Sensor Berbunyi, “Biiip”


Setiap orang punya sensor dalam dirinya sendiri, saat ada sesuatu yang nggak nyaman, sensor itu berbunyi dan membuat dia sadar. Ada yang nggak nyaman tempat, cuaca, kondisi, apapun itu.

Semenjak saya harus bekerja sama dengan teman-teman saya yang laki-laki, sensor semacam itu juga berkembang.

Ummi sering cerita kalau di dunia kerja, mesti hati-hati jaga sikap. Kita memang harus profesional, harus kerja sama, supaya tugas selesai. Tapi jangan sampai ada sesuatu yang berlebihan di luar itu. Berbuat baik iya, harus. Ramah iya, harus. Tapi jangan sampai membuat teman yang lawan jenis itu jadi punya keterlibatan emosi yang berlebihan.

Katakanlah, simpati, tertarik. Apapun itu yang normal sih terjadi antara kromosom XX dan XY, tapi ya nggak sebebas alayum gambreng  gitu juga. Mesti dijaga banget, sesuaiin tempatnya. Kalau mau jatuh cinta, ya sama yang halal. Kalau mau kasih perhatian spesial, ya ke orang yang memang berhak dan boleh dapat itu. Orang tua, kakak, adik. Suami atau istri.

Ini yang beda banget sama apa yang banyak diajarin di film atau novel.

Kayaknya beruntung banget kalau dapat perhatian spesial. Merasa tersanjung. Merasa nggak mau kehilangan. Merasa dia milik saya. Bahkan ada salah satu film Korea yang sepanjang-panjang cerita, kontennya tentang perselingkuhan. Gubrak.

Kita nggak hidup buat diri kita sendiri, lho. Kalau mobil aja mesti dipakai sesuai instruksi pabrik pembuatnya, berarti manusia mesti ngikutin tuntunan Pencipta-nya kan.

Itulah latar belakang sensor saya. Saya ingin hati-hati dalam pergaulan. Islam yang saya cintai mengajarkan saya untuk menjaga diri, bahkan sampai tataran hati. Ada yang namanya tauhid, memurnikan segala hal dalam hidup kita untuk Sang Pencipta. Bahkan itu dalam hal rasa. Cinta.

Kembali ke sensor.

Kalau sensor saya berbunyi, tandanya saya harus lebih hati-hati. Bukan artinya berlebihan merespon juga sih, sayanya cuek aja. Apalagi kalau mau dijulukin ge er, nggak lah. Saya hanya akan lebih hati-hati bersikap, berperilaku.

Kan ingin seperti do’a dalam nama saya, Afifah, wanita yang menjaga kesucian diri.

Siapa sih yang nggak mau dapat perhatian spesial dari Allah? Jauh lebih spesial daripada perhatian dari yang nggak halal buat kita.

Giliranmu untuk memilih sensor.

Biiip.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: