Salam Kenal, Selamat Jalan..


Prolog

Bagaimana rasanya saat hatimu menghangat membaca tulisan seseorang yang baru kau kenal namanya,

hatimu berujar jujur bahwa kalian akan bersahabat dengan baik,

dan orang itu adalah orang yang baru saja kembali ke sisi-Nya?

Meninggalkan segala kefanaan yang ada di mayapada.

Kedekatan yang tak dapat dijelaskan.

Aku menyerah mendefinisikannya.

Aku.. bahkan tidak pernah mengenal sang penulis sebelumnya.

Ya Allah, terimalah ia di sisi-Mu..

Masukkan ia ke dalam jannah-Mu..

Sampaikan salamku padanya,

“Do’akan aku di sini, mudah-mudahan, mudah-mudahan Allah izinkan, saat mengantri di pintu menuju jannah (aamiin yaa Allaah), kita bisa kenalan. Namaku Afifah, Novi..”

——-

Kutipan

http://www.islamedia.web.id/2012/11/duka-ldk-dan-dosen-tak-bernyawa.html?utm_source=islamedia&utm_medium=twitter

Namanya Novilia Lutfiatul usia 19 tahun Mahasiswi Fakultas Kedokteran Undip.Ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengalami kecelakaan maut di daerah Baturaden Purwokerto Ahad 04 November 2012. Bis yang membawa Delegasi FULDFK (Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fak. Kedokteran Indonesia), yang mana Delegasi FULDFK ini terdiri dari perwakilan FK se-Indonesia yang menjadi peserta ANTIBIOTIC (Annual Training For Better Knowledge and Application) 8th yang dihelat di FK UNSOED, tiba-tiba oleng dan tidak bisa dikendalikan. Bis yang membawa puluhan kader calon dokter itu pun menabrak seorang pengendara motor, menyambar mobil isuzu, menyerempet warung serta menabrak gerobak dan pengendara motor berplat merah.

Bukan hanya Novi yang meninggal dunia, temannya Esti Nuha Ilmazakiyah usia 18 tahun pun bernasib sama dengannya. serta empat jiwa lainnya melayang yang terdiri dari supir bis dan warga yang tertabrak bis tersebut.

01 November 2012 sebuah tulisan sempat dipublis disebuah blog pribadi berjudul “DOSEN TAK BERNYAWA” penulisnya tidak lain adalah ukhti Novi. seorang korban kecelakaan maut yang menghembuskan nafas terakhir pada hari Ahad 4 November 2012.

Berikut adalah tulisan terakhir sebelum ia wafat:

Dosen Tak Bernyawa

oleh : Novilia Lutfiatul

“Manusia berawal dari setetes air mani yang hina

Berakhir menjadi seonggok daging yang membusuk

Dan saat ini berada diantara keduanya dengan membawa kotoran kemana-mana”

-Salim A. Fillah- “Dalam Dekapan Ukhuwah”

Kematian  merupakan salah satu topik yang sangat dihindari oleh kebanyakan orang, apalagi kita yang masih muda-muda. Sukar dimulai dan mudah untuk dihentikan. Padahal setiap manusia tak akan pernah tahu waktu kedatangannya. Kematian tak akan memandang umur, tua muda akan mati bila waktunya memang telah tiba.

Setiap kali memasuki ruangan praktikum anatomi jantungku selalu berdesir miris. Seonggok tubuh yang terbujur kaku dengan bentuk yang sudah tak beraturan dan tak “manusiawi” menjadi pemandangan yang selalu ditemui setiap minggunya. Melawan  kodrat alam, dipaksa tak membusuk dengan formalin. Tubuh-tubuh yang dulunya selalu dibanggakan, tegap, gagah, langsing dan sebagainya yang menjadi pemicu dosa bila tak digunakan dalam koridor syariat-Nya.

Untuk melawan rasa takut, hal pertama yang aku perhatikan saat menghadapi cadaver adalah wajahnya. Walaupun tetap bergidik merinding melihat otot-otot wajah yang menegang saat sakaratul maut. Tergambar jelas kesakitan yang dirasakan saat  detik-detik malaikat Izrail menjemput. Bahkan manusia termulia, dengan pengambilan ruh yang benar-benar pelan dan lembut  saja merasakan sakit yang benar-benar sakit. Apalagi kita, yang sadar akan siksa neraka namun tetap rutin berbuat dosa.

Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut.

Seringkali  tak teganya rasanya membuka lapisan demi lapisan  kulit mereka, menarik-narik otot untuk mencari perlekatannya, mengorek-ngorek menemukan pembuluh darah serta syaraf yang letaknya tersembunyi dan lain-lain. “ Ini dulunya juga manusia Nov, sama sepertimu,  maka perlakukanlah dengan baik dan lembut”, ucapku pada diri sendiri.

Perasaan jijik juga sering mendatangi, bersyukur pada Allah yang memberikan rasa lupa pada manusia. Sehingga aku dan teman-teman masih bisa makan walaupun baru saja memegang dan berkutat dengan cadaver menggunakan tangan kosong, setelah cuci tangan tentunya.

Laboratorium anatomi dan seluruh mayat-mayat  didalamnya selalu mengingatkanku akan datangnya kematian yang tak tahu kapan akan menjemputku. Mereka  adalah guru-guruku, guru dunia karena mengajarkan banyak ilmu pengetahuan serta guru akhirat yang menjadi reminder akan kehidupan dunia yang sementara ini.

Mayat-mayat yang tak jelas asal usulnya, tunawisma, preman dengan tato-tato di tubuhnya dan entah siapa itu tak pernah mengharapkan tubuhnya disayat-sayat dan dipotong-potong menjadi media pembelajaran kami. Semasa hidupnya mereka pasti mengharapkan mayatnya kelak diurus sewajarnya. Dimandikan, disholatkan, dikafani, dimakamkan, dan didoakan oleh keluarga. Pantas atau tidak mereka bisa disebut orang-orang yang tidak beruntung.

Salah seorang temanku pernah bertanya “Apa dosa-dosa mereka bisa tergugurkan ya? Secara fisik mereka adalah preman yang tak pernah kita tahu amal ibadahnya, dan dilihat dari niat mereka tak pernah berharap jadi media praktikum.”

“Hanya Allah yang tahu, tugas kitalah selalu berdoa agar dosa-dosa mereka diampuni melalui setiap sentuhan dan perlakuan yang kita berikan pada mereka” ucapku menutup pembicaraan seusai praktikum bebas malam itu.

Ya Allah, siapapun mereka, ampunilah dosa-dosa mereka

Jadikanlah setiap perlakuan yang kami berikan sebagai penggugur dosa mereka

Terimalah setiap amal ibadah mereka semasa hidup dulu

Gantikanlah liang lahat mereka dengan rumah-rumah surga-Mu

Gantilah kain kafan mereka dengan baju-baju kebesaran penghuni surga

Sayangilah mereka

Karena mereka kami mengenal ilmu-ilmu Mu

Karena mereka kami menjadi orang yang bersyukur

Dan karena mereka, kelak kami bisa menolong hamba-hamba Mu

Selamat Jalan Saudariku…

Semoga engkau bahagia bersama-Nya disana

mengenakan baju-baju kebesaran penghuni syurga-Nya…

Amin..

Islamedia

Advertisements
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: