Cerita Skripsi (1) : Hal Baru


Ternyata, mengunjungi tempat-tempat yang baru, yang kamu tidak punya jejak di sana sebelumnya, yang orang-orangnya belum mengenal kamu, itu menyenangkan. Biarin deh telat nyadarnya.

Kalau tidak dipaksa keadaan, sepertinya saya tidak tertarik untuk mencoba. Cenderung memilih membaca buku atau menulis.

Skripsi ‘memaksa’ saya melakukan banyak hal baru.

Pergi sendirian, di Bandung yang tidak saya kenal. Bahkan sampai di dalam gedung RSHS, saya nyasar lebih dari 3 kali (baca: enam kali melewati tempat yang sama pada waktu yang sama) untuk mencari tempat dosen pembimbing saya berada.

Dulu, saya punya prinsip aneh, kalau orang bilang, “Malu bertanya sesat di jalan,” saya berpikir sebaliknya, “Tidak mau bertanya sebelum nyasar.” Selain itu, kemampuan mengingat jalan di otak saya agaknya juga tidak terlalu baik.

Oke, oke. Tidak baik melawan arus seperti itu. Haha, bukan, bukan itu poinnya. Tidak baik membiarkan diri dalam ketidaktahuan, amal saja harus diawali ilmu.

Alhasil, kalau ada survei dari 10 orang ada 2 yang probabilitas nyasar di tempat barunya paling tinggi, saya salah satunya. Saya pernah bolak-balik sendirian di Terminal Kampung Rambutan untuk mencari bus yang akan saya naiki ke Lebak Bulus, pada akhirnya saya bertanya, lalu menertawakan kebodohan, “Tempat itu sudah kamu lewati tadi, Non.” Saya pernah berjalan jauh  di siang hari yang terik sampai ujung komplek saat mau mengunjungi rumah kakak kelas saya, yang notabenenya sudah jauh sekali dari tempat aslinya, jadilah saya berjalan balik, setelah bertanya ke kakak kelas saya lewat telepon. Saya pernah salah naik angkot sampai cukup jauh sepulang perjalanan pertama saya ke sekolah saat SMA. Hari pertama, saya nyasar jauuh sekali, setelah bertanya, saya naik angkot yang sama tapi berlawanan arah, lalu memakai jalur konvensional untuk pulang. Hari kedua, saya tidak salah naik angkot, tapi salah memilih arah angkot, jadilah saya memakan waktu lebih lama untuk tiba di rumah.

Setelah kejadian-kejadian nyasar saya yang akhirnya saya putuskan sudah mencapai rekor, saya pun menuruti peribahasa yang sudah dari zaman baheula dituruti orang-orang, “Malu bertanya sesat di jalan.” Meskipun sebenarnya saya tidak malu, jadi peribahasa itu saya ganti sedikit, “Wajibkan dirimu bertanya kalau kamu tidak tahu.”

Jadi, kejadian nyasar di RSHS sebenarnya sudah pakai prinsip baru saya, tapi ya, kemampuan spasial saya tampaknya belum membaik.

Sebelumnya saya juga menikmati berbagai perjalanan baru saya di Bandung. Dan itulah yang membuat saya terkejut, ternyata saya menikmatinya. Ternyata itu tidak semenakutkan yang saya kira, ternyata menyenangkan. (dan kalian akan bilang, “Ternyata tulisan ini ngaco.”)

Hus hus, pergi sana penakut. Ya sudahlah kalau mau bilang nyasar is my middle name. Tapi apa yang saya dapat jauh lebih banyak. Tidak masalah, toh?

Peralihan dari masa kuliah sampai masa klinis nanti, sepertinya seru saat diisi dengan skripsi. Pertama, akhirnya saya memasuki dunia klinis, Rumah Sakit, bertemu dengan dosen-dosen klinis yang berada di tengah kesibukan profesinya, melihat pasien secara nyata. Meski masih melihat sebagai orang luar, saya mulai mengamati tempat saya yang sesungguhnya nanti.

Masa klinis nanti, saat semua cerita-cerita yang ada di kertas kasus saya saat tutorial akan menjelma nyata.

Kedua, masa-masa kuliah preklinik tampaknya jauh lebih nyaman, jauh lebih mudah. Jadi, saya tidak ingin menyia-nyiakan ini sekarang.

Proses menjalani skripsi membuat saya berpikir banyak, bukan hanya tentang topik skripsi saya, tapi juga segala perjalanan yang mengiringi pembuatan skripsi itu nanti.

Sekarang, selanjutnya, akan ada hal baru yang perlu saya hadapi.

Hal yang dulu enggan saya sentuh. Menjumpai banyak orang. Berbicara secara dewasa. Menjaga sikap saat bertemu dalam suasana formal. Mendatangi tempat-tempat baru dalam keadaan belum tahu apa-apa. Menjelajahi setiap bagian dengan mengabaikan rasa takut. Kalau toh saya grogi, saya bisa mengulang-ulang hafalan saya, berdzikir itu menenangkan hati, kan?

Mungkin, di dunia ini banyak sekali kotak.

Di dalam kotak ada kotak, yang di dalamnya ada kotak, begitu seterusnya. Kalau mau pakai analogi kotak dan katak, katak yang sehat akan selalu berusaha melompati kotaknya, menuju kotak yang selanjutnya.

Nah, selamat menikmati, Nur.

Ya Allah, semoga berkah.

p.s. : Tulisan-tulisan serupa  selanjutnya saya tujukan untuk meng-capture momen yang saya alami. Seru lho bisa me-review kisah-kisah sederhana yang sudah kamu alami.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: