Perjalanan: Fisik, Akal dan Hati


Saat saya menuliskan ini, saya sedang berada di sebuah travel menuju daerah rumah saya, Tangerang Selatan. Jalan tol sedang cukup padat dan, ya, agak merayap. Saya sedang tidak mengantuk atau berminat membaca buku elektronik yang berada di laptop saya. Jadi, saya memutuskan untuk.. bercerita.

Tidak terasa sudah beberapa kali saya menempuh perjalanan Jatinangor-Bandung-Tangerang Selatan dalam tiga tahun ini. Kadang bersama keluarga atau teman, tapi lebih banyak sendiri. Waktu sendiri ini memberikan diri saya kesempatan untuk merefleksikan apa yang sudah saya lalui. Ya, memang itu kan hebatnya sebuah perjalanan? Memberikan ruang perenungan bagi mereka yang sedang menempuhnya. Ada beberapa kalimat yang saya sukai dari sebuah buku yang dipinjamkan teman saya, Nadya, judulnya The Last Concubine.

Perjalanan sepertinya membuat batasan-batasan yang ada menjadi berkurang, walau hanya sementara. “Perjalanan adalah kehidupan manusia.”

Hal pertama yang terlintas saat membaca bagian tersebut adalah, “Oh ya, itulah mengapa, saat menempuh perjalanan jauh, seorang perempuan harus didampingi oleh mahromnya.” Hehe. Hal berikutnya, saya suka sekali dengan kalimat, “Perjalanan adalah kehidupan manusia.” Bagi saya kehidupan adalah sebuah perjalanan manusia, dan perjalanan adalah salah satu bagian penting dalam kehidupan itu.

Seperti itulah tiga tahun kehidupan saya di dunia perkuliahan: dipenuhi perjalanan. Perjalanan fisik, pikiran dan hati. Pada masa kuliah ini beberapa kali saya bepergian ke tempat baru bersama teman-teman, biasanya karena momen penelitian, seminar atau lomba :” Kadang saya tersenyum sendiri saat mengingat bahwa dulunya untuk pergi ke rumah teman di satu komplek pun saya tidak berani. Tidak kalah penting adalah perjalanan pikiran. Dunia pendidikan adalah tempat wawasan berkembang dengan rimbun. Iya, seperti pohon berakar tunggang dan berkambium yang menemukan setiap yang ia butuhkan untuk tumbuh. Saat saya membayangkan diri saya adalah pohon itu, saya memejamkan mata dan merasakan matahari pengetahuan menyentuh setiap bagian tubuh saya. Tetesan hujan kebijaksanaan yang diberikan oleh guru-guru saya menelusup hingga akar. Menyenangkan.

Lantas, apa yang saya maksud dengan perjalanan hati? Perjalanan hati adalah perjalanan terpenting dari seluruhnya. Setiap pengalaman fisik dan akal yang saya lalui tidak akan berarti tanpa pemaknaan hati saya. Sungguh, pemaknaan terbaik itu adalah saat hati berada dekat dengan Pencipta-nya. Tidak ada artinya bila setelah saya melakukan perjalanan fisik yang melelahkan, saya hanya mengeluh dan terkapar kesal di kamar asrama selepas kegiatan tersebut selesai. Tidak ada artinya saat saya memperoleh input wawasan baru dengan wadah keangkuhan dan pikiran negatif. Saya tidak akan bisa memprosesnya menjadi sesuatu yang bermanfaat. Jadi ya.. jangan rela hatimu mati dalam setiap perjalanan ini. Kamu tidak mau jadi orang yang merugi, kan?

Oh ya, enam bulan lagi saya akan memasuki fase profesi. Insya’Allah tempat belajar saya akan berpindah dari Jatinangor ke Bandung. Do’akan saya, ya.

Semoga Allah selalu membimbing kita untuk melalui setiap perjalanan kita dengan fisik, akal dan hati yang terbaik :”

Regards, Afifah.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: