Surat Cinta Fasil Mabim 2012


Untuk Fasil Mabim

Salam keselamatan bagi hati-hati yang cinta berbagi karena Sang Pencipta 🙂

Dulu di awal pertemuan, kita mengakrabkan diri dalam Training of Facilitator (TOF, tahu nggak, kalau di CVS, TOF itu kepanjangannya Tetralogy of Fallot, salah satu kelainan congenital pada jantung anak :p).  Tiga hari untuk tiga bulan, tiga bulan untuk perjuangan panjang adik-adik 2012 yang kita sayangi.

Kita tidak pernah tahu, bisa jadi mereka-mereka yang masih ‘cilik-cilik’ di lingkaran fasil kita, nantinya akan menjadi orang-orang hebat. Peneliti internasional, presiden, dokter WHO, entrepreneur sukses, penulis luar biasa, atau sosok-sosok lain yang tidak ada di bayangan kita sebelumnya.

Si Asep yang kerjanya ngobrol sama Udin kalau lagi kumpul fasil. Si Ema yang kerjanya curhat sambil nangis karena pusing menghadapi kehidupan di FK. Si Yono yang kerjanya main petak umpet sama kakak fasilnya. Si Budi yang kalau nggak tidur pasti ngemil di depan kita. Si Euis yang suka ngebully kakak-kakak fasilnya. Si Dodo yang suka ngumpet di belakang teman-temannya, dieeem aja sepanjang pertemuan. Atau si Ulil yang sepanjang pertemuan kayak lagi siaran radio. Ada aja obrolannya.

Kita tidak pernah tahu kisah hidup apa yang akan mereka hadapi. Yang kita tahu, mereka pernah menjadi bagian dari kehidupan kita selama tiga bulan. Mereka pernah menjadi adik-adik yang kita dampingi sepanjang masa awal adaptasi mereka di FK Unpad.

Ingat kalimat Helen Keller ini? “Manakala kita berusaha sebaik yang kita bisa, kita tak pernah mampu menduga keajaiban apa yang bakal terjadi dalam hidup orang lain.” Itulah yang kita lakukan selama ini. Mengupayakan peran-peran sederhana dengan hati dan pikiran kita, untuk adik-adik fasil kita. Terima kasih Kakak-kakak 🙂

Apalagi ya kesan yang muncul dalam 3 bulan ini? Kalau kita putar ulang.. Pekan-pekan awal mabim itu penuh riweuh yang betapa. Ada kumpul personal, mendengarkan adik-adik bercerita tentang diri mereka. Kemudian, akhir pekan menjadi super padat. Ayo konfirmasi kehadiran untuk kegiatan ini. Yang nggak bisa cari pengganti ya. Lalu kita akan berusaha membujuk teman untuk hadir di hari itu. SMS-SMS jarkom dengan berbagai salam pembuka yang ngawur (sebutlah Salam Cerah Ceria, Salam Matahari, Salam Embun Pagi, Salam Awan, Salam Dahsyat) dan salam penutup yang tidak kalah ngaco (hatur tengkyu, trims, eh, biasa aja ya?) memenuhi HP kita, panjang pula. Kalau belum konfirmasi, dijamin nanti dikejar terus sama Mami atau Tante Fasilnya. Belum assessment yang harus kejar setoran karena diSMS-in terus oleh rekan P&K. Fiuh. Hidup ini indah, ya? Haha.

Di luar itu semua, yakinlah ada catatan kebaikan. Jika balasannya tidak langsung di dunia, mudah-mudahan menjadi kejutan hadiah di akhirat. Adik-adik yang akan mendo’akan kebaikan untuk kita. Segala hal yang kita bagi, siapa tahu, bisa jadi hal yang sangat bermanfaat bagi adik-adik kita. Senang nggak sih bisa menjadi seseorang yang berharga bagi orang lain? Paradoks memberi. Hitung-hitung, kita juga membangun networking dengan sejawat kita yang lain. Kata dokter Jose Rizal, networking itu salah satu kunci keberhasilan lho (nyontek dari talkshow).

Oh ya, tentang pertanyaan, “Siapa kakak fasil terbaik tahun ini?” Setelah melalui perenungan yang panjang dan mendalam (?), jawabannya adalah, “Kalian semua yang terbaik !”

Lina dan Fera (juga Wandi) di fasil 1; Uchin dan Ichsan di fasil 2; Widuri dan Ayu di fasil 3; Dhani dan Lele di fasil 4; Monic dan Acha di fasil 5; Karim dan Anty di fasil 6; Saar dan Rifan di fasil 7; Aisyah dan Keto di fasil 8; Aang dan Alvin di fasil 9; Adin dan Steven di fasil 10; Yaya dan Jihan di fasil 11; Dewi dan Tiwi di fasil 12; Abi dan Elka di fasil 13; Tika dan Ipeh di fasil 14; Abang dan Andre di fasil 15; Adrian dan Putri di fasil 16; Okky dan Ricky di fasil 17; Karina dan Rahman di fasil 18; Rahmia dan Shely di fasil 19; Minyot dan Nami di fasil 20; Mahdy dan Andre di fasil 21; Intan dan Naufal di fasil 22; Ivan dan Dea di fasil 23; Adhi dan Karin di fasil 24; Age dan Devi di fasil 25; Gembong dan Iva di fasil 26; Cici dan Fifah (juga Witri) di fasil 27; Tovan dan Erva di fasil 28; Alya dan Amel di fasil 29; Mbak Put dan Hasanah di fasil 30.

Setiap orang telah menjadi yang terbaik karena telah melakukan yang terbaik. Terlepas dari keberagaman dinamika yang terjadi di kelompok masing-masing.

Oleh, karena itu, penghargaan fasil terbaik diberikan pada kalian semua 🙂 Selamat !

Nah nah, sudah panjang rupanya surat ini. Maafkan Mami kalian yang suka ngoceh ini.

 

Jangan kapok berbagi, ya? Mudah-mudahan kita pun akan menjadi dokter-dokter hebat di masa depan. Tapi bukan artinya menjadi hebat itu baru bisa kita capai saat sudah menjadi dokter. Mulailah dari sekarang. Sekali lagi, Jazakumullah khoiroh katsiron, terima kasih banyak. Bahagia bisa berjuang bersama Kakak-kakak semua :”)

 

Sincerely, Your ‘Little’ Mom and Aunts : Afifah-Astika-Arnova-Dhiny.

 

Fasil Mabiiiiiim… DAHSYAT !

 

p.s. : Tulisan ini sudah saaaaangat lama saya buat. Niatnya, kertas ‘surat cinta’ ini disampaikan kepada semua kakak fasil melalui adik-adik fasil 2012. Namun pada akhirnya tidak semua (bahkan saya penasaran, adakah yang mendapatkannya?) kakak fasil berkesempatan membaca ini langsung. Jadi, saya post di sini saja ya? Oh iya, sebentar lagi OPPEK dan Mabim 2013 ya? Semangat !

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: