Childlike dan Museum


Saya tahu ini tidak penting. Oh, maafkan saya, tapi blog ini memang dibuat untuk menyimpan setiap catatan. Kalian boleh unfollow jika keberatan.

Akhir-akhir ini saya sering terganggu dengan childlike yang kerap muncul dari diri saya. Childlike, sobat, bukan childish. Carilah perbedaan antara keduanya, kalian akan mengerti.

Sebagian karena TK yang berada di samping rumah (baiklah, ini tidak terlalu berpengaruh), sebagian karena saya suka menemani ibu dan keluarga saya yang guru bermain dengan anak-anak. Apakah sifat seperti anak-anak itu menular, ataukah sesuatu yang natural semacam.. bakat?

Rasanya tidak ada hipotesis yang menyatakan bahwa sifat seperti anak-anak adalah suatu bakat, meskipun saya menyukainya. Kamu bisa lebih cepat dekat dengan anak-anak. Itu cukup berharga bagi diri saya. Berteman dengan anak-anak tanpa gengsi.

Hanya saja, ternyata ada beberapa orang yang tidak menyukai ini.

Ah, peduli apa saya? Harusnya saya bisa berkata begitu, kan. Toh saya juga memiliki sifat ‘dewasa’, terutama saat sisi intelektualitas yang harus dibawa (kemudian saya akan ditimpuk, “Mana ada orang dewasa ngaku dewasa, Non.”) Saya, insya’Allah, bisa menempatkan diri. Sungguh.

Lain halnya saat saya merasa nyaman pada kondisi tidak formal, kedua sisi tersebut akan keluar. Tadaa. Perkenalkan manusia yang seharusnya menjadi koleksi museum ini.

Nah, saat pada kondisi non formal ada yang tidak menyukai childlike yang suka menyembul keluar (semacam umbul-umbul atau jambul?), saya jadi bengong sendiri. Waduh. Saya harus menghindari dia, bersembunyi, melompat ke blackhole, atau membawa papan ke mana-mana untuk menutupi diri saat childlike saya sedang kambuh, gitu? Saya bengong, sepenuh hati.

Bagaimanapun, saya pernah (dan masih) bercita-cita menjadi pendongeng atau pengisi suara di film anak-anak. Lumayan kan nanti penjiwaannya. Haha.

Tapi saya memang harus hati-hati bila sedang berada di sekitar orang yang kontraindikasi terhadap childlike. Semacam Tuan atau Nona yang kadar seriusnya menembus atap kosan saya, atau mereka yang tidak bisa melihat sosok aneh cengengesan di depan mereka.

Selebihnya, saya bersyukur masih ada mereka yang bisa menerima makhluk berbakat unik ini di dekatnya.

Mungkin pangeran saya nanti juga akan dengan sabar  dan senang hati menampung gadis museum ini di sisinya.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: