Konsekuensi


“Ya sudah nikmati saja.”

Aku melotot.

“Tapi sakit kan nggak ada nikmat-nikmatnya.

“Sudah tahu nggak nikmat, masih berani telat makan? Masih mau makannya kacau? Kalau dilaksanain, berarti Fifah siap menikmati.”

Siap menikmati konsekuensi.

Kalau terlewat waktu makan, ya nikmati saja setiap gejala itu, Nur. Sakit kepala, pusing, lemas, mual.

Mau pura-pura kuat juga kalau sudah kambuh, kalah. K.O.

Tubuh nggak bisa bohong. Tubuh kamu, selalu ngajarin kamu untuk tidak berbohong juga.

Yaya benar, lagi.

—–

Hati juga tidak bisa berbohong ya, kan?

Tapi mau hati bagian mana, Nur?

Yang bersih dan penuh cahaya, atau yang gelap dan berkarat?

“Rasa juga konsekuensi.”

Aku paham.

Nai benar.

—–

Hidup penuh dengan konsekuensi, ya?

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: