Cerita Skripsi (3) : Menghormati Guru


Alhamdulillah, judul skripsi yang saya ajukan sudah di-acc oleh kedua dosen pembimbing.

Dosen pembimbing satu saya adalah ibu yang enerjik dan sangat perhatian. Dulu beliau juga pernah menjadi dosen wali saya.

Dosen pembimbing dua saya adalah seorang klinisi yang sistematis dan sangat teliti. Pertemuan kedua tadi dengan beliau lah yang melatarbelakangi tulisan saya kali ini.

Rabu malam saya dijemput ke Tangerang Selatan untuk mengaktifkan e-KTP. Meskipun kemungkinannya kecil, saya berencana untuk bertemu dengan pembimbing dua di RSHS. Saya berangkat dari Serpong pukul 9, kemudian tiba di Pasteur sekitar pukul 12. Saya sudah berdebar-debar, pada pertemuan pertama, pembimbing dua saya mempersilahkan saya datang kapan saja di hari kerja antara pukul 10 hingga 13.

Nah, ini sudah pukul 12, karena travel yang saya tumpangi tidak melewati jalur dekat RSHS, saya harus berjalan lagi cukup jauh. Saya menimbang-nimbang. Ya sudah, sekalian saja. Bismillah.

Setiba di gedung ilmu penyakit dalam, pukul 12.30, saya mengirim pesan singkat bahwa saya sudah berada di lantai 4 IPD, bertanya apakah beliau sedang luang untuk bimbingan.

Saya duduk di depan ruangan beliau. Menunggu.

Duduk dan menunggu adalah daftar aktivitas yang selalu menyambut saya saat berada di sana. Jika dokter-dokter berjalan di hadapan saya, saya akan memberi anggukan sopan sembari tersenyum (entah bagaimana bentuk senyum saya tadi karena kelelahan berjalan).

Tiga menit menuju pukul 13.00, beliau masih belum memberi kabar. Saya mengira-ngira, mungkin beliau sedang sibuk. Rapat. Sehingga tidak bisa membuka pesan di hp beliau.

Agak gontai, saya berjalan keluar dan pamit ke sekretaris departemen yang setia duduk di dekat pintu (memang tugas beliau begitu, menyambut para tamu. Oh ya, saya tamu lho).

Saya berjalan keluar RSHS, menghibur diri, mudah-mudahan kesepakatan judulnya bisa segera juga meskipun tidak bertemu. Supaya saya bisa melanjutkan membuat bab proposal penelitian.

Beberapa menit setelah saya berada di angkutan umum, pembimbing dua saya mengirim pesan, “Ya. Tunggu saya sebentar.”

Oh, oh. Saya mengharapkan sms ini setengah hidup. Saya menyetop angkutan umum untuk turun, setengah berlari kembali ke RSHS, berjalan super cepat untuk kembali ke ruangan beliau.

Lima belas menit. Saat saya sudah berada di dekat pintu departemen, beliau menelepon, “Kamu di mana? Saya tunggu, langsung masuk ke ruangan saya.”

Saya mengangguk, lupa beliau tidak bisa melihat saya. “Baik, Dok.” Tersenyum sekilas ke ibu sekretaris departemen, “Sms saya baru dibalas Bu.” Berjalan. Mengetuk pintu.

Dan tebak, saya super ngos ngosan.

Terengah-engah dengan bahagia. Yah, lumayan, adrenalin dan serotonin sedang janjian rupanya.

“Iya, kamu duduk dulu.”

Saya nyengir (dalam hati. Tentu saja saya tidak berani nyengir di depan pembimbing dua saya).

Lantas kami berbicara. Saya melaporkan kemajuan judul saya (plus latar belakang sejujurnya, tapi beliau meminta saya menyelesaikan bab 1 dan 3. Wow. Subhanallah. Sementara pembimbing saya meminta bab 1 dan 2. Jadi.. saya harus segera menyelesaikan bab 1 sampai 3, haha).

Saya tertawa (dalam hati).

Beliau menyetujui judul yang saya ambil. Meskipun, “Sederhana sekali, ya.” Tapi karena pemilihan judul memang dipegang oleh pembimbing satu, beliau tidak keberatan.

Saya nyengir (dalam hati). Ternyata ide yang saya gali-gali sampai mumet, sangat sederhana.

Baiklah, saya tidak keberatan dengan sederhana.

Saya cinta menjadi sederhana, kalau begitu.

Kemudian, beliau bercerita hal lain pada saya.

“Saya ini orangnya straight.”

Saya mengernyit (tidak dalam hati).

“Straight, Dok?”

Saya mencoba membayangkan aplikasi kata lurus yang dimaksud.

“Maksudnya, straight, konsisten. Karena saya seorang klinisi yang bertanggung jawab terhadap pasien. Di penyakit dalam, kami terdidik dengan ‘keras’, ya demi kepentingan pasien kan. Jadi, perilaku klinisi yang seperti ini juga terbawa saat saya berinteraksi dengan yang lain, dengan mahasiswa. Kamu jangan kaget.”

Beliau tertawa ramah.

Syukurlah, keras di sini artinya disipin, konsisten. Hati seorang dokter tentu saja harus lembut.

“Kamu harus konsisten.  Istiqomah. Kalau kamu sms saya, ‘Dok, saya ada di RSHS,’ artinya kamu memang harus menunggu, kamu harus konsisten dengan apa-apa yang kamu sampaikan ke orang lain. Kalau tidak, nanti kasihan pasien.”

Oh, baiklah, saya mengerti. Mulanya saya khawatir beliau tidak bisa memberikan bimbingan di atas jam 1 siang. Saya salah.

“Baik, Dok.”

“Oh iya, nanti kamu bisa kirim email ke saya, insya’Allah saya baca. Jadi kamu tidak perlu bolak balik.”

Beliau tersenyum.

Saya mengangguk (lega).

Selanjutnya obrolan ringan. Kemudian saya pamit.

—–

Mengapa judulnya ‘Menghormati Guru’?

Pertama, karena itu yang terlintas di pikiran saya. Oke, maafkan saya.

Kedua, karena sejujurnya, setiap kali mendapatkan kesempatan bertemu dengan dosen, saya selalu menyukai momen saat mereka memberikan nasihat. Ada yang berupa teguran, motivasi atau sekadar cerita.

Saya suka semuanya. Mendengarkan cerita-cerita mereka tentang pengalaman di dunia dokter (yang kelak akan saya jalani).

Ada memang, teman-teman yang tidak menyukai ini. Membosankan, ujar mereka.

Tapi, beginilah saya dididik sejak kecil : menghormati guru-guru saya. Mendengarkan nasihat mereka, karena mereka memiliki pemahaman dan pengalaman yang berharga.

Saya menangkap ketulusan dan harapan di balik setiap ucapan yang terlontar.

Meskipun hanya berupa fragmen sekilas, saya mencatatnya baik-baik di dalam benak. Seperti teguran ringan siang ini.

Semoga Allah selalu memberikan rahmat-Nya pada mereka. Aamiin.

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: