Proposal Hidup: Misi Pertama


Semua berawal dari poster beasiswa di sini.

Sesungguhnya, saya mendaftar bukan karena ingin 800ribu setiap bulan, bukan juga karena para penerima beasiswa-nya yang keren-keren. Mulanya sederhana, saya mendaftar bukan karena ingin beasiswa, tapi tergoda salah satu persyaratan pendaftaran.

Membuat proposal hidup.

Dulu saya pernah gila-gilaan mencoba menulis segala hal semacam proposal hidup, tapi selalu gagal. Teman-teman saya berhasil merumuskan apa yang mereka inginkan, precisely, dengan tulisan rapi yang ditempel di dinding. Tapi saya gagal. Pikiran saya terlalu abstrak. Saya mulai melupakan keinginan ‘menulis’ masa depan saya sendiri, kata orang, itu visualisasi. Katanya, kalau nggak divisualisasikan, orang nggak akan bisa bantu. Kenyataannya, saya belum pernah berhasil menulisnya hingga selesai.

Maka, persyaratan pendaftaran berupa ‘proposal hidup’ tadi menggoda saya lagi.

Saya tertantang. Ayolah, kamu harus menyelesaikan ini. Kamu nggak boleh terus-terusan membiarkan mimpi kamu menjadi onggokan, lama-lama jadi rongsokan. Usia kamu sudah mau 20 tahun.

Saya memutuskan akan mendaftar. Bukan karena nominal beasiswanya, tapi karena persyaratannya. Saya butuh paksaan. Saya butuh alasan untuk mengalihkan pikiran jika saya mulai mau menyerah menulis lagi. “Ayolah, katanya mau daftar.” Mau daftar itu sederhana dan tidak bisa dibantah. Ada deadline-nya pula.

Saya juga suka program-programnya.

Saya pun memulai. Mengaduk-aduk google untuk mencari contoh proposal hidup, wow, ternyata yang menulis bukunya pertama kali namanya Pak Jamil Azzaini. Lalu Nai meminjamkan buku beliau pada saya.

Oke, saya akan menyelesaikan ini.

Saya mengambil buku gambar. Saya suka kertas tanpa garis. Bebas. Pikiran saya bermain bebas, tangan saya menari di atas kertas. Perjuangan yang menguras otak dan perasaan.

Membuka lagi masa lalu saya. Menemukan hal-hal yang membuat saya bertahan menghadapi masa kecil saya. Menyapa hal-hal yang membuat saya jatuh cinta. Memanggil kembali keinginan untuk memeluk mimpi-mimpi saya.

Satu halaman.

Dua halaman.

Pusing.

Diam.

Buku disimpan.

Ingat deadline.

Besoknya buku diambil, menulis lagi.

Bingung.

Diam.

Beralih ke buku lain.

Menulis lagi.

Jenuh.

Menulis lagi.

Kemudian, selesai.. Rasanya lega. Rasanya seperti baru memenangkan juara perlombaan.

Rasanya luar biasa.

Saya tidak tahu apakah saya akan terpilih menjadi salah satu penerima beasiswa yang mereka pilih.

Saya tidak tahu bagaimana komentar Ummi saat membaca tulisan saya. Sejak zaman dahulu kala, saya sering merasa pikiran-pikiran ajaib saya perlu disembunyikan. Tapi saya sudah berusia 20 tahun. Saya harus punya sesuatu. Saya harus memahami apa yang saya cintai dan akan saya perjuangkan, apa potensi saya, di mana hati saya menemukan rumah. Seperti Ummi dan dunia pendidikan. Seperti ikan dan airnya.

Saya tidak tahu apakah tulisan-tulisan saya terlalu sederhana, atau terlaul aneh?

Saya tidak tahu, dan itu tidak masalah.

Tapi saya menebak, kalau setiap orang bisa berjuang di tempat yang benar-benar mereka cintai, dengan sebaik-baik potensi mereka, rasanya pasti jauh lebih luar biasa.

Kamu perlu tahu dengan menuliskannya.

Coba saja.

Selamat agen cahaya, kamu sudah menyelesaikan misi pertamamu.

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: