Ketukan Pintu Pagi Ini


Ceritanya malam hari saya tidur sangat larut. Pagi hari kondisi kesadaran belum compos mentis, lantas gagal untuk langsung terjaga setelah sholat Shubuh.

Tok tok tok.

Pintu diketuk. Nama saya disebut.

Saya keluar sambil mata yang masih terpicing dan mood yang masih rendah mengikuti kesadaran.

Ibu kosan saya ternyata.

“Kenapa, Bu?”

Katanya bapak-bapak yang bekerja sebagai ahli perkakas (ameliorasi dari tukang) harus memeriksa bak kamar mandi saya dan memberikan semen di dasarnya, karena kamar di bawah saya menderita kebocoran air dari bak itu 😥

“Memang harus pagi ini, ya?”

Saya mengingat-ingat bahwa saya harus berangkat jam 10 di kampus untuk kumpul studi banding.. Saya belum beres-beres, baru sadarkan diri, dan oh, ini mendadak.

Saya mengeluhkan bagian akhirnya.

Mood saya merosot jatuh. Sepertinya alertness juga masih belum bagus.

“Iya, soalnya Pak A dan Pak B harus kembali ke Jakarta hari ini.”

Oh, oke. Saya mendekap laptop kecil dan beberapa catatan kuliah ka lantai 1 (FYI, kamar saya berada di lantai 2). Ya sudah, sekarang manfaatkan saja waktu untuk belajar.

Setelah dipikir-pikir..

Saya merasa konyol karena harus mengeluh tadi. Di dunia ini memang selalu ada yang namanya kejadian mendadak. Even itu di kedokteran, ada yang namanya emergency case. Super mendadak sehingga harus super cepat ditangani.

Efek alertness kamu yang belum penuh, mungkin?

Satu hipotesis langsung terbayang. Saya menggeleng. Seharusnya saya bisa langsung membuka pintu dengan ramah dan pikiran yang sudah logis. Nanti saat saya menjadi dokter, saya harus selalu siap untuk dibangunkan, jam berapapun saya tidur, seberapapun lelahnya saya, dengan kondisi terbaik untuk menolong pasien.

Ternyata, saya masih harus belajar. Bukan hanya kognitif yang penting, afektif juga. Sangat.

Karena itu menentukan respons kita terhadap setiap kejadian.

Juga.. kedekatan kita dengan Allah. Lho, nyambung gitu? Kalau kita dekat, Allah yang ingatkan untuk berbuat yang terbaik. Dzikir itu menjadi tameng karena sadar setiap kejadian telah diatur dengan sempurna oleh Allah dan setiap respon dinilai secara seksama oleh-Nya.

Saya teringat tilawah saya kemarin yang belum sesuai target.

Mungkin, Allah hendak menegur saya lewat ketukan pintu pagi ini. Astaghfirullaahal’azhiim.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: