Tiga, Dua Puluh


Mungkin aku merindukanmu, mungkin juga tidak.

Mungkin aku masih ingat suaramu, mungkin juga tidak.

Mungkin aku masih ingat rasanya duduk di sampingmu, mungkin juga tidak.

Mungkin aku masih ingat urat-urat wajahmu, mungkin juga tidak.

Aku tidak pernah yakin saat hatiku berkata, “Datanglah.”

Tapi aku juga tidak yakin pernah mendengar hatiku berkata, “Jangan pernah datang.”

Aku sudah akan 20 tahun.

Kau masih ingat ulang tahunku?

Pun aku tahu ulang tahun tidak pernah penting bagimu, tapi, kau masih ingat kapan aku lahir?

Tanganku sudah kebas, tapi aku masih menuliskan ini untukmu.

Sesuatu yang tidak akan pernah kau baca. Aku tahu.

Pertanyaan-pertanyaan yang berlompatan, entah kapan akan kuajukan, entah apa benar-benar akan kuajukan.

Karena saat kau datang, aku hanya terdiam dan berusaha menyimak kata hatiku.

Hening.

Biasanya hening.

Lalu kau pergi.

Aku akan mengangguk, tersenyum masih tak mengerti kata hatiku sendiri.

Aku telah lama membiasakan diri dalam hening.

Diam-diam menyisipkan do’a untukmu.

Tiga tahun sudah semakin jauh. Kau melanggar kebiasaanmu sendiri. Tiga tahun itu sudah jauh.

Atau memang hanya imajinasiku tiga tahun itu ada, jadi kau tidak melanggar apa-apa?

Mungkin ia mengikuti hukum eksponensial.

Aku tidak tahu.

Tidak pernah tahu.

Hanya kau dan Dia yang tahu.

 

Aku akan menjadi gadis yang kuat. Itu yang aku tahu.

 

Tertanda, gadis kecilmu.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: