Sensitivitas (sebuah kutipan)


Tulisan di bawah ini, sebagian besar adalah kutipan dari seorang ‘kakak’ dari Malaysia. Beliau adalah kakak kelas saya di FK Unpad, saat ini sedang menyelesaikan program dokter mudanya di RSHS. Kami berkenalan saat akan menjalani kepanitiaan OPPEK pada tahun 2011. Kak Duha. Ya Allah, senantiasa ingatkan kami..

—–

Bismillah,

“Tidak semua perkara sunnah itu,

statusnya ‘sunnah biasa-biasa’ juga bagi seorang da’ie,

Ada kalanya seorang da’ie harus menjadikan sesuatu sunnah rasul itu

sebagai kemestian baginya”

“Walaupun solat malam itu hanya sunnah,

tapi harus SANGAT ditekankan bagi seorang da’ie”

Itu adalah sebahagian inti yang saya dapat

daripada program beberapa waktu yang lalu.

Seorang da’ie itu harus lebih menjaga,

Kerana mereka akan diperhati,

Mereka seharusnya dicontohi,

kerana merekalah yang membawa agama Allah..

Sensitivity..

Bergelak ketawa bersama-sama antara lelaki dan perempuan

Yang bukan mahram tampak biasa bagi sesetengah daripada kita

Dan Nampak pelik atau janggal bagi sesetengah yang lain pula..

Di sini, secara khususnya

Saya ingin tekankan tentang pergaulan

Terutamanya pada mereka yang bergelar dai’e

Atau mereka yang mengakui membawa agama Allah SWT..

Seperti yang telah ditulis di atas,

Sebagai daie sedarlah bahawa kita sebenarnya

Diperhatikan oleh kebanyakkan orang,

Walau tanpa kita ketahui..

Cara kita bergaul,

Berkata-kata,

Berjalan,

Bergelak ketawa

Dan sebagainya..

Maka tiada salahnya jika kita mengetatkan sedikit batasan pergaulan

Agar tidak ada pihak yang tersalah faham

Dengan tingkah laku kita..

Tanpa alasan munasabah,

Tak perlulah bergurau senda,

Tak perlulah berborak lama

Dan tak perlulah ‘bersentuhan’

Walaupun kononnya sentuhan itu ‘beralas’..

Dan apabila ada orang yang bukan mahram memegang anda,

Tugas kita di situ bukanlah untuk berdiam diri,

Membenarkan perbuatan itu,

Tapi menerangkan pegangan kita dan alasannya..

Ingatlah,

Islam itu mudah,

Tapi janganlah mengambil mudah

Dan malah mempermudah-mudahkannya..

Bergaullah sambil memberi contoh yang benar!

Satu lagi contoh yang ingin saya kongsikan,

Iaitu di dalam laman web social facebook..

Bergurau dan berhubungan tanpa batasan itu amat mudah sekali..

Dan ‘kononnya’ tampak halal di laman web tersebut..

Atau sengaja ‘dihalalkan’ oleh kebanyakkan daripada kita..

iyalah, bukannya komen atau borak berdua,

public kan, semua boleh lihat..

betul, itu tak dinafikan,

mungkin memang kita bukan berborak soal yang jiwang-jiwang,

main perasaan dan sebagainya,

namun ada keperluankah di situ?

Bukankah islam mengatakan,

Hanya di 3 tempat lelaki dan perempuan

Dibolehkan untuk berkomunikasi?

Kalau gurauan atau perbualan kita itu,

Soal muamalat yakni berjual beli,

Atau kesihatan dan perubatan

Ataupun soal ilmu,

Maka tidak mengapa..

Teruskanlah..

Namun kalau sekadar mengkomen

Atau dengan alasan ingin ‘mengeratkan’ silaturrahim

dengan bertegur sapa,

Maka jauhkanlah..

Kerana Allah mengarahkan kita,

Untuk menghindari..

Moga Allah melindungi hati kita semua

Dari perkara-perkara yang tidak diingini

Daripada berlaku kemudiannya..

wallahualam~

-Kak Duha

—–

Mengenai interaksi antara laki-laki dan perempuan ini, adalah hal yang sensitif. Terutama saat seseorang mulai dewasa dan memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis. Tentu, ini adalah hal yang normal. Bagian dari fitrah seseorang. Tapi tidak sampai di sana, ini adalah fitrah yang harus kita jaga. Ketertarikan dan rasa kasih sayang itu Allah anugerahkan untuk sosok yang telah halal untuk menerimanya. Orang tua, adik kandung, kakak kandung, paman atau bibi kandung dari orang tua (bukan ipar atau tiri), nenek, kakek, saudara sesusuan, serta suami atau istri. Selebihnya, bentuk interaksi berada dalam zona yang perlu dijaga dengan sungguh-sungguh.

Tentu, bukan artinya kita tidak boleh bekerja sama dalam hal kebaikan dengan lawan jenis, itu adalah hal yang baik. Tapi, seperti obrolan dua orang kakak kelas saya di twitter (kalau kalian baca ini, saya ambil kesimpulannya yaa), “Tidak cukup baik, tapi juga harus benar.”

Bagaimana cara mengetahuinya? Pertama, baca referensi utama: Al Qur’an dan Hadits. Kedua, cek hati kita. Itu pun dipengaruhi sensitivitasnya. Kalau apa yang dikatakan Al Qur’an dan Hadits berbeda dengan apa yang dikatakan hati kita, maka pilihlah referensi utama. Karena, bisa jadi hati kita sedang kehilangan koneksinya dengan Sang Maha Bijaksana. Cahaya-Nya hanya menghampiri hati yang bersih dan senantiasa mentaati-Nya

Wallahu a’lam bish shawab.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: