Cukup Satu Alasan


Ternyata, saya belum tahu apa-apa.

Benar ujarnya, saat ilmu kita hanya antara A dan F, maka kita akan salah memahami Z.

Terpapar belum pernah, prasangka bermain, keputusan yang diambil berputar dalam spektrum yang tidak mencakup permasalahan sesungguhnya.

Ya Allah, aku ingin mendewasa dengan cahaya-Mu.

Sungguh.

—–

Masalah K L M N O T U V W X Y Z terpapar di hadapan.

Ada yang berkisah ketuanya yang belum selesai dengan diri sendiri.

Ada yang berkisah anggotanya jauh dari peduli.

Ada yang berkisah tertekan karena banyak tuntutan.

Ada yang berkisah kejenuhan.

Ada yang berkisah ketidakpercayaan.

Ada yang berkisah kekecewaan.

Ada yang berkisah sabar dan teguh.

Ada yang diam dan tersenyum, menyimpan kisah untuk disampaikan pada-Nya.

 

Minimal, hendaknya kisah-kisah itu disertai tiga hal. Aturannya jelas dalam Al Qur’an. Kesabaran, kebenaran dan kasih sayang.

 

Ada keluh yang akan terlontar. Ada sedih yang akan menyesakkan. Ada amarah yang menyakitkan. Tapi setelah itu, jangan biarkan pembicaraan kita berkisar sia-sia saja, sertakan kesabaran, kebenaran dan kasih sayang.

 

Oh, alangkah banyak ketidaksempurnaan di dunia ini. Alangkah sedih tentu jiwa-jiwa yang menginginkan kesempurnaan. Tapi idealitas itu hendaknya tidak menjadi sandungan untuk mengikhtiarkan yang lebih baik. Jangan biarkan kecewa merasuk tanpa kita berusaha memahami, “Oh, dia pun seorang manusia.”

Bukan, bukan artinya pembenaran. Saya tahu, amat tahu. Tentu tidak boleh juga alasan seperti itu menjadi argumentasi atas stagnansi yang merugikan orang lain. Minimal, itu yang bisa kita lakukan dari diri sendiri. Lapangkan dada, kemudian melangkah lebih tegar.

Minimal, kita memastikan segala lelah kita tidak sia-sia di sini. Maksimal, kelapangan dada itu menjadi pelembut hati mereka yang masih bersikeras dalam sikap negatifnya serta penambah catatan amal kebaikan kita.

 

Oh, alangkah lelah tentu melangkah di jalan yang tidak populer. Bersungguh-sungguh dalam kebaikan. Berlomba-lomba dalam ketaatan. Saling memanggil jiwa untuk kembali pada tuntunan Sang Pencipta. Tapi, beginilah ‘indah’ jalan itu. Agar Allah menilai siapa di antara kita yang paling baik amalnya. Kalaupun tidak berbuah di dunia, semoga Ia anugerahkan di jannah-Nya.

Siapa yang rela memberikan waktunya, pikirannya, jiwanya, kesabarannya untuk menyeru pada diin yang mulia, Allah janjikan pertolongan dan kemenangan sejati di dunia dan akhirat.

Waktu kita yang berharga. Bukankah sangat terasa? Pikiran kita yang penuh variabel-variabel kehidupan. Jiwa kita. Kesabaran yang terus diuji.

Ingatlah jiwa yang mulia, “Saat Allah mencintai seorang hamba, maka akan disibukkan ia dengan kebaikan.”

Surga Allah itu mahal.

 

Oh, alangkah banyak tentu alasan untuk berhenti. Menyerah. Abai dari urusan-urusan kebaikan.

Alasan untuk melupakan bahwa totalitas dan profesionalitas kita adalah bagian ihsan.

Bukan karena kita suka atau tidak melakukan itu, bukan karena orang akan menilai apa jika kita melakukan itu, tapi karena Allah senantiasa mengawasi kita..

Menatap kita penuh cinta, sekaligus cermat tanpa cela.

 

Tentu. Tentu saja, kita tidak pernah bisa sendiri melakukannya.

Tidak bisa disebut sebuah rumah, batu bata yang tergeletak sendirian di satu tempat.

Mari kita saling menjaga. Mengingatkan. Mendo’akan.

Agar Allah meridhoi setiap masa yang berlalu dalam kehidupan kita.

—–

Apa yang saya ketahui, masih sangat dangkal.

Mendo’akan dari jauh, saudara-saudara saya yang berjuang di manapun mereka berada.

Tidak hanya di FK Unpad. Tidak hanya di Unpad. Tidak hanya di Jawa Barat. Tidak hanya di Indonesia. Tidak hanya di seluruh dunia. Tidak hanya sekarang.

Pun diri ini adalah partikel kecil dari sejarah yang panjang, semoga Allah mengizinkan saya menjadi yang terbaik sebagai saya di mata-Nya.

Aamiin.

 

Cukup satu alasan untuk bertahan dalam kebenaran : karena Allah.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: