Memorabilia


Saya mungkin kangen dengan segerombol teman SMP yang kerjanya saling memompa semangat. Sekalinya ada yang jatuh, semua tangannya terulur, bahkan rebutan untuk menolong.

Sekalinya ada yang ragu-ragu, yang lain mendorong kuat-kuat.

Berkata, “Ini mimpi kita, nggak boleh nyerah di tengah jalan.” Apalagi di awal jalan.

Berujar, “Hafizhoh wannabe itu nggak cuma slogan, yuk targetnya dipenuhi.”

Berteriak, “Ayo, kan mau ke Al Aqsha bareng-bareng. Kamu yang jadi dokternya.”

Saya yang jadi dokternya.

 

Saya mungkin kangen dengan anggota geng liqo’ SMA yang belum pernah rela menerima (minimal menganggap) saya sudah dewasa.

“Adik kecil..” “Adik manis..”

Padahal saya hanya selisih satu atau dua tahun dengan mereka, oke, empat tahun dengan pembina kami. Toh saya juga bingung sisi manisnya itu di mana, kayaknya saya nano-nano. Hehe.

Anggota geng kami yang selalu mengerti dengan caranya masing-masing.

Anggota geng yang sering ngajak ngumpul, yang selalu rajin bawa makanan (sampai-sampai saya pernah bingung ini lagi liqo’ atau lagi piknik dalam masjid ya), yang selalu heboh tapi ajaibnya juga tetap fokus.

Kakak-kakak yang selalu menjadi kakak saya.

 

Saya mungkin kangen dengan mereka semua.

Dengan sisa-sisa kesempatan yang tidak memungkinkan saya ikut berkumpul saat mereka janjian bertemu. Dengan jarak yang terpisah. Dengan kesibukan yang membuat kami terpisah secara kuantitas maupun kualitas.

Mereka tetap berada di bumi yang sama. Di bawah langit yang sama.

Dengan kisah-kisah baru yang mereka torehkan, satu per satu semakin mendekati mimpi-mimpi yang dulu dipresentasikan dengan penuh canda di hadapan kami semua.

Saya yang semakin mendekati dunia dokter yang sesungguhnya, agak terkejut karena dunia dokter ini ternyata jauh lebih abstrak dari yang saya kira, wow, saya harus merancang lebih jauh lagi. Banyak sekali jalan yang bisa saya pilih, tapi belum benar-benar saya pahami.

Saya yang, mungkin, tertinggal dari mereka.

Mungkin hanya perasaan. Tapi perasaan tertinggal ini tidak membuat saya iri apalagi membenci mereka.

Saya menyayangi mereka dengan sepenuh hati saya, dan saya berbahagia menyaksikan mereka perlahan-lahan melompati batu yang lebih besar.

Saya akan selalu mendo’akan mereka. Sembari membenahi diri, menegapkan lagi langkah kaki, menguatkan kembali kepak sayap untuk mensejajarkan diri di sisi mereka.

Mengenal kalian adalah anugerah besar yang Allah berikan pada saya. Selamat berjuang !

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: