Nak, TV Bukan Sahabatmu, Lho


Jadi, ini adalah kumpulan artikel (yang tidak saya edit karena esok hari masih ada ujian, hehe) mengenai anak-anak dan TV, khususnya anak berusia di bawah 3 tahun. Selamat membaca :’)

 

1. Sumber : http://health.kompas.com/read/2012/01/24/1613483/Di.Bawah.3.Tahun..Anak.Tak.Disarankan.Nonton.TV

KOMPAS.com – Banyak orangtua  mengganggap televisi bisa menjadi “teman” saat anak sendirian. Apalagi, anak-anak terlihat lebih tenang saat ditinggal menonton televisi. Akan tetapi, balita usia kurang dari tiga tahun sebenarnya tidak disarankan menonton televisi.

Mengacu pada penelitian-penelitian, ternyata tayangan televisi berdampak buruk pada kemampuan anak berkonsentrasi. “Ini kaitannya dengan kerja neurotransmiter yang berfungsi untuk meneruskan informasi ke sel-sel otak yang terganggu,” kata Dra.Mayke Tedjasaputra, M.Psi, playterapist dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Selain itu, lanjut Mayke, televisi memberikan stimulus yang sangat kuat, baik melalui gerakan, warna, dan suara. “Kalau anak terbiasa nonton televisi, nantinya jika tidak mendapatkan stimulus yang sama kuatnya bagaimana ia bisa memperhatikan. Ini akan terasa dampaknya saat anak di usia sekolah,” imbuhnya.

Anak balita yang dibiasakan menonton TV juga cenderung tidak bisa membedakan kapan waktu untuk menonton, bermain, atau tidur. Ditambahkan oleh Mayke, dampak negatif tersebut juga dirasakan pada anak yang dibiasakan bermain video games.

Selain pengaruh pada kemampuan kognitif anak, televisi juga bisa merusak kesehatan mata anak. “Otot-otot mata anak terutama yang berusia kurang dari 5 tahun masih lemah,” imbuhnya.

Mayke menyarankan agar orangtua memberikan kegiatan lain pada anak sebagai pengganti waktu menonton TV. “Lebih baik anak dibacakan cerita atau diajak bermain daripada nonton TV,” paparnya.

Untuk anak usia 3 tahun, Mayke menyarankan agar waktu menonton TV dibatasi hanya 30 menit setiap hari. “Bukannya acara tersebut jelek, tapi tetap sesuaikan dengan porsinya,” ujarnya.

Mengenai program televisi khusus anak, Mayke berpendapat bahwa sebaiknya orangtua tetap mendampingi anak saat menonton televisi. “Jelaskan apa-apa yang terlihat di televisi, sehingga anak juga diajak berkomunikasi. Dari sini ia akan belajar mendengarkan, memperhatikan dan menyimak. Ini penting sebagai tonggak saat anak belajar,” katanya.

 

2. Sumber : http://health.kompas.com/read/2011/10/20/11504055/Jauhkan.TV.dari.Anak.Usia.di.Bawah.2.Tahun

KOMPAS.com — Belakangan sejumlah penelitian menunjukkan ada hubungan antara menonton televisi terlalu lama dan penurunan prestasi belajar anak. Baru-baru ini, para ahli dari The American Academy of Pediatrics (AAP) mengimbau para orangtua yang mempunyai anak usia di bawah dua tahun agar menghindari televisi.

Peneliti berkesimpulan, paparan media televisi dapat memberikan efek negatif bagi proses perkembangan otak anak di awal-awal usia pertumbuhannya. Menghindari layar TV dinilai sebagai cara terbaik untuk membantu anak-anak belajar dan berinteraksi.

Berdasarkan hasil survei terungkap, sebanyak 90 persen orangtua mengaku bahwa anak-anak mereka yang berusia di bawah dua tahun telah menonton beberapa bentuk media elektronik. Padahal menurut AAP, kegiatan menonton layar televisi tidak terbukti memberikan manfaat bagi perkembangan otak anak. Bahkan, sejumlah riset menyebutkan bahwa TV justru menimbulkan gangguan tidur di kalangan anak-anak.

Untuk itulah, AAP dalam pernyataan resminya yang akan dipublikasi dalam jurnal  Pediatrics edisi November menyarankan para orangtua agar anak usia di bawah 2 tahun dijauhkan dari tontonan layar televisi.

“Bentuk belajar terbaik untuk anak-anak adalah lewat interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, bukan dengan layar. Waktu bermain yan tidak terstruktur telah terbukti bermanfaat bagi kemampuan berpikir kritis yang tentu akan dibutuhkan anak dalam hidupnya. Oleh sebab itu, inilah waktu terbaik yang harus dihabiskan anak-anak,” kata Dr Ari Brown, spesialis anak, sekaligus peneliti utama dalam riset tersebut.

Brown menambahkan, ketika anak-anak bermain dengan kondisi TV menyala, maka setiap 20 detik mata anak akan bergerak ke layar sehingga anak kehilangan konsentrasi dalam melakukan aktivitas mereka.

Bukan hanya itu saja, menurut Brown, dengan kondisi TV menyala, seorang anak cenderung pasif dan kurang interaksi, akibatnya kemampuan berbicara mereka akan terganggu.

“Bermain lebih baik untuk perkembangan otak anak ketimbang paparan media elektronik. Jika orangtua tidak dapat aktif bermain dengan anak mereka, maka anak yang seharusnya bermain sendiri dengan orang dewasa yang ada di dekatnya,” sarannya.

 

3. Sumber : http://health.kompas.com/read/2010/05/06/08453773/Sering.Nonton.TV..Anak.Bisa.Bodoh

MONTREAL, KOMPAS.com — Semakin lama durasi anak usia di bawah lima tahun (balita) menonton televisi, kondisi kesehatannya semakin terancam. Ada studi yang meneliti 1.300 anak di Inggris yang memiliki tingkat prestasi buruk di sekolah.

Hasilnya, anak itu ketika anak balita (2-4 tahun) terlalu banyak menonton TV, yakni lebih dari 2 jam per hari. Penelitian pertama dilakukan ketika anak-anak itu berusia 2 dan 4 tahun lalu penelitian kedua dilakukan kembali pada anak yang sama ketika mereka berusia 10 tahun.

Anak-anak yang menonton TV terlalu banyak terbukti jarang terlibat kegiatan di kelas dan tingkat pemahaman pada pelajaran Matematika rendah. Linda Pagani dari University of Montreal, yang melakukan penelitian yang diterbitkan di jurnal Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine, menekankan tahap awal masa kanak-kanak adalah masa-masa paling penting bagi perkembangan otak dan pembentukan perilaku.

“Orangtua harus memperbanyak waktu berbicara dan melakukan aktivitas bersama dengan anak pada waktu makan, mandi, atau bermain,” ujarnya. (BBC/LUK)

 

4. Sumber : http://health.kompas.com/read/2013/01/09/14100457/Banyak.Bayi.Rewel.Ditenangkan.TV

Kompas.com – Walau para pakar menyatakan bayi dan anak-anak sebaiknya jangan terlalu lama menonton televisi, tetapi cukup banyak ibu yang memilih tayangan TV untuk menenangkan bayinya yang sedang rewel.

Hasil penelitian menunjukkan, bayi-bayi yang aktif dan dianggap rewel oleh ibunya terpapar tayangan TV lebih banyak dibanding dengan bayi yang lebih anteng.

Banyak sedikitnya bayi menonton TV itu ternyata juga terkait dengan tingkat pendidikan ibunya. Para ibu yang berpendidikan rendah atau kegemukan cenderung membiarkan bayinya menonton TV lebih banyak.

Studi tersebut melibatkan 217 ibu berkulit hitam dan bayinya yang tinggal di wilayah North Carolina, AS. Tim peneliti mendatangi rumah para responden saat bayi berusia 3 bulan, kemudian riwayat kesehatan bayi diikuti sampai berusia 18 bulan.

Bayi berusia 3 bulan dalam penelitian itu rata-rata menonton TV 2,6 jam setiap hari. Di usia setahun, hampir 40 persen bayi menonton TV lebih dari 3 jam setiap hari. Bayi yang lebih rewel menonton lebih lama dibanding bayi yang anteng.

Penelitian sebelumnya menemukan bayi yang rewel beresiko tinggi obesitas di kemudian hari. “Ibu mereka memanfaatkan tayangan TV untuk menenangkan atau menghibur mereka,” tulis peneliti dalam jurnal Pediatrics.

Terlalu banyak menonton TV di usia dini dikhawatirkan akan membentuk kebiasaan sehingga anak lebih jarang bergerak dan beresiko kegemukan. Efek samping buruk lainnya, perkembangan yang lebih lambat di usia prasekolah.

Alih-alih menggunakan tayangan TV, para peneliti menyarankan agar orangtua mencari strategi alternatif untuk menghibur bayi mereka.

The American Academy of Pediatrics menyarankan agar anak berusia kurang dari dua tahun dibatasi waktu menonton TV-nya karena sebanarnya manfaat pendidikannya lebih sedikit dan lebih banyak efek buruknya.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: