Skenario, Titik Belajar dan Berpikir Luas (sebuah cerita yang panjang)


Mungkin beberapa sahabat dan kakak-kakak saya sudah melalui ini. Tapi apa salahnya terlambat memulai kebaikan? Lagipula anggapan terlambat itu hanya dari segi komparasi waktu dalam lingkup banyak orang.

—–

Kalau kita pandang sebagai satu kronologis bagi setiap individu, maka langkah-langkah untuk menjadi seseorang yang lebih baik itu adalah bagian dari proses. Setiap proses terjadi sesuai takaran waktu masing-masing.

Nah, karena kita tidak tahu sejatinya skenario terbaik yang Ia tuliskan untuk kita itu seperti apa, maka yang sepatutnya kita lakukan adalah memastikan proses yang kita lalui dipenuhi dengan langkah-langkah yang benar.

Definisi benar pun kembali pada pemahaman dan keyakinan setiap orang. Jika diekstraksi dari referensi paling valid di dunia dan akhirat (baca: Al Qur’an), kebenaran itu adalah segala sesuatu yang bersumber dari Allah. Artinya, mengisi kehidupan dengan langkah yang benar adalah dengan mengikuti panduan Islam dengan sungguh-sungguh.

Kok jadi panjang ya pembukaannya, haha. Agak paradoks nih sama selanjutnya.. sabar ya teman-teman yang membaca, ini memang latar belakang pemikiran untuk isi tulisan saya yang selanjutnya, kok =)

—–

Jadi, menjadi seseorang yang lebih baik adalah sesuatu yang alamiah bagi setiap orang, kecuali saat orang itu menolak untuk menjalani proses itu. Karena hakikat hati mencintai kebaikan.

Nah, pertanyaan mudahnya, “Apa kekurangan yang ingin kamu perbaiki sekarang?”

—–

Setiap orang punya kelemahan sebagai satu ‘titik potensial’ yang bisa memberikan berbagai perubahan dalam diri, lebih jauh lagi, dalam kehidupan.

Pertanyaannya adalah, seperti apa respon mereka dalam menghadapi titik itu. Mau ngeluh kah. Mau memberi pemakluman kah. Mau pasrah aja kah. Mau menjadikan titik itu kambing hitamkah untuk segala penderitaan yang muncul dalam hidup mereka.

Semakin negatif respon yang muncul, insya’Allah semakin negatif pula perubahan itu terjadi. Kalau toh internal diri itu tidak berubah, sejatinya keadaan eksternal diri selalu berubah. Misalnya, semakin dewasa usia seseorang, tanggung jawabnya akan semakin besar. Kalau toh suatu keadaan tanpa perubahan internal diri  masih ‘baik-baik’ saja untuk menghadapi tantangan kehidupan yang sekarang, belum tentu besok, bulan depan, tahun depan, puluhan tahun ke depan, apakah stagnansi itu masih bisa menimbulkan keadaan ‘baik-baik’ saja.

Jadi, pilihannya jelas, perubahan ke arah yang lebih baik itu perlu. Karena keadaan yang harus kita hadapi selalu berubah, katanya, semakin tinggi suatu pohon, semakin kuat angin yang menerpanya.

Sebaliknya, semakin positif respon yang muncul, insya’Allah semakin positif perubahan itu terjadi.

Saya lebih suka menyebut kelemahan itu sebagai ‘titik pembelajaran’.

—–

Nah, kembali lagi pada paradoks tulisan -___-

Belum jadi-jadi nih ceritanya. Tadi itu hadiah buat teman-teman ya karena sudah membaca tulisan ini. Nasihat juga untuk diri saya :’)

Jadi, saya sedang terusik dengan yang namanya ‘self-centered’.

Sebagai seseorang yang dominan introvert, akhir-akhir ini saya merasa terlalu banyak terseret ke dalam diri sendiri (bayangkanlah itu seperti apa, kayaknya orang ekstrovert akan bingung seribu bahasa :p).

Bukan artinya jadi anti sosial, tapi itu adalah salah satu cara untuk mencari solusi melalui komunikasi dengan diri sendiri.

Tapi yaa, kalau di titik yang berlebihan, nggak bagus juga kan.

Alhamdulillah Allah mengirimkan sahabat-sahabat yang setia menasihati saya. Pernah juga sih saya tulis di Inhale :

Kalau kata Kak Ii, “Coba kamu banyakin shilaturrahim.” Kalau kata Kak Minda, “Fifah harus tahu dunia luar FK.”

Kalau kata Teh Alvi, “Introvert memang memandang dirinya sendiri sama luasnya seperti ekstrovert memandang dunia luar, tapi, setidaknya, orang-orang yang nggak self-centered itu bisa bermanfaat lebih besar buat orang lain.”

Kalau kata Teh Juhe, “Belajar sungguh-sungguh dan mencintai apa yang Allah anugerahkan untuk Fifah, ya.”

Ada beberapa tambahan yang ingin saya tulis lagi :

Pusfa : “Nur, kalau kita mau memikirkan kekurangan diri sendiri, ya nggak akan selesai-selesai. Coba alihkan waktu dan pikiran kita untuk memikirkan orang lain, insya’Allah jauh lebih bermanfaat.”

Kak Ii : “Fah, saat kita merelakan waktu kita untuk membantu menyelesaikan masalah orang lain, insya’Allah kita akan mendapat kemudahan dan pertolongan untuk urusan-urusan kita.”

Begitulah.

Memerhatikan hak diri sendiri itu baik, tapi jangan sampai jadi jauh mengurangi kesempatan kita untuk menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain.

Keluarga, sahabat, teman, tetangga, atau siapapun itu menunggu karya serta aktualisasi pikir dan ilmu yang kita miliki.

Kalau tidak begitu, bisa-bisa kamu hanya menjadi genangan air yang terdiam di satu tempat dan menjadi genangan penyakit.

Mengalirlah, meskipun kamu tahu masih ada kekurangan diri yang harus diperbaiki. Justru saat mengalir itu, insya’Allah ada pelajaran-pelajaran lain yang bisa kamu ambil. Mengalirlah, meskipun kamu tahu jalan yang akan kamu lalui tidak selamanya mudah.

Kesempurnaan itu bukan tentang hasil, tapi tentang proses :’)

—–

Mau jadi orang yang mikirnya luas.. Jadi dewasa dan semangat bermanfaatnya nggak luntur, nggak self-centered :’)

Hamba Allah yang bermanfaat bagi insan lainnya. Insya’Allah.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: