Menjelajah, Juga Pulang


“Apabila Allah mengizinkan kamu menjelajah negeri lain, tanah mana yang ingin kamu sapa?”

“Makkah, Madinah, Palestina. Itu yang utama, karena pahala sholat di sana sangat luar biasa.”

“Oke. Ada lagi, di samping tiga itu?”

“Mesir, tempat sahabat saya menuntut ilmu (dan Universitas Al Azhar Kairo yang pernah saya impikan). Jepang, saya suka sakura. Jerman, saya suka bahasanya. Swiss, saya suka cokelat. Belanda, saya suka tulip dan kisah-kisah orang besar yang justru membuat rancang bangun pemikiran tentang kemerdekaan Indonesia di sana berpuluh tahun yang lalu. Britain, saya penasaran dengan penjaga istananya yang tegar pada pose yang sama apapun yang terjadi. Paris, saya suka pembahasan kemiripan struktur menara Eiffel dengan penyusun tulang di karya Harun Yahya. Itali, saya terpikir iseng mengukur sudut kemiringan menara Pisa dari jauh berdasarkan rumus matematika (yang sudah saya lupa). Tempat-tempat lain yang orang-orangnya jauh lebih tinggi dari saya, tapi saya yakin kami masih tetap bisa berbagi senyum.”

“Oh, banyak sekali?”

“Kan kamu bertanya apa saja yang saya inginkan. Biarkan bisikkan do’a dulu, nanti Allah yang mudahkan.”

“Hm, baiklah. Kelihatannya kamu punya banyak sekali ketertarikan dengan negara-negara lain, tampaknya kamu menyukai mereka. Jadi, kalau kamu boleh memilih, di negara mana kamu ingin tinggal?”

“Indonesia.”

“Oh?”

“Ya, Indonesia. Saya ingin belajar dari tanah-tanah di luar Indonesia, tapi di sini saya menemukan cinta dan cita-cita. Saya menyukai tanah Bugis tempat nenek saya lahir, saya menyenangi tanah Minang tempat kakek saya berasal, saya banyak menjelajah tanah Sunda untuk menuntut ilmu. Allah mengizinkan saya lahir dari seorang muslimah yang istimewa di Indonesia. Saya dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang luar biasa di Indonesia. Saya membangun mimpi dan cita-cita saya bersama Indonesia. Tentu saja, sudut pandang saya terhadap tanah air adalah tanah manapun yang terdapat saudara seIslam saya di sana, tidak ada batas teritorial; identitas iman menyatukan kami. Namun, di negeri inilah saya ingin memberikan kontribusi saya, terhadap bangsa saya, agama saya, dan tentu saja, Pencipta saya.”

“Hm.. Kamu benar.”

“Satu lagi, alasan konyolnya, saya tidak tahan dingin. Di Bandung, Bogor atau Jatinangor saja saya kewalahan, apalagi harus menjumpai banyak musim salju atau gugur. Kalau sekali-sekali, bolehlah.”

: lalu saya merapatkan sweater, beranjak setelah menyelesaikan tulisan ini

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: