KKNM – Pelajaran Pertama: “Kita Butuh Teman”


KKNM. Empat huruf yang mulanya membuat saya enggan kembali ke Jatinangor. Bayangan menjalani liburan dan Ramadhan di tempat yang asing, tanpa keluarga, jelas bukan pilihan yang menarik saat ini. Liburan adalah sesuatu yang langka dan berharga bagi kami, mahasiswa kedokteran tingkat akhir. Tahun depan kami akan memasuki fase profesi di rumah sakit. Katakanlah, kami akan segera ‘kehilangan masa muda’ kami—ungkapan yang dilontarkan teman saya di salah satu media sosial.

Satu hari sebelum keberangkatan, dengan setengah hati, saya menatap koper dan setiap perlengkapan yang tergeletak di lantai. Oh, jadi saya harus beres-beres, ya? Alih-alih membereskan barang, saya menghampiri teman-teman senasib dan menyaksikan mereka mengepak barang. Mencari inspirasi. Saya benar-benar tidak mau berangkat. Kalimat menyebalkan itu menghampiri otak saya. Tapi kamu harus berangkat. Kamu bisa banyak belajar di sana. Kamu harus melompati zona nyaman kamu, Nona. Keluar, jalani dengan riang gembira. Ah ya, perang batin.

Ketika hari menjelang sore, akhirnya saya menyentuh barang-barang yang ada. Satu koper merah besar. Satu tas jinjing berisi blender (yang akhirnya rusak) dan peralatan makan. Satu tas hitam berisi buku-buku demi mengisi waktu jeda di sana. Oke, saya memang harus berangkat.

Keesokan harinya, saya berangkat bersama beberapa teman dari indekos. Bus 33. Mata saya mencari-cari tulisan nomor bus yang akan mengantarkan saya ke tempat KKNM. Oh ya, perkenalkan. Desa saya nanti bernama Sukaratu, terletak di Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya. Tebak apa, ternyata desa ini ada di dekat Gunung Galunggung. Saya suka gunung, tapi gunung ini gunung berapi, Tuan dan Nona. Gunung yang masih tergolong aktif.

Deg.

Aduh, kok sudah cerita sampai sana, ya? Tunggu, tunggu. Jadi, saya dan Mala, teman saya dari fakultas yang sama, tiba paling awal di dekat bus. Fix. Belum ada wajah-wajah yang saya kenal di sekitar kami. Ya ampun, rajin sekali saya. Beberapa saat sesudahnya, beberapa teman laki-laki se-desa datang. Saya mengamati wajah mereka satu per satu. Masih asing.. Kok wajahnya serius-serius. Kok, kok, kok.. Lho, jadi kami akan ber.. teman?

Saya membujuk diri saya untuk tetap santai. Asyik kan kenalan sama orang baru? Saya dan Mala memutuskan untuk berjalan menuju lapangan untuk upacara pembukaan. Wah, ramai sekali. Tampaknya ini adalah upacara paling tidak upacara. Maksud saya, di barisan saya bahkan saya tidak bisa mendengar ucapan orang-orang yang berada di depan. Ya.. para manusia yang akan berangkat KKN sedang sibuk bertukar kata dengan bunyi bak dengung lebah. Hanya beberapa kali salam yang saya dengar, itupun karena Shidiq, yang sibuk menyimak dengan serius di barisan sebelah saya, berbisik cukup keras untuk menjawab salam.

Lantas, kami berjalan menuju bus semula. Tim kami sudah lengkap. Baiklah Nona, mari tersenyum dan sapa mereka. Alih-alih tersenyum, saya nyengir konyol sambil mengenalkan diri. Halo, kita akan menjadi teman selama satu bulan. Satu bulan. Tiga puluh hari? Ya, begitulah.

Kami menempuh perjalanan cukup panjang menuju Sukaratu. Saya dan Mala duduk di bagian belakang bus. Beberapa teman laki-laki yang duduk di bagian paling belakang, membuat kehebohan sepanjang perjalanan. Abdi sang manusia heboh dan beberapa teman laki-laki (hehe, waktu itu saya belum hapal nama kalian, boy). Kang Akbar yang bolak-balik ke bagian belakang bus untuk merekam aksi Abdi dan geng boy-band kami. Wow. Sepertinya tiga puluh hari ke depan akan penuh warna.

Setiba di Tasik, kami sempat berpindah bus karena bus yang mulanya kami tumpangi terlalu besar untuk memasuki jalan menuju desa. Saya berusaha menyeret barang-barang saya yang tergolong besar dan banyak sendirian (kebiasaan detail dalam segala sesuatu, hiks). Pada akhirnya, saya meminta tolong kepada teman laki-laki se-desa sambil berujar, “Maaf ya, berat..” Habisnya, memang berat.. >_<

Singkat cerita, kami tiba di.. rumah. Haha. Yap. Ada dua rumah yang menanti kami. Rumah bertingkat dua untuk geng laki-laki dan rumah salah seorang warga untuk geng perempuan. Welcome to the jungle. Wait, welcome to the village! Selamat datang 🙂

Sepanjang hari pertama, saya menghabiskan waktu untuk mengistirahatkan otot dan sendi yang terasa remuk sehabis perjalanan. Eh, saya juga beres-beres, sih. Selain itu, saya mencoba mengenali wajah teman-teman yang akan bersama selama satu bulan ke depan. Sebagian besar belum saya ketahui nama panggilannya. Apa daya, saya memang butuh waktu lebih untuk menghapalkan identitas seseorang..

Alhamdulillah pada hari kedua, sesi perkenalan membuat wajah beserta nama menjadi akrab di benak saya. Elan (“Bapak Kordes kami semua”), Bani (“Bapak Koor Rumah Tangga yang rajin”) dan Mala (apa ya Maal? Partner in crime saya) dari fakultas dan angkatan yang sama dengan saya. Dea (“Ibu Humas yang tegas tapi baiik banget”) dan Anya (“Chef kami tercinta yang jago nyanyi”) dari Fakultas Keperawatan. Muti (“Mamah”) dan Mochi (“Ibu Bendahara tersayang”) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Sherly (“teman main yang seru” dan Nikita (“suaranya baguus”) dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Egy (“super gaul 2013″) dan Kang Akbar (‘Kunang-kunang raksasa dan teman ngobrol yang seru”) dari Fakultas MIPA. Evan (“manusia heboh 2013”) dan Rio (“Pak Walikota”) dari FISIP. Abdi (“Spesialis Logistik yang di-fans-in anak-anak”) dari Fakultas Ilmu Budaya. Irwan (“waktumu sudah habis, waktumu sudah habis”) dan Novhi (“wolees”) dari Fakultas Peternakan. Kang Galih (“duar duar dan Teh Kotak”) dari Fakultas Ilmu Komunikasi. Owi (“pelantun lagu melankolis”) dan Rifky (“pendiam yang iseng”) dari Fakultas Teknik Geologi. Lalu, saya sendiri dari fakultas, you-know-what. Hehe.

Hal pertama yang saya syukuri: Allah mengirimkan teman-teman yang berusaha untuk saling mengompakkan diri. Tidak main ego 🙂 Saya tahu, ada banyak perbedaan di antara kami. Ada banyak friksi yang bisa saja terjadi bila tidak dikelola dengan hati-hati. Keinginan untuk menyolidkan diri satu sama lain membuat saya menyadari, “Ya, kamu telah berada di dunia orang dewasa.” Sebentar lagi, sebagian dari kami akan melepaskan diri dari dunia perkuliahan, memasuki kehidupan-orang-dewasa-yang-harus-dewasa. Kalau bahasa kakak kelas saya, “Mahasiswa itu manusia intelek. Kita harus berpikir dan menyelesaikan masalah dengan cara yang cerdas.” Cerdas. Dewasa. Saya banyak belajar dari teman-teman sedesa. Orang-orang dengan latar belakang berbeda dengan keinginan untuk saling bekerja sama.

Kalau membangun satu komunitas, kita nggak bisa sendirian, kan? Ini baru satu desa kecil dengan segala dinamikanya. Bagaimana dengan Indonesia?

Itulah mengapa, “Kita butuh teman.” Pelajaran pertama yang saya maknai dari teman-teman Sukaratu. Bukan hanya dalam kehidupan pribadi, tapi juga dalam upaya mengaplikasikan keilmuan. Kalau bahasa dosen-dosen saya, “Kerja sama multidisiplin.”

Kali ini, rasa enggan yang muncul saat mendengar empat huruf K-K-N-M berganti dengan rasa syukur. Tidak ada salahnya keluar dari zona nyaman untuk berbuat lebih bagi orang lain. Iya, kan?

p.s. : Geng Sukaratu, terima kasih telah menjadi teman-teman yang seru :”)

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: