Siklus Itu


Siklusnya begini. Beberapa pertanyaan muncul di benak, tidak sekadar muncul, tapi juga berdengung ribut, lalu dia akan rajin bertanya. Mengirim pesan singkat (yang isinya panjang), bertanya personal, bertanya dalam forum, membuka-buka catatan lama, menyusuri daftar isi buku (sayang buku-buku itu tidak memiliki index seperti textbook-nya), membaca.

Pertanyaan itu akan selesai. Lalu muncul yang lainnya. Lantas ia akan kembali rajin bertanya, tentang pertanyaan berbeda.

Ia ingin mereka percaya, ia memang sedang mencari jawaban berupa kebenaran, bukan pembenaran. Ia yakin jalan yang ia pilih benar. Hanya saja, terkadang ia perlu memastikan bahwa cara yang mereka pilihkan juga benar. Matang. Penuh pertimbangan. Dapat dipertanggungjawabkan. Ia perlu memastikan, saat dirinya melaksanakan, ia melaksanakannya dengan ilmu, berdasarkan ilmu, dan prosesnya dalam memeluk ilmu itu memang sedikit berbeda dengan orang lain.

Sedikit lebih lama. Sedikit lebih kritis.

Setelah itu, ia siap berjalan dan berbagi pemahaman pada yang lain.

Lelah? Ia pernah. Bisakah ia berpikir lebih sederhana? Membiarkan semua berjalan dengan damai, tanpa ‘konfrontasi’, jika bisa ia sebut begitu. Bisakah ia tidak memancing kerutan di wajah orang lain saat menerima pertanyaannya? Bisakah ia hanya percaya, lalu dengan sigap menjalankan?

Memang, tidak selamanya ia melakanakan setelah tanda tanya di kepalanya menghilang. Lebih banyak ia mengizinkan dirinya langsung turun sembari bertanya. Lagipula, tidak semua tanda tanya ia pedulikan. Tidak semua hal juga memancing tanda tanyanya.

Maka saat momen-momen siklus itu terjadi, ia berharap ia tidak salah. Mereka tidak memandangnya salah. Ah, sebenarnya ia tidak terlalu memedulikan itu. Ia berharap, Kekasihnya tidak menilai itu sebagai sebuah kesalahan. Kekasihnya akan memudahkan perjalanan dan pencariannya.

Sekarang ia sedang menjalin catatan mimpinya. Sahabat-sahabat semasa SMP dan SMA-nya sudah jauh lebih dulu mendekati mimpi yang mereka sepakati bersama dulu : dunia keilmuan. Semoga Allah meneguhkan langkahnya juga di sana.

Kita tidak perlu membenturkan kebaikan, kan? Semua bisa dijalani bersama-sama, setidaknya untuk saat ini.

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: