Menarik, What?


“Menurut lo, laki-laki yang menarik itu seperti apa?”

Pertanyaan iseng itu terlontar suatu ketika.

Ya ampun, dikira magnet kali ya, menarik. Haha.

Aku hanya tertawa kecil, malas menjawab.

Tapi teman bicaraku tidak menyerah. Dia perempuan kok, tenang saja. Jadi bukan seorang berkromosom XY yang sedang menggali sudut pandangku yang sering agak tak biasa. Aman.

“Hm?”

Ham hem ham hem. Aku terkikik geli sendiri. Wajahnya tidak lepas dari raut membujuk. Baiklah, Nona manis.

“Aku nggak mau ah ngira-ngira si A menarik, atau si B menarik. Main hati lagi, Neng. Capek juga kali, kan mau ngejaga hati sampai boleh merasa nyaman atas perasaan yang muncul.”

Teman bicaraku mencibir.

“Ribet deh ngomong sama lo.”

Aku nyengir. Tanganku bergerak menjawil pipinya.

“Ih ngambek. Bukan gitu Nona manis, aku kan juga manusia, pasti pernah juga lah ada rasa suka yang muncul. Tapi kalau aku membenarkan itu, aku meneruskan itu, nanti susah banget buat ngejaga hati. Bukannya nggak boleh suka sama orang, tapi konsekuensi kalau kita berlarut dengan itu kan besar, nanti jadi banyak mikirin, jadi pengen merhatiin, jadi mau ngertiin tralalala. Padahal Allah belum ngizinin kita kayak gitu sebelum ada ikatan yang halal. Nah, menilai orang menarik atau nggak jadinya nanti main rasa, main hati, capek. Maksud aku, kalau ngasosiasiin sama orangnya, nantinya jadi ada harapan, padahal angan-angan panjang nantinya jadi salah satu langkah syaithan ngalahin kita.”

“Aaaaa, kan gue juga nggak nanya lo suka sama siapa. Gue juga nggak nyuruh lo pacaran, gue juga nggak suka kok. Oke, gue ganti pertanyaannya. Orang kayak apa yang lo pengen dia jadi suami lo?”

Gubrak.

“Rahasiaaaaa.”

“Woy, pelit banget sih. Kasih tahu dikit kenapa. Gue kan lagi nyari referensi. Pengen nge-setting, nanti gue juga maunya sama yang kayak gimana.”

Kali ini aku tertawa lepas.

“Jiah, keren juga temenku yang satu ini. Aku kasih tahu yang general aja ya.. Kalau kecocokan nantinya mah, menurutku, personal sifatnya. Kayak baju kan, nggak semua yang bagus kelihatannya cocok buat kita. Bisa aja pas dipake kesempitan. Nggak enak. Semacam lock and key lah kalau enzim.”

Teman bicaraku mengangguk bersemangat. Akhirnya dia berhasil.

“Oke. Gitu dong, temen gue memang baik.”

“Yaa, hm.. Secara general, saat seseorang datang memintamu, iyakan seorang laki-laki yang dekat dengan Islam. Bukan hanya secara konsep, tapi juga sampai implementasi. Lihat akhlaqnya. Gimana akhlaqnya pada orang-orang terdekat. Ayah, Ibu, Kakak, Adik, Om, Tante, Sepupu, Sahabat, Teman, Guru. Gimana dia menurut tetangga. Gimana dia ke anak-anak. Kamu nggak akan pernah bisa membayangkan menikah dengan seorang laki-laki yang kasar pada anak-anak, kasar ke perempuan, kasar ke ibunya sendiri. Meskipun kamu mengatasnamakan cinta, cinta itu akan jadi cinta yang menyakiti. Cinta itu take and give, bukan berkorban satu pihak atau menzholimi yang lain. Jadi ya, itu, dekat dengan Islam. Dari hati, sampai tingkah laku. Seseorang yang nggak kehilangan semangat untuk meneladani Rasulullah.”

“Hmm.. so sweeet.”

“Gula kali.”

“Eh, permen juga manis lho. Buah juga.”

“Kan mereka memang ada gulanya. Ada sukrosa, ada glukosa, itu kan gula..”

“Fruktosa deh seinget gue..”

“Bla bla bla. Bla bla bla.”

Kemudian obrolan mengalir entah ke mana lagi.

Memang nggak pernah habis kalau berhadapan dengan teman bicara yang punya bakat iseng sejak lahir.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

1 Comment

  1. Shabrina Nida Al Husna

     /  April 13, 2013
    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: