Kapal Pecah


Kamar sudah semacam jadi kapal pecah begini, tapi nggak tega, serius, nggak tega ngeberesinnya.

Buku, kertas, di mana-mana. Kaki melangkah sedikit, ada kertas yang memohon-mohon dibaca, pensil yang bisa keluar masuk dari tempat persembunyiannya (niatnya ngajak bercanda mungkin, ya), penghapus yang epitel kulitnya terdeskuamasi.

Semoga hati saya nggak ikut ke di mana-mana juga. Stay here, dear.

Kalau di rumah, saya sudah diteriakin dari ujung ke ujung sama Ummi atau Muthi’ah yang notabenenya sama-sama sangat amat teramat rapi (standar mereka jauh lebih tinggi dari saya, jelas). Wong kamar saya sudah rapi masih dibilang, “Itu kok, di pojok sana masih berantakan.” Hadeuh, kalau otak lagi abstrak, biasanya dunia eksternal kebawa-bawa.

Tapi, saya kangen. Saya kangen diteriakin, cengengesan tanpa beban, dengan masih menggotong buku ke teritorial lain untuk dibaca. Koreksi, saya kangen mereka.

Ayolah, insya’Allah kamu bisa melalui ini. Nikmati saja.

 

Sincerely, saya. Kenangan sebelum UAS kelima (dua lagi di PSSK !). Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

Advertisements
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: