Burung yang Lupa


Adakah kemungkinan suatu hari seekor burung lupa cara terbang?

Ia lupa untuk pergi, bahkan lupa dirinya ada di sarang.

Ia lupa siapa dirinya. Ia lupa bahwa ia bukan satu-satunya burung di dunia ini.

Apakah ada kemungkinan bahwa kemungkinan itu ada?

Rasanya kebas. Bertengger dengan bodoh di reranting rapuh, menatap kosong langit yang penuh kehidupan sesamanya.

Bukan matanya yang buta, tapi mata hatinya.

Eh, apakah burung punya hati yang bermata?

Tidak tahu.

Saya tidak bisa berbahasa burung.

Sepertinya kita harus berteriak kencang, atau jika masih gagal juga, mengibaskan tangan dengan heboh di depan mata kepala burung itu supaya dia menjelajahi langit.

Rasanya kebas.

Menjadi sosok yang lupa tentang siapa dia. Atau lupa bagaimana menjadi dirinya.

Kira-kira begitulah kalau memang kemungkinannya ada.

Kalau di kartun-kartun sih ada, tapi itu kan kira-kira. Saya tidak bisa berbahasa burung.

Yang saya tahu, burung-burung selalu berdzikir pada Sang Pencipta.

Tentu mereka tak pernah lupa jati dirinya.

Aduh, malu. Jadi, ini analogi untuk manusia?

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: