Sahabat Sejati (Bukan Lagu)


Menurut Imam Al Ghazali, ada 12 ciri sahabat sejati :

1. Jika kau berbuat baik kepadanya, maka ia juga akan melindungimu;

2. Jika engkau merapatkan ikatan persahabatan dengannya, maka ia akan membalas balik persahabatanmu itu;

3. Jika engkau memerlukan pertolongan darinya, maka ia akan berupaya membantu sesuai dengan kemampuannya;

4. Jika engkau menawarkan berbuat baik kepadanya, maka ia akan menyambut dengan baik;

5. Jika ia memperoleh suatu kebaikan atau bantuan darimu, maka ia akan menghargai kebaikan itu;

6. Jika ia melihat sesuatu yang tidak baik dari dirimu, maka akan berupaya menutupinya;

7. Jika engkau meminta sesuatu bantuan darinya, maka ia akan mengusahakannya dengan sungguh-sungguh;

8. Jika engkau berdiam diri (karena malu untuk meminta), maka ia akan menanyakan kesulitan yang kamu hadapi;

9. Jika bencana datang menimpa dirimu, maka ia akan berbuat sesuatu untuk meringankan kesusahanmu itu;

10. Jika engkau berkata benar kepadanya, niscaya ia akan membenarkanmu;

11. Jika engkau merencanakan sesuatu kebaikan, maka dengan senang hati ia akan membantu rencana itu;

12. Jika kamu berdua sedang berbeda pendapat atau berselisih paham, niscaya ia akan lebih senang mengalah untuk menjaga.

Sumber : http://www.as-salafiyyah.com/2010/11/12-ciri-sahabat-sejati-menurut-imam-al.html

Dari 12, saya sadar belum sepenuhnya 12 poin itu saya miliki. Bukan ekspektasi, tapi obsesi. Kamu berkewajiban memberikan itu pada orang yang mempercayakan kamu menjadi sahabatnya dan itu harus lebih besar daripada ekspektasi kamu untuk menerima. Memang, ada yang bilang bahwa hubungan antara 2 orang itu harus take and give, dua arah. Nggak hanya satu pihak memberi tanpa menerima, atau sebaliknya.

Tapi ya, prinsipnya kan apa yang paling feasible kita ubah adalah keadaan diri kita sendiri, tentang memberi. Sementara menerima, anggaplah itu hadiah..

Bagi saya, kunci hubungan adalah saling percaya. Meskipun saya masih belum sempurna, dia masih belum sempurna, selama kami saling percaya, kami bisa menjalani itu bersama-sama.

Tapi, jika kepercayaan itu hilang.. kadang saya kehilangan kepercayaan diri untuk mempertahankan.. Meski saya akan menunggu dan tetap berdo’a, hingga Allah membukakan lagi hatinya untuk saya. Waktu SMP, dengan kekonyolan dan kekeraskepalaan kami, saya pernah kehilangan kedekatan dengan salah satu sahabat saya. Ini berlangsung hingga beberapa tahun. Kami masih saling menyapa, tapi ya, sekadar menyapa. Kami kehilangan momen menjadi sepasang partner in crime. Kemudian kami lulus SMP, lulus SMA. Suatu hari di masa kuliah, dia menghubungi saya. Dia bercerita banyak, kami saling berkirim tulisan, saya tidak tahu seberapa senangnya saya saat itu. Senang sekali.

Ada yang bilang, seorang introvert itu memerlukan waktu lama untuk berteman. Tapi saat ia sudah menemukan teman, ia akan setia dan loyal terhadap orang itu. Bukan excuse lho, ya.

Akhirnya, dalam hal ini sepertinya saya jadi perempuan. Pernyataan macam apa.

Saya belum sekuat generasi terdahulu, ternyata. Masih jauh.

Persahabatan karena Allah. Persaudaraan karena Allah. Itu yang terindah.

Tapi, kepercayaan memang kunci bagi saya. Manusia sekali, ya?

Ayo Nur, belajar lebih baik lagi.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: