Mereka yang Bercerita Tentang Cahaya


lightSumber gambar: http://img1.eramuslim.com/fckfiles/image/light.jpg

Kita memang perlu bercermin pada orang lain tentang sebuah makna. Kadang, kita menjadi lupa bahwa kita sedang berada di bawah cahaya, hingga diri lupa bersyukur dan berangan untuk pergi.

Padahal, orang-orang di luar sana menempuh pencarian yang panjang untuk tiba di tempat kita berada sekarang. Cahaya itu, cahaya Islam. Lupa itu, lupa yang sering menjerumuskan kita untuk menjauh dari cahaya nan indah.

Menyimak kisah-kisah para pencari dengan berbagai macam masa lalu mereka untuk menemukan Islam di sebuah stasiun televisi siang ini. Mencatat raut wajah dan kalimat yang mereka ucapkan,

“Saya ingin berubah, tapi saya tidak tahu harus mulai dari mana. Maka saya berdo’a pada-Nya, ‘Ya Allah, tunjuki saya’.”

“Dulu saya pergi ke diskotik yang satu ke diskotik yang lain setiap malam, mencari kesenangan, tanpa berpikir bagaimana saya saat semakin tua.”

Bagaimana usia itu harus diisi dengan sesuatu yang berharga..

“Terbayang bagaimana kalau seorang anak melihat ayahnya baru mulai sholat pada usia 40 tahun? Saat saya ajak mereka, jawabannya, ‘Nanti saja Yah sholatnya, kalau saya sudah berumur 40 tahun seperti ayah’. Saya menelepon guru saya, lalu, tahulah saya.. Masih ada yang salah. Saya masih pilih-pilih dalam melaksanakan sholat tahajud. Kadang dua, kadang tidak, kadang sebelas (delapan tahajud tambah tiga witir).. Padahal tahajud itu yang membuat hati kita bisa menyentuh hati yang lain. Maka, saya coba konsistenkan diri saya. Dulu, ayah saya berkata pada saya, ‘Kalau mereka punya ayah kayak kamu, anak-anak akan tumbuh menjadi anak-anak yang berantakan’. Estimasi ayah saya salah. Beberapa bulan kemudian, anak-anak ikut saya sholat Jum’at. Setelah itu, mereka mulai konsisten juga melaksanakan sholat. Estimasi ayah saya salah. Setiap orang bisa berubah menjadi lebih baik.” (re: ditulis dengan redaksi berbeda)

“Setiap orang punya masa lalu. Kalau mau dibilang bandit, masa lalu seorang Umar bin Khaththab kurang parah apa.. Bahkan Umar pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Kalau mau dibilang mantan narapidana, Nabi Yusuf juga pernah dipenjara. Bukan masa lalu itu yang penting. Saat Umar mengucapkan syahadat, ia berubah menjadi salah seorang pembela Islam.”

Saat seseorang memeluk cahaya, cahaya itu membimbingnya menuju kebaikan nan mulia..

Kadang, kita menjadi lupa bahwa kita sedang berada di bawah cahaya, hingga diri lupa bersyukur dan berangan untuk pergi. Padahal, orang-orang di luar sana menempuh pencarian yang panjang untuk tiba di tempat kita berada sekarang. Maka, mendengarkan kisah-kisah pencarian mereka, membuatmu sadar.. Cahaya itu terlalu berharga untuk kita abaikan, apalagi untuk digantikan oleh hal-hal lain yang hanya tampak indah di mata. Menggoda secara logika atau rasa, namun menyengsarakan hati kita.

Bahkan, tatkala para pencari itu tiba di bawah cahaya, mereka tidak memeluknya untuk diri sendiri. Mereka membagikannya dengan semangat tanpa batas pada orang lain.

Bukankah sebuah hal yang manusiawi, saat kita menyukai sesuatu, kita akan mempromosikannya dengan gencar pada orang-orang yang kita sayangi?

Apalagi cahaya itu, cahaya Islam, yang dengannya kita meniti jalan keselamatan dunia dan akhirat. Kebahagiaan dunia, lengkap dengan akhirat. Siapa yang akan menolak jika mereka sudah mengerti?

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: