Nyastra, Oh, Nyastra?


Suatu hari sobat-segila-nulis menghubungiku lewat twitter (ah ya, aku yakin kami sama-sama lupa nomor hp satu sama lain, kalau media sosial gampang kan, tinggal search nama, follow, selesai. Nggak ada angka-angkaan).

Aku bersorak sendiri. Wow, oke. Bermain imaji lagi. Lantas satu email yang kukenal masuk ke inbox.

Aku membujuk otakku sendiri. Belajar atau nyastra? Keduanya! Yap, haha. Agak kacau, tapi aku rasa dua-duanya sama-sama penting. Lalala.

Akhir-akhir ini aku memikirkan sesuatu. Orang-orang di sekitarku bercerita tentang belajar seakan-akan dia beban. Kalau inget kata-kata Nadhilah, “Gue nggak suka mainstream. ” Sip, aku juga nggak suka.

Helen Keller, sahabat-yang-nggak-pernah-sahabatan (aku hanya membaca biografinya dan merasa klop, haha) menulis begini di salah satu lembar tulisannya,

“Kita harus menjalani pendidikan seperti kita berjalan-jalan di pedesaan, dengan santai, pikiran kita terbuka pada tiap jenis kesan.”

Sepakat.

Ngejalanin pendidikan itu harus dengan hati senang. Kamu suka. Kamu nggak terpaksa. Kamu ngejalanin itu dengan riang dan santai. Ini tentang perspektif sih.

Kembali ke belajar dan nyastra.

(FYI, buku-buku textbook sudah ngantri kok di atas meja Minnie-Mouse biru yang aku taruh di tengah kamar. Insya’Allah aku sapa setelah ini, ya?)

Sekarang aku akan melahap file yang di-attach di email dari sobat-segila-nulis. PDF, lho. Terus kenapa? Keren aja, haha. Artinya dia sudah ngedit dengan sepenuh hati dan memfiksasi semuanya lantas mengedit format word ke PDF.

Selamat datang di dunia imajinasi. Setelah sekian lama.

Setelah sekian lama? Iya, semenjak memasuki kuliah (sudah 3 tahun ya, Nona?), aku kehilangan teman kompakan dalam hal nyastra. Kalau mau ngomongin seni, yang ada, teman-teman fakultasku lebih banyak yang jago musik.

Suara bagus, banyak yang punya. Kemampuan main musik juga.

Tapi nggak ada yang suka bereskperimen dalam menulis. Jarang. Kalaupun ada, tulisannya konkret.

Begitulah. Aku yang (ternyata) masih punya bakat untuk nimbrung di dunia imajinasi, nggak akan menolak jika diminta masuk lagi. Baiklah, kemampuan menulisku mungkin semakin bersifat konkret.

Menulis karya ilmiah. Esai.

Aku juga kehilangan keterampilan berkonotasi atau membuat analogi.

Bahkan saat nyoret-nyoret nulis puisi, bahasanya gitu-gitu aja. Lugas. Jauh dari kumpulan puisi yang suka kubuka di perpustakaan zaman SMA.

Lurus sekali. A ya A. B ya B. Sedih sih, tapi ya sudah, ini bagian dari arah bahasa menulisku, mungkin ya?

Suatu hari di SMP, aku pernah menunjukkan buku kumpulan tulisanku ke guru matematikaku. Beliau hanya mengangguk dan bilang, “Maaf ya, Ibu nggak ngerti yang begitu-begitu.”

Begitu-begitu? Sastra maksudnya. Ya ya, dulu aku sedih, tapi sekarang aku ngerti. Semakin sering pikiran kita terpapar oleh ilmu eksakta, maka ia akan semakin konkret.

Yaa.. Setidaknya, aku masih punya bakat untuk nimbrung di dunia imajinasi. Masih nyambung. Masih megang kunci untuk masuk ke sana. Jadi, itulah yang berkisar di pikiranku sambil memelototi membaca PDF yang mampir ke dalam email.

Habis ini kita bersenang-senang belajar, ya?

Janji. Insya’Allah.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: