5 cm, Randomly


“Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. Apa pun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apapun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri.. Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa..Keep our dreams alive, and we will survive..”

–Donny Dhirgantoro, 5 cm

Terlepas dari bermacam-macam review novel maupun filmnya, saya menyukai apa yang disampaikan Donny dalam 5 cm.

Saat saya pertama kali membaca novelnya bertahun-tahun yang lalu, maupun saat saya menyaksikan film layar lebarnya beberapa waktu yang lalu.

Karya sastra lahir dari perspektif seseorang, yang kelak akan ditafsirkan kembali oleh bermacam-macam perspektif para penikmatnya. Titik tolak yang tidak pernah saya hilangkan adalah, jangan sampai kita terlupa untuk mengambil hikmah dari karya-karya tersebut.

Jika kisah persahabatan yang membuat saya jatuh hati dengan novel 5 cm, versi filmnya membuat saya jatuh hati dengan pengambilan latar di Gunung Semeru. Jujur, meskipun gunung telah menjadi bagian penting dalam memori saya, saya belum pernah melakukan pendakian seperti itu.

Ada satu pernyataan yang pernah saya temukan di sebuah buku, oh, maafkan, saya lupa siapa.. “Saat seseorang mendaki gunung, sesungguhnya ia tidak sedang menaklukkan alam, alam hanya takluk pada Penciptanya. Apa yang terjadi adalah ia sedang menaklukkan dirinya sendiri.”

Satu lagi kerandoman yang muncul dalam pikiran saya, siapa tahu, seseorang yang spesial nanti akan menemani saya mewujudkan pendakian itu. Pendakian mimpi bersama.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: