Dukung POMP Filariasis: Langkah Kecil Untuk Perubahan Besar


Tulisan ini dibuat pada tanggal 3 November 2012. Mulanya ditulis untuk dikirimkan ke salah satu harian, namun masih dinilai belum layak muat :p Selain itu memutuskan untuk mem-post di sini setelah siang tadi mendapat pengarahan sosialisasi POMP Filariasis di Puskesmas Kecamatan Sukaratu. Semoga bermanfaat :’)

Oleh : Nur Afifah (mahasiswa tahun ketiga FK Unpad)

Adalah suatu kelaziman bahwa tidak ada orang yang menginginkan dirinya atau orang-orang terkasih jatuh sakit. Terlebih saat penyakit tersebut dapat menyebabkan kecacatan fisik yang menetap pada penderita. Akibat yang ditimbulkan berkisar dari munculnya stigma sosial, penurunan produktivitas hingga kebergantungan hidup penderita pada orang lain. Lebih jauh lagi, saat penderita merupakan seorang kepala keluarga, masalah ekonomi akan mendera keluarga yang berada di bawah tanggungannya.

Salah satu penyakit yang dapat menyebabkan kecacatan fisik menetap adalah filariasis atau penyakit kaki gajah. Filariasis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing filaria. Penyakit ini dapat ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk. Jika tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, filariasis dapat menyebabkan cacat menetap berupa perbesaran kaki, lengan dan alat kelamin. Kabar baiknya, pada tahap awal, infeksi ini masih bisa ditangani dengan obat, lain halnya dengan tahap kronis (menahun) di mana penyakit ini memerlukan penanganan lain seperti pembedahan dan perawatan kulit.

Perlu diketahui bahwa filariasis hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia, bahkan beberapa daerah dinyatakan memiliki tingkat endemisitas yang cukup tinggi. Provinsi Jawa Barat sendiri, berdasarkan laporan Ditjen PP & PL Depkes RI tahun 2009, menduduki peringkat keenam dalam jumlah kasus filariasis, dengan angka sebesar 474 kasus.

POMP (Program Minum Obat Massal Pencegahan) Filariasis

Sejak tahun 2002, Dinas Kesehatan Indonesia telah melangsungkan program pengobatan massal sebagai upaya eliminasi filariasis. Program yang dikenal sebagai POMP (Program Minum Obat Massal Pencegahan) Filariasis ini merupakan pengejawantahan kesepakatan global untuk memberantas tuntas filariasis hingga tahun 2020 yang diinisiasi WHO. POMP Filariasis dilangsungkan setiap tahun dalam rentang waktu 5 tahun. Di Kabupaten Bandung misalnya, POMP Filariasis yang dilangsungkan kembali mulai tanggal 15 Oktober lalu hingga 15 November mendatang, telah memasuki tahun keempat dari rentang 5 tahun.

Lebih jauh lagi, POMP Filariasis ditetapkan sebagai salah satu program prioritas pemberantasan penyakit menular. Sayangnya, persentase cakupan POMP Filariasis  di Indonesia masih jauh di bawah target yang ditetapkan WHO, yaitu baru berkisar antara 28%-59,48% pada tahun 2005-2009 dari target minimal 85%.

Salah satu penyebab ketidakikutsertaan masyarakat adalah adanya kejadian ikutan paskapengobatan. Kejadian ikutan merupakan reaksi tubuh terhadap hasil pengobatan, dalam hal ini berupa tubuh larva cacing filaria (mikrofilaria) yang mati. Kejadian ikutan ini dapat muncul pada hari pertama pengobatan akibat matinya mikrofilaria, misalnya, sakit kepala, pusing, demam, mual, muntah, penurunan nafsu makan, nyeri otot dan lemah. Jika ada cacing filaria dewasa yang mati, kejadian ikutan dapat muncul pada 1-3 minggu setelah pengobatan, misalnya pembesaran kelenjar limfe. Besarnya reaksi paskapengobatan ini berbanding lurus dengan muatan mikrofilaria dalam tubuh seseorang. Namun, kejadian tersebut akan berkurang dari tahun ke tahun karena berkurangnya jumlah mikrofilaria setelah pengobatan. Selain itu, perlu ditekankan bahwa kejadian ikutan yang tidak nyaman ini jauh lebih ringan dari efek penyakit filariasis. Berbeda dengan kejadian ikutan yang paling lama terjadi selama 3-5 hari, penyakit filariasis yang kronis dapat menyebabkan kecacatan dan penderitaan seumur hidup.

Masyarakat dan Sosialisasi POMP Filariasis

Sosialisasi program kepada seluruh masyarakat merupakan aspek yang sangat penting dalam POMP Filariasis. Pemahaman yang benar tentu dapat meningkatkan angka partisipasi masyarakat. Sejatinya, peran sosialisasi ini tidak terbatas pada petugas kesehatan dan para kader, tetapi juga melibatkan berbagai lapisan masyarakat lainnya. Terlebih bagi mereka yang dekat dengan keseharian masyarakat seperti pimpinan daerah, media massa, guru, tokoh masyarakat, atau mahasiswa.

Sosialisasi POMP Filariasis dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, setiap individu hanya perlu meluangkan sebagian waktu untuk menceritakan pentingnya partisipasi dalam meminum obat massal serta meluruskan pandangan masyarakat mengenai kejadian ikutan. Masih ada waktu untuk memberikan upaya edukasi dan persuasi agar POMP Filariasis dapat diikuti oleh seluruh masyarakat. Setiap langkah kecil kita dapat mengawali perubahan besar. Dari masyarakat, oleh masyarakat, untuk masyarakat.

Sumber :

  1. http://www.antarajawabarat.com/lihat/berita/40023/25-juta-warga-target-pemberian-obat-filariasis
  2. http://www.who.int/topics/filariasis/en/
  3. http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/409-menkes-canangkan-pengobatan-filariasis-di-jawa-barat.htm
  4. http://www.pikiran-rakyat.com/node/205948
  5. Filariasis di Indonesia, dalam Buletin Jendela Epidemiologi Volume 1, Juli 2010
Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: