sendiri. Ayo disiplin!

Advertisements
Leave a comment

1 Comment

  1. Komprehensif | Catatan Pengembara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: