Izinkan Hidup Mengalir


Memaksa seorang yang pendiam menjadi orang yang cerewet itu rasanya mungkin seperti memaksa seorang yang periang menurunkan kelincahannya.

Memaksa seorang yang serius untuk lebih santai rasanya mungkin seperti memaksa seorang yang hiperaktif untuk menjadi kalem.

Mereka sudah hidup seperti itu selama belasan tahun. Bahkan, mereka merasa lebih hidup dengan menjadi seperti itu.

Tapi, hidup punya sisi lainnya. Kita memerlukan keseimbangan. Kita perlu keseriusan, kita juga butuh kehangatan. Kita perlu ketegasan, kita juga perlu kelembutan. Ada karakteristik yang memang tidak perlu dihilangkan, karena itulah kita. Namun, bukan artinya kita harus stasis dan membiarkan diri kita tidak belajar apa-apa sepanjang usia ini.

Alih-alih memaksa, lebih indah untuk belajar bersama.

Siapa sih yang suka dipaksa? Baiklah, memaksa diri untuk kebaikan memang punya sisi yang baik (apakah saya berputar-putar?), tapi saya lebih menyukai ide belajar bersama.

Seperti saya dan teman sekamar saya dulu di tahun kedua (sengaja tidak saya tulis di sini namanya, hei kamu yang membaca ini, jangan coba-coba meledeknya kalau kita bertemu :p). Saya yang dingin, apa adanya dan memiliki aura serius (ya ampun, tapi tenang saja saya bukan monster) dengan dia yang hangat, perhatian dan memiliki aura kesenangan di manapun dia berada. Awalnya kami mengalami banyak friksi. Saya tidak ingin teritorial pribadi saya diganggu, sedangkan dia menginginkan teman yang perhatian dan bisa diajak berbicara santai. Berhadap-hadapan satu lawan satu seperti memberi tekanan pada saya. Kemudian, kami belajar untuk ‘belajar bersama’. Mulanya kami tidak bisa berbicara langsung, kami hanya bertukar kertas atau pesan singkat (yang isinya panjang, sungguh paradoks) melalui telepon genggam. Kemudian, kami saling menerima. Saya mulai mencoba memahami dia, dia mencoba memahami saya. Kami saling menghargai dan mendukung dengan cara kami sendiri. Pada akhirnya, kami bertukar banyak hal untuk dipelajari.

Saya belajar untuk membebaskan diri tertawa, menjadi lebih perhatian dan lebih santai saat menghadapi orang lain. Dia belajar untuk lebih terorganisir dan fokus pada hal-hal yang harus ditangani dengan seksama.

Meskipun tidak pernah mengatakannya, oke, saya akan menuliskannya, saya bersyukur bisa menjalani ‘belajar bersama’ ini dengan dia. Kami yang paradoks, yang akhirnya menemukan titik temu untuk saling menyeimbangkan diri.

Hidup memang harus dibiarkan mengalir seperti air, tapi saya tidak mengartikannya seperti hidup yang tanpa perencanaan. Mengalir di sini artinya tidak stasis. Kita menjadi sosok-sosok pemberani yang berani menghadapi kelemahan diri, menerimanya dan berupaya mengubahnya menjadi kekuatan.

Hidup memang harus mengalir kalau begitu.

Advertisements
Leave a comment

2 Comments

  1. karena manusia memang makhluk paling cerdas..meski berbeda sejatinya akan mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi termasuk berbagai macam kepribadian manusia 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: