“Hei Non, jadi sebenarnya kamu ingin menjadi apa?”

Dia lagi. Kali ini pertanyaannya sangat mengganggu.

“Kenapa malah menatap balik seperti itu? Jawab !”

Mataku jelas-jelas makin melotot. Tidak bisakah dia mengatakannya dengan lebih sopan?

“Aku ingin menjadi dokter.. dan bermain dengan anak-anak.”

“Hah, sudah kuduga. Kamu memang masih saja bodoh. Memang ada hal seperti itu di kamus dunia ini?”

Aku tidak tahan lagi. Tubuhku tegak kali ini, menatap tepat ke dalam matanya.

“Enak saja aku bodoh. Aku sudah menyimpan dua hal itu dalam waktu yang lama, dan kamu tahu, berapa banyak tenaga yang dibutuhkan untuk tidak menghapus mereka dari pikiranku? Aku punya dua hal itu. Aku tidak tahu dunia mendefinisikannya sebagai apa saat ini. Mungkin kalau perlu, aku yang akan melakukannya pertama kali untuk dunia.”

Dia meringis. Gadis di depannya ini memang keras kepala, mungkin begitu pikirnya.

“Apa?” Kali ini aku yang memulai berteriak.

“Ya sudahlah, saya tidak bisa mengerti jalan pikiran gadis bodoh sepertimu sekarang. Lakukan apa yang menurutmu benar. Semoga dunia membuatmu mengerti.”

Serangkaian kalimat terlintas di pikiranku, tapi kali ini tidak kulontarkan hingga ia pergi. Dengan sikapnya yang menyebalkan.

Aku yang akan membuat dunia mengerti. Kamu dengar itu?

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: