Meningkatkan Kualitas Ayah dan Ibu Masa Depan untuk Indonesia Berdaya


Sumber: http://baktinusabandung.wordpress.com/2013/05/04/meningkatkan-kualitas-ayah-dan-ibu-masa-depan-untuk-indonesia-berdaya/

Oleh : Nur Afifah*

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya,” demikian bunyi salah satu hadits Rasulullah SAW yang sering kita dengar. Terdapat beberapa poin penting yang dapat kita ambil dari hadits ini. Pertama, setiap individu adalah pemimpin, tanpa terkecuali. Kedua, setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan yang ia langsungkan sepanjang hidupnya. Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim tersebut, Rasulullah SAW melanjutkan, “..Seorang imam (penguasa) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang suami adalah pemimpin terhadap keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang pembantu adalah pemimpin terhadap harta majikannya, dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya.” Poin penting terakhir, kepemimpinan mencakup peran masing-masing individu dalam berbagai tatatan masyarakat, dimulai dari keluarga sebagai kelompok terkecil hingga negara.

Sayangnya, tidak semua orang menyadari ketiga hal penting tersebut. Banyak orang yang mengasosiasikan kepemimpinan sebatas dalam jabatan formal suatu organisasi atau institusi. Misalnya, presiden sebagai pimpinan negara, direktur sebagai pimpinan perusahaan, ketua sebagai pimpinan organisasi. Pembatasan tersebut kemudian menghalangi mereka untuk menyadari bahwa pemimpin juga meliputi diri mereka sendiri.

Pemimpin adalah Pengaruh dan Teladan

Kalau begitu, apa pengertian dari pemimpin? Terdapat berbagai definisi mengenai kepemimpinan. Norman Copeland dalam buku Psychology and The Soldier menyatakan bahwa,Kepemimpinan adalah seni perlakuan terhadap manusia. Ini adalah seni memengaruhi sejumlah orang dengan persuasi atau dengan teladan untuk mengikuti serangkaian tindakan.” Berdasarkan pengertian tersebut, kepemimpinan terdiri dari dua hal utama: mempengaruhi dan memberikan teladan untuk mencapai tujuan bersama. Sehingga, seorang pemimpin adalah seseorang yang dapat memberikan pengaruh dan teladan kepada orang-orang di sekitarnya. Sebelum hal ini terjadi, ia perlu membangun terlebih dahulu kualifikasi yang diperlukan di dalam dirinya sendiri. Kualifikasi yang dimaksud mencakup segi kognitif, psikomotor dan afektif yang dibutuhkan sesuai karakteristik domain kepemimpinan masing-masing.

Keluarga Adalah Unit Terkecil Indonesia

Tujuan utama yang perlu dimunculkan dalam kepemimpinan adalah melahirkan kebermanfaatan bagi sesama. Pada hakikatnya kepemimpinan adalah proses dalam mencapai tujuan bersama, sehingga alangkah baik jika tujuan tersebut dapat memberikan sisi positif dalam kehidupan. Dalam konteks negara, setiap proses kepemimpinan harus dapat memberikan manfaat bagi bangsa Indonesia. Jika diibaratkan dengan tubuh manusia, maka sebuah negara yang besar sesungguhnya disusun oleh unit-unit fungsional yang lebih kecil, sebagaimana sel-sel menyusun jaringan, jaringan-jaringan menyusun organ, organ-organ menyusun sistem organ dan berbagai sistem organ mendukung kehidupan seorang manusia. Tidak bisa tidak, setiap bagian dari tubuh seseorang harus berada dalam keadaan baik agar ia dapat dikatakan sehat. Maka, konsep Indonesia berdaya dapat dianalogikan dengan tubuh yang sehat, di mana setiap unit penyusunnya berada dalam keadaan baik.

‘Sel’ atau unit fungsional terkecil yang menyusun negara adalah keluarga. Jika kembali pada hadits Rasulullah SAW yang tercantum sebelumnya, peran kepemimpinan di dalam keluarga tidak hanya terletak pada ayah, tetapi juga ibu, bahkan pengasuh. Selain itu, di dalam keluarga terjadi proses pendidikan dan pembentukan karakter anak-anak yang kelak akan melanjutkan perjuangan membangun Indonesia. Sehingga, kepemimpinan terbaik harus diupayakan dari unit terkecil ini.

Persiapkan Diri untuk Memimpin Keluarga

Pada hakikatnya, setiap laki-laki merupakan calon ayah dan setiap perempuan merupakan calon ibu, terlepas dari keputusan pribadi masing-masing individu untuk membangun keluarga atau tidak. Hal ini didasarkan pada sifat pernikahan yang merupakan bagian dari fitrah (naluri) manusia. Di dalam QS Ar-Ruum ayat 21, Allah SWT berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” Dari pernikahan, melalui proses pembuahan sel telur oleh sperma, hamil dan melahirkan, lahirlah anak-anak yang akan menganugerahkan tanggung jawab baru pada sang laki-laki dan perempuan sebagai ayah dan ibu.

Sayangnya, tidak banyak orang yang memiliki kesadaran untuk mempersiapkan diri untuk menjadi ayah dan ibu yang baik. Dalam sebuah acara bedah buku “Orang Tuanya Manusia”, Munif Chatib mengatakan bahwa setiap orang bersungguh-sungguh belajar untuk menjadi dokter, guru, insinyur, atau teknisi, namun jarang sekali ditemukan mereka yang benar-benar belajar untuk menjadi orang tua. Neno Warisman juga pernah menyatakan kekhawatiran yang sama, dalam sebuah acara televisi beliau menyayangkan bahwa sekarang ini kita sering menjumpai pelatihan-pelatihan tentang pernikahan, namun masih belum banyak yang membahas parenting. Alangkah lebih baik jika sebelum menikah, setiap orang juga mempersiapkan ilmu untuk menjadi orang tua. Untuk menjadi orang tua yang baik diperlukan proses belajar dan pembiasaan yang tidak instan.

Penulis melihat urgensi bagi mahasiswa untuk memperoleh kesadaran serta belajar mempersiapkan diri menjadi orang tua yang baik. Mengapa mahasiswa? Pertama, mahasiswa telah memasuki rentang usia serta kedewasaan yang memungkinkan mereka untuk membangun keluarga, meskipun ada beberapa mahasiswa yang sudah menikah sejak sebelum kuliah. Kedua, mahasiswa memiliki kekhasan berupa intelektualitas serta terbuka untuk mempelajari hal-hal baru. Jika mereka mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua sejak awal, kita analogikan bahwa mereka juga  memasuki akademi ‘keluarga’ di samping akademi profesi mereka masing-masing. Hal ini akan memberikan dampak positif berupa kemampuan membangun masyarakat dalam tatanan yang lebih komprehensif. Bukan sekadar terjun ke masyarakat untuk mengamalkan ilmu di profesi masing-masing, tetapi juga membina masyarakat melalui unit terkecil di mana mereka menjadi pemimpinnya.

Menjadi orang tua merupakan sebuah ‘profesi’ mulia yang tidak memperoleh ganjaran uang, tetapi lebih dari itu, ‘profesi’ ini merupakan salah satu bahan bakar kemajuan suatu peradaban. Dalam buku “Toyota Culture”, tertulis bahwa salah satu rahasia kesuksesan perusahaan Toyota terletak pada perhatiannya yang besar kepada sumber daya manusia. Begitu pula yang diperlukan oleh Indonesia, bangsa yang berdaya sangat ditentukan oleh kualitas generasinya, di mana peran guru-guru peradaban  yang pertama dan utama dipegang oleh orang tua. Megawangi (2007) menyatakan bahwa keluarga dimiliki sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh, dan sosialisasi anak, serta mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik dalam masyarakat. Maka, mempersiapkan diri untuk memimpin keluarga sesuai hadits Rasulullah SAW bukanlah hal yang tabu atau sia-sia untuk dilaksanakan.

Mentoring dan Parenting untuk Ayah Ibu Masa Depan

Dalam sebuah kajian muslimah di MQ FM, Ummu Ghaidah Muthmainah memberikan sebuah pernyataan sederhana yang mengena, “Bagaimana caranya mendidik anak menjadi shalih dan shalihah? Didiklah diri kita sendiri untuk menjadi shalihah.” Pernyataan ini bukannya tidak berdasar, jika kita ulas kembali fungsi kepemimpinan, salah satu hal yang perlu dimiliki ayah dan ibu sebagai pemimpin keluarga adalah keteladanan. Keteladanan merupakan pesan kebaikan yang disampaikan secara selaras melalui perbuatan sehari-hari seseorang, yang kemudian menjadi karakter seseorang. Pembentukan karakter anak nantinya juga akan ditentukan oleh integritas yang terpancar dari orang tua. Oleh karena itu, diperlukan sebuah proses berkala yang dapat mendukung mahasiswa sebagai calon orang tua untuk senantiasa memperbaiki dirinya. Salah satu bentuk kegiatan yang dapat diikuti untuk memperoleh fungsi maintenance perbaikan diri mahasiswa adalah mentoring.

Secara bahasa, mentoring berasal dari kata mentor dalam bahasa Inggris yang berarti pembimbing. Pada dasarnya mentoring merupakan aktivitas yang dilakukan oleh seorang mentor terhadap mentee untuk membantu mentee dalam melakukan pekerjaannya dengan efektif dan/atau kemajuan dalam karir dan keterampilannya. Pada tingkat organisasi, mentoring merupakan alat yang digunakan untuk memelihara dan mengembangkan anggota atau karyawannya. Para  mentor mendemonstrasikan, menerangkan dan mencontohkan, sedangkan mentee akan mengamati, bertanya dan mempelajari. Mentoring yang solid memiliki beberapa unsur, yaitu proses belajar yang terprogram, proses belajar yang didahului oleh inspirasi dan dilanjutkan aksi, kegiatan diskusi serta kerja sama. Salah satu aplikasi konsep mentoring yang banyak dipraktikkan di Indonesia adalah mentoring agama Islam. Di FK UNPAD tempat penulis belajar, mentoring agama Islam sendiri telah menjadi program kemahasiswaan yang dilaksanakan secara terprogram dan kontinyu. Pada prinsipnya, mentoring agama Islam diadakan untuk membina mahasiswa muslim menjadi seorang manusia yang dekat dengan Allah dan selalu termotivasi menjadi manusia yang bermanfaat sesuai sabda Rasulullah SAW. Setiap enam hingga sebelas mahasiswa ditempatkan dalam satu kelompok yang sama dengan satu orang mentor. Pertemuan dilakukan satu kali setiap pekan selama beberapa jam. Secara mendasar, berikut beberapa agenda yang ada setiap kali pertemuan:

  1. Membuka pertemuan dengan do’a,
  2. setiap orang membaca Al Qur’an serta artinya, setelah itu diikuti dengan tadabbur (merenungi) beberapa ayat Al Qur’an tersebut,
  3. secara bergiliran, salah satu anggota akan menyampaikan taushiah (kisah yang mengandung hikmah dan nasihat),
  4. sesi update kabar dari setiap anggota dengan konten berupa kondisi fisik, keluarga, akademik, ibadah, keuangan dan organisasi yang diikuti,
  5. sesi materi dari mentor dengan metode penyampaian materi yang disesuaikan dengan kondisi kelompok,
  6. sesi diskusi,
  7. menutup pertemuan dengan do’a.

Selain itu, masing-masing mentor diharapkan memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan setiap mentee-nya sehingga setiap muslim dapat berkembang sesuai potensi mereka.

Di samping proses maintenance (penjagaan) mahasiswa untuk senantiasa mengembangkan karakter yang baik dalam dirinya, diperlukan juga proses upgrading keilmuan mengenai karakteristik, pola pengasuhan dan pendidikan anak. Orang tua adalah pendidik utama anak di rumah, tempat anak pertama kali belajar secara alami sebelum memasuki sekolah. Ayah dan ibu mengajarkan berbagai hal tentang kehidupan melalui ucapan, sikap dan perilaku yang disaksikan anak-anak. Rumah yang berkualitas akan melahirkan anak-anak berkualitas. Kualitas orang tua disokong oleh proses pendidikan dan pelatihan secara kontinyu untuk mengembangkan berbagai potensi kebaikan mereka sebagai ayah dan ibu. Semakin dini seseorang menjalani proses pembelajaran menjadi orang tua yang berkualitas, kesempatan Indonesia untuk memiliki generasi yang berkualitas semakin besar. Jika orang tua terlambat memulai, mereka bisa kehilangan fase-fase berharga pada kehidupan awal seorang anak. Saat mengikuti kegiatan bedah buku Orang Tuanya Manusia yang penulis ikuti, seorang wanita memberikan tanggapan saat sesi tanya jawab kepada Munif Chatib, “Bapak, saya bersyukur bisa memperoleh pemahaman baru tentang bagaimana mengasuh anak. Tapi bagaimana ya Pak, anak saya sekarang sudah memasuki SMP..” Wanita tersebut kemudian menangis, menyadari kehilangan momen-momen berharga untuk memberikan pendidikan yang baik pada tahun-tahun awal kehidupan anaknya. Penulis, sebagai satu-satunya mahasiswa di sana, tertegun dan memahami betapa pentingnya memulai proses belajar menjadi orang tua jauh sebelum penulis memasuki jenjang pernikahan dan memiliki anak.

Pertanyaannya, bagaimana proses upgrading ini bisa dilaksanakan? Sebenarnya, saat ini para pemerhati pendidikan anak mulai merintis pelbagai fasilitas untuk mengedukasi masyarakat mengenai parenting, contohnya seminar, program televisi, website dan buku. Di tengah-tengah kalangan mahasiswa, mulai muncul beberapa pihak yang concern untuk memulai pembelajaran tentang parenting. Secara personal, penulis memulainya dengan membuat daftar bacaan yang dapat menjadi sarana upgrading, di antaranya psikologi perkembangan anak, ilmu nutrisi serta ilmu pengasuhan dan pendidikan anak. Salah satu teman penulis membuat sebuah blog yang khusus membahas parenting dengan bahasa yang mudah dan tampilan yang menarik. DKM (Dewan Kepengurusan Masjid) Asy-Syifaa’ RSHS yang beranggotakan kakak kelas penulis yang sedang menjalankan program koasistensi baru saja mengadakan seminar seputar pernikahan dan parenting. Penulis juga berpikir bahwa proses upgrading ini juga dapat dititipkan dalam salah satu materi mentoring agama Islam. Namun, langkah pertama untuk memulai proses upgrading dalam cakupan luas adalah dengan membangun kesadaran mahasiswa tentang pentingnya proses itu sendiri. Berbagi kesadaran ini bisa dimulai dengan bercerita kepada teman terdekat, berbagi pikiran melalui tulisan, serta mengadakan lebih banyak acara bertema parenting untuk memberikan paparan kepada mahasiswa. Apabila setiap mahasiswa telah menyadari urgensinya, kesadaran itu akan memotivasi mereka dalam merancang program upgrading bagi diri mereka sendiri, memanfaatkan setiap fasilitas yang ada, bahkan ikut serta memfasilitasi teman-teman yang lain untuk memperoleh kesadaran. Gelombang peradaban dimulai.

Memulai untuk Menyelesaikan

Penulis menyadari bahwa mendorong kesadaran untuk meningkatkan kualitas ayah dan ibu masa depan sejak fase perkuliahan tidak dapat terwujud dengan instan. Namun seperti yang kita ketahui bersama, “Kunci untuk menyelesaikan sesuatu adalah dengan memulainya.”

Referensi:

  1. http://www.dakwatuna.com/2009/06/2763/pemimpin-dan-pimpinan/#ixzz2KA6mKGnZ
  2. http://kepemimpinan-fisipuh.blogspot.com/2009/03/definisi-kepemimpinan.html
  3. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/51852/BAB%20II%20Tinjauan%20Pustaka_%20I11rha.pdf?sequence=5
  4. http://www.pendidikankarakter.com/proses-pembentukan-karakter-pada-anak/
  5. http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2187550-pengertian-mentoring/#ixzz2KBM6StiY
  6. http://www.kapmipidie.org/2012/02/apa-itu-mentoring-kawan.html
  7. http://mentoringblog.wordpress.com/2009/06/11/mentoring-as-a-process-not-a-product/
  8. http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/02/andai-anak-bisa-memilih-orang-tua/

*Saat ini, Nur Afifah tengah menjalani aktivitas sebagai mahasiswa Semester VI Program Studi Pendidikan Dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Esai “Meningkatkan Kualitas Ayah dan Ibu Masa Depan untuk Indonesia Berdaya” dibuat untuk memenuhi persyaratan seleksi BAKTI NUSA III pada tahun 2013.

Apabila ingin mengutip isi esai, harap cantumkan sumber referensi sebagai bentuk apresiasi terhadap penulis sekaligus menghindari praktik plagiarisme.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: